Problem Manusia Modern

Problem Manusia Modern 15/05/2023 490 view Lainnya

Zaman modern menjadi babak baru dalam sejarah yang paling aktual. Anthony Giddens (2001) memahami modernitas sebagai keberhasilan meruntuhkan tiang peradaban tradisional, namun mempunyai bentuk konsekuensi yang berisiko dari adanya ancaman eksternal, yakni globalisasi dunia dan modernitas itu sendiri.

Manusia dengan segala potensi  dan pengetahuan yang dimilikinya dapat melakukan sesuatu sesuai kehendak dirinya. Tentu apa yang dilakukan akan membawa dampak, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain, lingkungan, dan bahkan dunia. Ada dampak yang baik sampai dampak yang buruk.

Tulisan ini hendak menunjukkan problematika paling krusial dari beberapa aspek kehidupan yang sering dihasilkan oleh manusia di zaman modern.

Manusia modern merupakan manusia yang sudah mengenal ilmu pengetahuan atau dengan kata lain mereka telah mengetahui peradaban. Bahkan manusia modern bukan hanya mengenal pengetahuan, tetapi sampai ke tahap mengembangkan pengetahuan itu dengan akal pikiran yang dimiliki.

Syamsul Dwi Maarif (2021) melihat manusia modern sudah mampu menggunakan seluruh akal dan pikirannya untuk menjalani hidup. Selain itu, manusia modern merupakan jenis manusia yang sudah dapat menemukan, membuat, dan menggunakan alat-alat dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Di satu sisi, manusia mengembangkan ilmu (sains) dan pengetahuan (knowledge) kemudian menjadi sesuatu yang disebut teknologi dengan tujuan untuk mempermudah segala aktifitas yang dijalananinya. Namun, di sisi lain, pengetahuan manusia dan teknologi yang dihasilkan manusia itu bisa merusak banyak hal, termasuk lingkungan dan alam secara univerasal. Itulah gambaran konkret dari sebagian problem manusia modern yang dimaksud.

Kontra Kebenaran

Banyak hal yang dilakukan sebagian manusia di zaman sekarang menyangkal (kontra) terhadap nilai-nilai kebenaran. Apalagi di tengah perkembangan media massa yang semakin pesat. Era sekarang adalah era yang disebutkan Steve Tesich (1992) dalam The Government of Lies sebagai era "post truth" (pasca kebenaran).

Dalam hal ini kebenaran tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang objektif. Namun, kebenaran didasarkan pada emosi, kemauan personal l, dan kelompok. Bahwa seseorang akan dengan gampang menolak nilai-nilai kebenaran berupa informasi bahkan fakta, hanya karena emosi dan ketidaksukaannya terhadap sumber informasi itu. Perubahan ini berdampak buruk pada hubungan sosial sesama manusia.

Hakikat post-truth yang berkenaan dengan pemaknaan kebenaran menjadi dilema yang memutarbalikkan standar penilaian normatif. Ukuran yang selama ini digunakan untuk menyatakan sebuah kenyataan kebenaran mendapat tantangan dengan terkonfirmasinya nilai kebenaran berbasis subjektif (C. M. Taufik & N. Suryana, 2022: 4).

Krisis Kemanusiaan

Dewasa ini, ketika zaman bergerak maju dengan berbagai macam kecanggihan sebaliknya, kemanusiaan mengalami proses kemunduran. Ibarat pisau bermata dua. Haidar Bagir (2017) menyebutnya sebagai keadaan di mana manusia mengalami “kehampaan spiritual”. Terjadi disorientasi makna kehidupan. Orang menjadi mudah stres, galau, khawatir, kalut, teralienasi, dan sebagainya.

Kemanusiaan kita sebagai manusia terkikis hanya oleh kemauan kita yang dilandasi dengan nafsu birahi yang oleh Ali Syariati menyebutnya sebagai "lempung busuk" dari sifat manusia. Manusia cenderung mempotensikan dirinya pada dimensinya yang hina, dan jauh dari roh kesuciannya. Nilai-nilai kemanusiaan diabaikan, seperti kasih sayang, rasa peduli, saling berbagi, dan semacamnya.

Apa yang terjadi pada krisis kemanusiaan ini? Lihat saja peristiwa-peristiwa tragis yang diakibatkan ulah manusia itu sendiri. Umumnya konflik kemanusiaan, kerusuhan, dan bahkan sampai perang bersenjata antar kelompok sampai antar negara yang dampaknya adalah kematian terjadi secara massal. Dan kabar-kabar kematian akibat konflik ini menjadi makanan sehari-hari setiap kita melihat media.

Kondisi manusia modern tersebut digambarkan oleh Erich Fromm seperti manusia robot, yakni manusia supercerdas yang mempunyai kemampuan paripurna, namun kehilangan cita rasa kemanusiaan dan tanpa kekayaan spiritual. Manusia mengalami keterasingan terhadap diri dan lingkungannya. Tragisnya, dalam
keterasingan ini manusia berperan sebagai penyebab sekaligus korban yang harus menanggung akibatnya (Erich Fromm, 1995: 28)

Perilaku Amoral

Banyak orang memiliki keceradasan intelektual, tetapi banyak pula yang di saat bersamaan tidak bermoral atau melakukan sesuatu hanya mengikuti kemauan pikiran dan mengabaikan eksistensi etik (persoalan baik-buruk) dan menghilangkan dimensi paling penting dari manusia yakni spritual, rohani, atau jiwa manusia. Manusia hanya smart (pintar), namun, amoral (tidak beretika).

Padahal keberadaan manusia di dunia telah tersedia untuknya sesuatu yang bisa dijadikan pegangan bagi kehidupannya. Ada agama, adat, dan budaya sebagai soliditas moral manusia. Keberadaan agama, adat, dan budaya itu tidak berpengaruh karena ketiga unsur itu dijadikan manusia kebanyakan hanya sebagai simbol dan proses ritual semata. Memaknainya secara substansi untuk kemudian mempraktekkannya secara praksis dalam kesehariannya adalah kealpaan.

Kalau dalam kehidupan manusia saat ini selalu dipenuhi dengan tindakan-tindakan amoral itu, berarti tanpa sadar kita mundur kembali lagi ke zaman kegelapan seperti: di tanah Arab ada zaman jahiliyah, zaman kegelapan di Eropa, dan penindasan dari bangsa-bangsa kolonial pada abad 19. Bukankah manusia harus bergerak dinamis-progresif ke depan, bukan mundur ke belakang.

Eksploitasi Alam

Seluruh kerusakan alam yang terjadi dewasa ini tanpa kita sangsikan adalah akibat campur tangan dan perbuatan jahat manusia. Eksploitasi alam secara masif akibat pengelolaan sumber daya alam (emas, nikel, batu bara, gas, dll) yang berlebihan; bagaimana perusahaan-perusahaan industri, tambang bekerja lalu kemudian memproduksi limbah dan menghasilkan asap dari pabrik berakibat pencemaran lingkungan (udara).

Sehingga, terjadi krisis dimana-mana, utamanya krisis iklim dan pemanasan global. Padahal eksistensi manusia adalah menjaga dan memelihara lingkungan dan alam sebagai tempat tinggal seluruh makhluk yang hidup.

Pada tahun 2022, perubahan iklim secara kuantitatif mengakibatkan gelombang panas mematikan di Amerika Selatan dan Asia Selatan, bencana banjir besar di Nigeria dan Pakistan, serta kekeringan yang memecahkan rekor di Eropa Barat dan Amerika Serikat (AS), demikian menurut konsorsium Atribusi Cuaca Dunia (World Weather Attribution).

Dari sekian kompleksitas permasalahan kehidupan manusia yang telah dipaparkan di atas, lambat laun akan berbuah pada kehancuran terhadap manusia itu sendiri dan lingkungan sekitarnya apabila tidak ada upaya untuk menghentikannya secara serius.

Menurut Sigmund Freud bahwa ambisi manusia modern yang mencapai puncak superego, perlu dikendalikan oleh kesadaran diri (ego) untuk mengimbangi peran id (naluri hewani) dan superego (ambisi berlebihan). Kesadaran inilah yang dalam terminologi Islam disebut “annafsu allawwamah” (nafsu penyeimbang) tentang keterbatasan dan ketidakberdayaan manusia pada obsesi dan ambisi duniawinya (Hafiz Azhari, 2020).

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya