Realita Residivis Anak

ASN Kemenkumham "merendahlah untuk meninggi"
Realita Residivis Anak 07/11/2021 1640 view Hukum id.pinterest.com

Pernahkah terbesit dalam pikiran anda residivis tidak hanya pada orang dewasa melainkan pada anak yang masih di bawah 18 tahun? Hal ini tentu sangat mengejutkan karena jarang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Faktanya residivis tidak hanya pelaku dewasa melainkan pada anak saat masih berusia di bawah 18 tahun.

Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Pengertian residivis adalah sebutan untuk penjahat kambuhan yang melakukan pengulangan tindak pidana serupa.

Fase Krusial

Fenomena munculnya residivis anak tidak terlepas dari kompleksitas dinamika tumbuh kembang anak itu sendiri. Kemampuan anak untuk mengontrol diri sangat dipengaruhi oleh pendekatan orang tua dalam memberikan perhatian dan pengawalan pada proses tumbuh kembang anak.

Lingkungan sekitar anak termasuk lingkungan sekolah adalah pelarian kedua bagi anak untuk mendapatkan perhatian. Anak yang tidak puas dengan kondisi hidupnya secara alami akan beradaptasi untuk memperoleh kepuasan dan rasa nyaman tanpa mempedulikan batasan-batasan terlepas itu baik atau buruk.

Tidak bisa kita pungkiri kemajuan teknologi membuat semua orang tak terkecuali anak mampu mengakses segala informasi dengan mudah. Justru bila tidak bijak menyikapi kondisi ini maka bisa menjadi bencana, tanpa adanya kontrol dalam pemanfaatan kemajuan teknologi bagi anak, otomatis ketiadaan penyaring informasi yang sesuai dengan kondisi anak, sehingga menyebabkan anak leluasa menerima informasi yang tidak seharusnya ia dapatkan, misalnya saja konten kriminal dan pornografi.

Dalam fase-fase inilah proses pembentukan karakter anak dibentuk, terwujud pada pola berfikir dan bersikap dalam menghadapi segala permasalahan. Proses yang bermasalah akan mempengaruhi karakter anak, proses yang baik akan memberikan kemampuan bagi anak mampu memecahkan masalah dengan kontrol diri yang baik, begitu pula sebaliknya.

Realitanya, residivis anak tidak lagi mempedulikan konsekuensi tindakan kriminal yang dilakukan, tidak ada rasa takut dan tidak ada penyesalan berbuat kriminal, tujuan utamanya adalah kepuasan semu, kepuasan sesaat dalam meraih keinginan yang dibutuhkan.

Kelabilan emosi, putus asa, frustasi, rasa tidak puas bahkan iseng adalah contoh faktor pendorong dari dalam diri anak atau bisa disebut faktor internal. Kondisi keluarga, lingkungan dan ekonomi adalah faktor eksternal atau pendukung, dibalut penggunaan narkotika atau minuman beralkohol membuat semuanya berkolaborasi menjadikan residivis anak berbuat nekad ke arah menyimpang.

Adapun jenis tindakan kriminal yang dilakukan residivis anak tidak berbeda jauh dengan kejahatan yang dilakukan orang dewasa diantaranya pencurian, free sex dan penganiayaan.

Beban Stigma

Bukan hal aneh kemunculan sanksi sosial otomatis melekat pada residivis anak. Sanksi ini muncul akibat perilaku anak itu sendiri. Stigma negatif terwujud dalam kekerasan verbal seperti anak nakal, mantan napi dan cap buruk lainnya. Keadaan ini diperparah dengan kondisi residivis anak akan mengalami kesulitan akses dalam memenuhi hak dan kebutuhan dirinya. Misalnya kebutuhan akan pendidikan yang layak, residivis anak sangat sulit memasuki dunia pendidikan karena label yang disandangnya.

Sejatinya beban inilah yang menjadi penentu di kemudian hari residivis anak bisa berubah menjadi insan lebih baik atau tetap terjerumus dalam jerat lingkaran dunia hitam.

Bukan persoalan mudah untuk mengembalikan motivasi di kala seseorang mengalami keterpurukan, apalagi seorang anak, ibarat kapal tanpa nakhoda di tengah lautan, kapal itu hanya akan terombang ambing tanpa arah tujuan.

Upaya untuk merubah perilaku residivis anak dimulai dari mengembalikan kepercayaan diri dan merubah akhlak anak. Mengoptimalkan fungsi keluarga, membangun kehangatan dan kedekatan antara orang tua dan anak. Selayaknya orang tua selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak, oleh karena itu pendekatan orang tua dan anggota keluarga menjadi hal terpenting, tujuannya adalah menciptakan rasa nyaman dan aman bagi anak. Penyaluran segala uneg-uneg memudahkan arah pembinaan anak dapat di ketahui.

Permasalahan yang muncul adalah apabila keluarga sudah tidak peduli lagi dengan anak, keluarga merasa sudah tidak mampu lagi mendidik dan mengarahkan anak, lalu siapa yang harus di andalkan? Tentu saja mengoptimalkan peran serta masyarakat, organisasi sosial dan pemerintah.

Pemuka masyarakat, pemuka agama/adat, psikolog atau orang yang berkompeten dan tentu saja yang sesuai oleh anak, bukan serta merta hanya memanfaatkan orang ahli tetapi tidak bisa memberikan kenyamanan bagi si anak, lebih pada kondisi kecocokan antara anak dengan pendampingnya.

Menambah sarana dan prasana umum yang dapat menyalurkan bakat anak sejak dini sebagai salah satu upaya untuk membekali anak dengan aktifitas bermanfaat untuk mengasah keahlian. Hal ini untuk menutup celah potensi tindakan menyimpang yang akan dilakukan anak.

Tidak adil jika sekiranya kita menganggap lembaga pembinaan gagal dalam melakukan pembinaan residivis anak akibat getah dari rusaknya proses pembinaan dini anak. Ibarat peribahasa karena nila setitik merusak susu sebelanga, jika ada 100 anak didik lalu ada 5 yang menjadi residivis apakah bisa dikatakan pembinaan tersebut gagal?

Sebagai anggota masyarakat wajar bila kita merasa resah akan keberadaan residivis di lingkungan kita, tetapi bukan berarti kita harus mengucilkan mereka, lebih kepada berhati-hati dan mawas diri. Sudah selayaknya kita merasa tertampar dan harus memperhatikan kondisi sekitar kita, turut serta membantu anak-anak yang notabene dilindungi oleh Undang-Undang sebagai generasi penerus bangsa bisa menapaki kehidupan dengan baik dan jauh dari tindak kejahatan atau kriminal.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya