PRT Bukan Asisten Rumah Tangga

Pegiat HAM
PRT Bukan Asisten Rumah Tangga 19/11/2022 59 view Budaya pribadi

Dalam penulisan berita di sejumlah media, masih banyak jurnalis yang menggunakan istilah Asisten Rumah Tangga (ART). Dalam percakapan sehari-hari pun, sebagian masyarakat masih menggunakan istilah ini. Istilah Asisten kerap digunakan sebagai penghalusan dari kata pembantu. Penggunaan istilah Asisten diklaim sebagai lebih sopan dan menjadi bentuk dari menghargai PRT. Istilah Pembantu pada PRT tampak merendahkan dan tidak tepat dalam kehidupan masyarakat modern saat ini.

Arti kata, ejaan, dan contoh penggunaan kata "Asisten" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang bertugas membantu orang lain dalam melaksanakan tugas professional. Misalnya dalam pekerjaan, profesi, dan kedinasan; -- ahli pangkat atau jabatan dosen setingkat di bawah lektor muda (di perguruan tinggi), apoteker, dokter dan sebagainya.

Sementara Asisten Rumah Tangga adalah orang yang bekerja dalam lingkup rumah tangga. Makna kata membantu dan bekerja tentu berbeda. Hal ini bisa dilihat dari Pasal 1 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyebutkan bahwa, ”Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”.

Pekerja atau buruh merupakan bagian dari tenaga kerja.yaitu tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja, di bawah perintah pemberi kerja. Sedangkan menurut Undang–Undang Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 1 angka (3) menyebutkan bahwa, ”Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain ”. Jadi pekerja/buruh adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja di bawah perintah pengusaha/pemberi kerja dengan mendapatkan upah atau imbalan dalam bentuk lain.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pekerja adalah orang yang bekerja kepada seseorang dengan perjanjian tertentu untuk mendapatkan upah dari orang yang mempekerjakan. Ragam profesi pekerja dapat berupa Rumah tangga, Pelayan Toko, Pelayan Rumah Makan, Housekeeping, Cleaning Service, Steward, Kitchen. Ragam pekerjaan dengan sebutan berbeda menurut spesifikasi pekerjaan yang semuanya menjadi satu dikerjakan oleh PRT di lingkungan rumah tangga.

Pekerjaan yang masuk dalam lingkup PRT, antara lain pekerjaan domestik yang mencakup memasak, mencuci, membersihkan, mengasuh, hingga merawat anak dan lansia. Oleh karena itu istilah Asistan mulai diganti dengan kata Pekerja. Penggantian ini dibutuhkan sebagai pengakuan PRT sebagai pekerja. Sebagai pekerja, PRT juga berhak untuk mendapat perlindungan dan lingkungan kerja yang layak seperti upah dan perlakuan pemberi kerja.

Selama ini PRT bekerja tanpa aturan upah dan jam kerja yang jelas. Sehingga sering ditemui PRT yang bekerja dengan upah di bawah standar kebutuhan dan tidak mendapat jaminan keamanan, keselamatan dan kecelakaan kerja (K3). PRT dianggap pekerjaan rendah dan tidak membutuhkan skill sehingga mendapat perlakuan semena-mena. Tidak jarang pula ditemui PRT yang mengalami kekerasan fisik, seperti yang baru-baru ini terjadi.

PRT perlu mendapat perlindungan kuat dari negara karena mayoritas PRT di Indonesia berjenis kelamin perempuan, sehingga mereka juga rentan terkena pelecehan dan kekerasan seksual. Hingga saat ini Indonesia baru memiliki satu peraturan yang secara eksplisit membahas PRT, yakni Permenaker No. 2 Tahun 2015. Hanya saja, peraturan menteri ketenagakerjaan itu dinilai belum cukup kuat. Permenaker soal PRT baru sekedar berfokus pada pengaturan lembaga penyalur PRT saja. Padahal, dalam kenyatannya banyak proses perekrutan PRT yang dilakukan tanpa lewat lembaga penyalur resmi.

Permenaker No. 2 Tahun 2015 juga dinilai tidak memberikan sanksi untuk pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pihak pengguna jasa. Dengan begitu, tidak ada daya paksa bagi pengguna jasa PRT untuk mematuhi peraturan tersebut. Indonesia juga belum meratifikasi Konvensi ILO 189. Sejak tahun 2010 Indonesia sudah meniliki Rancangan Undang-Undang (RUU) yang mengatur perlindungan PRT. RUU PPRT mewajibkan kontrak kerja tertulis antara PRT dan pengguna jasa. Isi kontraknya meliputi waktu kerja, upah minimum, jatah libur, jatah cuti, hingga jumlah anggota keluarga yang akan dilayani. Juga mengenai pemberian jaminan sosial, perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja, hingga mencakup tunjangan kematian. RUU ini juga memberi jaminan perlindungan bagi pemberi kerja.

Konvensi ILO No. 198 Tahun 2011 tentang Pekerjaan yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga. Konvensi ini diperlukan untuk menjamin agar PRT mendapat kondisi kerja layak, sebagaimana pekerja di sektor lainnya. Konvensi ILO ini mengatur berbagai pemenuhan hak PRT secara lebih terperinci dibanding RUU PRT. Seperti soal kompensasi lembur, perlindungan privasi, sampai ketentuan kerjasama antara negara pengirim dan penerima jasa PRT.

Gubernur Provinsi DIY telah mengeluarkan Peraturan Gubernur No.31 Tahun 2010 tentang Pekerja Rumah Tangga yang tujuannya memberikan pengakuan secara hukum terhadap jenis pekerjaan kerumah-tanggaan, memberikan pengakuan bahwa pekerjaan kerumah-tanggaan mempunyai nilai ekonomis dan sosiologis, serta mengatur hubungan kerja yang harmonis, produktif serta menjunjung nilai-nilai moral, kemanusiaan dan kekeluargaan antara PRT dengan pihak-pihak lain.

Dari uraian di atas, jelas terdapat alasan kuat mengapa memilih menggunakan kata 'pekerja' ketimbang 'asisten'. Jadi mulai sekarang kita bisa membiasakan untuk menyebut Pekerja Rumah Tangga bukan Asisten Rumah Tangga. Selain itu, membiasakan diri juga untuk menghargai PRT di rumah kita sebagai pekerja yang mendapat hak kerja berupa jam kerja dan kondiai kerja yang layak. Caranya, mulai dari perkataan ketika meminta PRT melakukan tugas tertentu, tidak bersikap sok kuasa karena merasa sudah memberi upah, tidak menganggap PRT sebagai pembuangan akhir bahan makanan di kulkas dan mendukung pengesahan RUU PPRT karena RUU ini melindungi baik PRT maupun pemberi kerja.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya