Ramadhan dan Momentum Pendidikan Anak

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Ramadhan dan Momentum Pendidikan Anak 22/04/2022 101 view Pendidikan https://binged.it/3jYY6z6

Ramadan selain dikenal sebagai bulan pembakaran dosa dan khilaf bagi orang-orang yang beriman, dikenal juga sebagai bulan tarbiyah atau bulan pendidikan. Harapannya setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, pengalaman spiritual selama bulan puasa itu akan terus berbekas di bulan-bulan berikutnya. Bagi orangtua yang memiliki anak di usia dini sampai remaja, Ramadan bisa juga menjadi momentum yang tepat untuk mendidik putra-putri mereka dengan fondasi keagamaan yang kuat.

Beberapa waktu lalu, saya menyaksikan video di media sosial yang menyuguhkan gambaran beberapa orang anak berlarian karena diusir oleh salah seorang jama'ah karena merasa diganggu saat sedang shalat tetapi di belakang anak-anak membuat gaduh di dalam masjid. Ada pula video viral yang menggambarkan anak-anak tengah bermain trampolin di dalam masjid. Bahkan ada pengurus masjid yang memasang papan pengumuman yang isinya melarang anak-anak ikut ke masjid. Kejadian itu pun menuai beragam tanggapan: ada yang setuju, ada pula yang menyayangkan aksi tersebut. Bagi yang setuju, mereka beralasan bahwa masjid sebagai tempat ibadah seharusnya jauh dari keributan dan senda gurau anak-anak yang bisa mengacaukan kekhusuan dalam menjalankan shalat.

Tidak demikian bagi yang tidak setuju, mereka beralasan bahwa lebih baik anak-anak riuh di dalam masjid daripada mereka bermain di luar dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, misalnya bermain handphone atau berkeliaran di jalanan. Bahkan nabi Muhammad SAW juga tidak melarang cucu-cucunya yang masih kecil untuk ikut ke masjid. Pernah sesekali cucu Rasulullah menaiki punggung beliau saat sujud.

Tanggapan-tanggapan itu tidak semestinya dipertentangkan karena pada dasarnya sama-sama menghendaki kemaslahatan. Maka yang terbaik adalah mencari jalan tengahnya. Sebagai orang dewasa, tentu saya bisa lebih merasa nyaman dan khusu beribadah sholat di masjid yang jauh dari suara jeritan dan tangisan anak-anak. Namun, keriuhan anak-anak ketika berada di masjid tidak bisa dihindarkan.

Lantas, bagaimana sebaiknya agar anak-anak di masjid tidak gaduh? Orangtua perlu berperan di sini yakni mendampingi putra-putri mereka. Ketika orangtua membawa anaknya ke masjid jangan biarkan mereka jauh dari pengawasan orangtua. Dudukkan mereka di samping kita. Ketika mereka mulai membuat gaduh, orangtua harus tanggap untuk menasihati dan menenangkan mereka. Tentu dengan cara yang halus, jangan sampai menggunakan kata-kata yang kasar dan mimik yang menakutkan yang dapat mematikan semangat mereka untuk datang ke masjid. Atau sebelum berangkat ke masjid, anak-anak sudah dinasehati dan membuat kesepakatan untuk tidak membuat gaduh di dalam masjid karena masjid adalah tempat ibadah bukan tempat bermain lari-larian atau sampai untuk berkelahi. Dengan begitu, walaupun kegaduhan dan keriuhan anak-anak tidak bisa dihindarkan, setidaknya keberadaan orangtua di dalam masjid mampu meredam kegaduhan itu.

Sudah menjadi kewajaran bahwa masa kanak-kanak adalah masanya bermain tetapi jangan sampai orangtua larut dengan sikap permisif. Orangtua tetap perlu menjalankan otoritasnya untuk mendidik dan mengarahkan anaknya kepada kebaikan dan kebenaran dengan menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Sesungguhnya keriuhan anak-anak di dalam masjid tidaklah menjadi masalah seandainya bisa diatur dengan baik. Bagaimana caranya? Saya terkesan dengan pemandangan anak-anak di masjid suatu komplek perumahan. Pengurus masjid membuat program kegiatan Ramadhan semacam pesantren kilat yang melibatkan peran anak-anak dan remaja. Program kegiatan untuk anak-anak dan remaja itu meliputi sholat wajib berjama’ah, tadarus al-qur’an, buka puasa bersama, dan sholat tarawih.

Kegiatan yang mereka lakukan sungguh mengena karena anak-anak diberikan peran dan tanggung jawab yang proporsional. Misalnya, saat sebelum tarawih, ada seorang anak yang masih kelas VII SMP sudah diberikan kepercayaan untuk menjadi MC untuk mengumumkan siapa yang akan menjadi imam dan khatib shalat tarawih. Meskipun masih membaca teks dalam penyampaiannya, paling tidak kesempatan itu menjadikan anak tersebut percaya diri dan kelak ketika dia dewasa sudah tidak malu-malu lagi. Sehingga regenerasi akan terus berjalan.

Sungguh memprihatinkan akhir-akhir ini ketika melihat ada beberapa masjid yang hanya diurus oleh orang-orang yang sudah sepuh, tidak ada generasi mudanya. Saya bisa beranggapan bahwa hal itu terjadi karena kekurangan dari pengurus masjid untuk menyiapkan generasi muda sebagai penerusnya. Bisa jadi karena pengurus masjid terlalu sinis dengan keberadaan anak-anak di masjid seperti kasus yang saya kemukakan di awal.

Maka, penting sekali memberikan edukasi kepada anak-anak terutama di bulan suci Ramadhan ini dengan mengadakan serangkaian kegiatan yang positif dengan bimbingan orang dewasa. Sehingga keriuhan yang ada di masjid bukan menjadi masalah tetapi justru membawa manfaat pendidikan. Jika di bulan Ramadhan sudah berjalan maka di bulan-bulan berikutnya masjid akan terus ramai dengan kegiatan yang dipelopori oleh anak-anak dan remaja. Bukankah tujuan dibuat masjid yang menghabiskan dana yang tidak sedikit supaya masyarakat berbondong-bondong datang ke masjid untuk memakmurkannya?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya