Public Discourse: Beasiswa dan Pengabdian

Admin The Columnist
Public Discourse: Beasiswa dan Pengabdian 18/08/2020 1364 view Public Discourse Pxhere.com

Perseteruan antara Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dengan Veronica Koman meramaikan dunia maya belakangan ini. LPDP menilai Veronica mangkir dari kewajibannya kembali ke tanah air setelah studinya selesai dan karena itu, dia diminta mengembalikan dana beasiswa yang telah diterima.

Persoalan semakin rumit karena Veronica menilai bahwa pemulangannya ke Indonesia merupakan upaya sistematis untuk mengkriminalisasi dirinya yang getol membela hak warga Papua. Terlepas dari itu, diskursus tentang perlu tidaknya penerima beasiswa, terutama beasiswa dari negara, kembali ke tanah air kembali mencuat.

Suwanto berpendapat hal itu sebagai kewajiban. Karena itu, penerima beasiswa yang tidak kembali ke tanah air setelah menyelesaikan studinya dianggap sebagai tuna budi. Biar bagaimanapun, uang beasiswa itu diambil dari rakyat, sehingga para penerima beasiswa wajib kembali ke Indonesia demi mengabdikan diri untuk membangun negeri dan menolong rakyat kecil.

Namun tidak demikian dengan Iqbal. Baginya, mengabdi kepada negara itu tidak mesti kembali ke Indonesia. Sebagaimana kasus Veronica Koman yang membela hak-hak warga Papua, menurut Iqbal itu juga merupakan bentuk pengabdian kepada negara. Pun perlu dipahami bahwa negara dan pemerintah merupakan entitas yang berbeda. Karena itu, mengabdi kepada negara juga tidak sama dengan mengabdi kepada pemerintah.

Sebagian kalangan juga beranggapan bahwa Indonesia masih belum siap menerima para alumni beasiswa. Infrastruktur penelitian yang terbatas dan tidak kondusifnya lingkungan akademis di tanah air membuat para alumni kesulitan berkarya sehingga mereka memilih melanjutkan karyanya di negeri orang.

Persoalan balas budi karena beasiswa ini memang tidak sesederhana yang dilihat. Walau hati sangat ingin membangun negeri, tapi jika kondisi serba menyulitkan, maka alumni beasiswa bisa apa?

Kami menunggu pendapat kalian terkait persoalan ini. Tuliskan pendapat kalian pada kolom komentar di bawah.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya