Rasionalisme Kritis Ala Jacques Ellul

Mahasiswa
Rasionalisme Kritis Ala Jacques Ellul 01/08/2023 405 view Lainnya wikipedia

Hampir tak dapat dielakan lagi bahwa saat ini semakin banyak umat manusia yang menggantungkan kehidupannya pada teknologi. Sebagai contoh, seorang pembisnis online akan mengalami kejatuhan taraf hidupnya, seandainya ia memberikan jarak antara pribadinya dengan teknologi. Seorang tukang ojek online yang penghasilannya hanya diharapkan dari hasil ojekannya tentu akan kehilangan hidup jikalau tak bersahabat dengan teknologi. Ataupun berbagai industri yang bersandar pada teknologi, tentu akan mengalami “gulung tikar” seandainya menutup diri dengan teknologi. Kendati demikian teknologi merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Hidup tanpa teknologi ibarat ikan yang hidup di darat.

Di tengah antusiasme manusia terhadap perkembangan teknologi saat ini, fakta yang juga hampir tak dapat dielakan bahwa terdapat begitu banyak hal negatif ikut berkembang dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dalam ruang sosial misalnya, komunikasi interpersonal mengalami degradasi praktis. Sebagai contoh pada kehidupan penulis dalam komunitas. Setiap orang lebih suka berkomunikasi dengan orang jauh, ketimbang bercerita dengan teman duduknya (video call, chattingan, dan telephone). Atau dalam kehidupan keluarga saat ini. Tiap orang lebih suka bermain gadget dibandingkan berkumpul bersama untuk bercerita. Bahkan yang memprihatinkan juga ialah ketika berkumpul bersama tetapi tiap orang memfokuskan dirinya dengan gadget.

Realitas demikian hemat saya amat memperihatinkan. Manusia begitu banyak menghabiskan waktunya dengan gadget dan mengabaikan kehidupan sosial. Berangkat dari realitas ini, penulis berusaha membahas problematik demikian lewat perspektif Jacques Ellul seorang filsuf, teolog dan sosiolog berkebangsaan Prancis. Pemikiran Ellul memang lahir sebelum berkembang pesatnya teknologi. Tetapi pemikirannya masih urgen dengan realitas kehidupan saat ini. Atas dasar demikian penulis akan berusaha membahas permasalahan demikian melalui tiga poin; pertama, menampilkan realitas kehidupan masyarakat teknologis, kedua menampilkan bayang-bayang menakutkan yang akan menimpa kehidupan masyarakat teknologis dan, ketiga menampilkan pemikiran Ellul terkait pentingnya menghidupi rasionalisme kritis di tengah masyarakat teknologis.

Kehidupan Masyarakat Teknologis

Istilah masyarakat teknologis bukan lagi suatu hal yang asing. Istilah ini merupakan hasil perkembangan penafsiran atas istilah technicist society (masyarakat teknis) yang diperkenalkan oleh Jacques Ellul. Walaupun demikian keduanya masih merujuk pada pengertian yang sama, yaitu sama-sama mengacu pada kehidupan umat manusia yang amat dipengaruhi oleh teknologi. Ellul memaparkan salah satu contoh sederhana yang mengindikasikan bahwa masyarakat amat dipengaruhi oleh teknologi, yaitu ketika “masyarakat lebih khawatir kehilangan hp-nya dari pada dompet” (Jacques Ellul;1954). Contoh yang digambarkan Ellul tersebut tampak secara jelas dalam ruang kehidupan penulis. Suatu waktu si A berkelahi dengan temannya si B, hanya karena hp-nya dicabut oleh si B ketika ia sedang mengisi arus hp-nya.

Fakta demikian sungguh memprihatinkan, sebab orang ternyata lebih mencintai produk teknologi ketimbang mencintai sesama. Tindakan tersebut sadar atau tidak, telah secara gamblang menjelaskan bahwa kita merupakan bagian dari masyarakat teknologis. Teknologi yang sejatinya hanya sebagai instrumen yang mempermudah pekerjaan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya ternyata dalam realitasnya semakin ke sini semakin menjadi “senjata yang akan segera memakan tuannya”. Tak dapat dipungkiri bahwa semua sendi kehidupan akan dilahap habis oleh teknologi.

Keberadaan komunikasi interpersonalpun tak dapat ambil luput. Terjadinya modifikasi ruang komunikasi saat ini dari face to face ke serba virtual menjadi momok paling menakutkan. Dunia semakin dipersempit ketika segala sesuatu serba virtual. Jarak tak lagi menjadi hambatan dalam komunikasi, sebab komunikasi telah mendekatkan yang jauh. Tak heran ketika masyarakat teknologis menikmati perkembangan ini dengan segala bentuknya, termasuk merelakan dirinya terlepas dari kehidupan lama.

Bayang-Bayang Menakutkan

Namun sejatinya kenikmatan tersebut telah menampilkan bayang-bayang menakutkan. Tersiarnya berita kematian seorang bocah Sekolah Dasar berinisial HM di Ciamis akibat keseringan bermain gadget menjadi bukti nyata bahwa keadaan saat ini semakin menakutkan (Info.Kata Data.co.id 12/02/2023). Lebih menyayangkannya lagi terjadi di Jawa Timur. Dua pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) mengalami gangguan jiwa lantaran berada pada tingkat kecanduan gadget yang sudah parah. Sampai-samapai keduanya ingin membunuh orang tua yang berusaha melarang mereka untuk menggunakan gadget (Kompas.id 21/01/2023).

Keadaan memprihatinkan ini secara eksplisit menunjukan bahwa teknologi telah menguasi umat manusia. Kehidupan manusia mengalami disrupsi akibat kehadiran teknologi. Teknologi mengubah manusia dari homo socius menjadi I’homme machine-manusia mesin- (Jacques Ellul, 1954). Kondisi demikian menyebabkan orang-orang tak lagi peduli dengan sesamanya. Orang-orang menjadi pribadi anti sosial. Dr. R.L. Sinaulan dalam bukunya “Berpikir Filsafat Menuju Filsafat Ilmu” menyebut keadaan demikian sebagai kemerosotan ahklak (Dr. R.L. Sinaulan,2017;56).

Hal ini sejalan seperti apa yang telah dipikirkan oleh Anthony Giddens bahwa berkembang pesatnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) saat ini, berdampak besar pada akar-akar kehidupan manusia. Kehadiran teknologi tak canggung-canggung akan menghancurkan kehidupan manusia sampai pada akar-akarnya.

Menghidupi Rasionalisme Kritis

Kendati problematik demikian hemat saya membutuhkan usaha keras dalam mengatasinya. Mengambil sikap untuk anti teknologi seperti yang dihidupi oleh segelintir masyarakat saat ini, sejatinya bukan merupakan jalan ke luar yang memerdekakan. Justru dengan bersikap demikian kita akan semakin direndung oleh malapetaka. Kehidupan umat manusia sebagai penyelenggara dalam filsafat eksistensial Heidegger, tentu akan berubah menjadi objek yang terus “dijajah” oleh teknologi. Lantas apa yang mesti kita buat?

Sebagai manusia bijaksana (homo sapiens) yang mempunyai kekuatan akal budi, saya pikir mengkritisi realitas kehidupan saat ini ialah suatu kekuatan besar yang dapat memerdekakan kita. Eksistensi kita sebagai subjek niscaya akan tercapai tatkala mampu mengkritisi setiap perkembangan yang ada. Kritis berarti kita menyadari bahwa teknologi sejatinya mempengaruhi umat manusia. Kritis berarti kita mampu mempertahankan eksistensi kita sebagai subek atau penyelenggara atas segala perkembangan yang ada. Hanya dengan demikianlah kita mampu berkuasa atas teknologi,bukan teknologi yang menguasai kita.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya