Prinsip Kebahagiaan Filsuf Adam Smith Ditinjau Dari Ajaran Islam

Santri Ma'had Aly Salafiyyah Syafi'iyyah Sukorejo Situbondo
Prinsip Kebahagiaan Filsuf Adam Smith Ditinjau Dari Ajaran Islam 22/01/2023 55 view Agama snl.no

Mungkin sebagian orang akan bertanya, untuk apa ngaji Adam Smith yang dikenal dengan sang pelopor kapitalisme itu?. Tenang saja, pembahasan Adam Smith di sini bukanlah tentang kapitalismenya, namun tentang prinsipnya mengenai kebahagiaan. Dengan demikian, bahasan ini menjadi lebih terarah, mudah, serta diterima dengan baik oleh mereka yang kontra dengan kapitalisme.

Berbeda dengan orang yang mengatakan nihil ada kebahagiaan di dunia ini, Adam Smith menganggap alam semesta bak mesin yang dikendalikan oleh Yang Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Baik. Tujuan satu-satunya dari alam semesta tersebut adalah untuk memaksimalkan kebahagiaan, tidak ada kehidupan selain di bumi yang memperoleh kebahagiaan secara sempurna, planet lain tidaklah mempunyainya. Sementara kita sebagai manusia yang menjumpai berbagai kesukaran dalam dunia ini adalah dikarenakan melihatnya secara parsial, bukan universal. Kita gagal melihat ‘keseluruhan hubungan dan ketergantungan segala sesuatu’.

Adalah John Adam Smith yang terkenal dengan magnum opusnya Wealth Of Nations (kemakmuran negara) dan teori Laissez Faire yang mengatakan bahwa prinsip kebahagian itu sebenarnya sederhana, tidak usah muluk-muluk. Berikut pernyataannya dalam The Theory Of Moral Sentiments: what can be added to the happiness of a man who is in health, out of debt, and has a clear conscience?

Kurang lebih maknanya adalah ‘Apa yang bisa ditambahkan pada kebahagiaan seseorang yang sehat, terbebas dari hutang, dan memiliki hati nurani atau pikiran yang bersih?’. Sesederhana itu Adam smith mendiskripsikan makna kebahagian, ini artinya seseorang dengan prinsip kebahagiaan seperti ini bisa memperoleh kebahagiaan, tanpa pandang bulu. Entah itu tukang parkir, cleaning service, tukang bakso, tukang becak, pejabat, orang tajir, dan lain sebagainya dengan catatan memiliki badan sehat, tidak mempunyai hutang, dan memiliki hati serta pikiran yang bersih.

Ada sedikit cerita menarik mengenai seorang pengusaha kaya raya dengan omset perbulan seratus juta, berjalan pulang dari rapat kerjanya di Kota Keraton. Tiba-tiba di tengah perjalanannya hujan turun dengan begitu deras. Di sekitar pasar Malioboro, dari dalam taksi pengusaha ini menyaksikan suatu kejadian yang membuatnya begitu terhenyak. Di tengah derasnya hujan, dia menyaksikan tukang becak tertidur pulas dalam becaknya dengan lelap. Lantas pengusaha ini berpikir ‘begitu bahagianya tukang becak itu mampu tidur pulas dan lelap di tengah guyuran hujan yang turun begitu derasnya. Sedangkan dirinya, seorang pengusaha, butuh hotel berbintang lima dengan kasur empuk, AC, serta selimut tebal untuk mendapatkan tidur berkualitas.

Begitulah kebahagiaan yang sederhana, tidak membutuhkan khayalan ideal yang tidak bisa turun ke bumi realitas. Prinsip ini juga mendiskripsikan bahwa sepatutnya kita mensyukuri kenikmatan-kenikmatan yang ada pada diri kita sekarang, hal ini merupakan prioritas utama, baru setelahnya pindah pada kenikmatan yang belum tergapai.

Al-qur’an yang merupakan sumber utama hukum Islam juga menekankan bahwa hendaknya kita sebagai manusia jangan terlalu memberi taraf yang tinggi untuk tercapainya kebahagiaan, semisal kalau tidak punya mobil tidak akan bahagia. Tidak boleh seperti itu, tapi engkau harus berbahagia, meski mobil belum diperoleh sekarang (canda aja). Karena, seandainya kita menghitung nikmat Allah yang diberikan pada kita sebagai hambanya, niscaya kita tak akan mampu untuk menghitungnya, begitulah kata al-Qur’an.

Menurut Lalisa Daniho, kebahagiaan itu adalah mindset, tergantung kita ingin jadi apa atau ingin memperoleh apa: jika kita ingin A,B, dan C dalam hidup ini, maka kejarlah dengan berjuang. Seandainya belum kesampaian, ada dua alternatif sebagai solusi: pertama, ubahlah harapan kita. Kedua, lanjut berjuang sambil lalu menikmati kepedihan sampai berhasil memperoleh apa yang diinginkan. Jika kebahagiaan itu adalah mindset, lantas kita membuat taraf yang begitu tinggi untuk kebahagiaan kita, begitu ditabrak realitas, siap-siaplah untuk sakit hati dan galau, berakhir dengan stress.

Mari perhatikan kembali prinsip kebahagiaan filsuf Adam Smith itu, dia mengusung konsep kebahagiaan dengan tiga hal, pertama adalah badan yang sehat. Ada hadis yang begitu mirip dengan prinsip Adam Smith ini, yaitu hadis riwayat At-Tirmidzi yang berbunyi: “Barang siapa bangun di pagi hari dengan badan sehat dan jiwa sehat pula, dan rezekinya dijamin, maka dia seperti orang yang memiliki dunia seluruhnya.” Bisa dibayangkan, dia seperti memiliki kenikmatan dunia secara keseluruhan.

Kedua, terbebas dari hutang. Mengenai hal ini K.H. Maimoen Zubair menegaskan suatu hal yang lumayan penting dan secara implisit amatlah bersinggungan, yaitu beliau menyatakan seburuk-buruknya orang adalah pengangguran yang merupakan kebahayaan bagi dunia. Lebih lanjut beliau mengungkapkan sebuah syair, Inna asy-Syababa wal-Faragha wal Jaddah Mafsadatun Lil Mar’i Ayya Mafsadah (Sesungguhnya masa muda, waktu kosong, dan banyak harta dapat menjadi faktor perusak yang sangat berbahaya bagi manusia).

Menariknya, beliau mengartikan Inna asy-Syababa sebagai orang yang cuma mengikuti hawa nafsu belaka, artinya menuruti hawa nafsu itu merupakan hal yang pokok, tidak memikirkan masa depan, tak mau memikirkan anak cucu. Lantas beliau mengartikan wal-Faragha sebagai pengangguran. Beliau melanjutkan pernyataannya, orang kalau sudah menganggur, pikirannya tidak ada yang baik. Karena jika tidak mempunyai uang, orientasi pikirannya hanya tertuju pada mencuri, menipu, dan lain-lain sebab tidak bisa bekerja.

Sementara wal Jaddah oleh beliau diartikan sebagai tidak punya keinginan. Lanjut beliau menyatakan bahwa orang kalau tidak punya keinginan, ya repot. Disuruh maju, tidak suka. Disuruh mencari pengetahuan, malah merasa dirinya sudah berkecukupan. Rumahnya tidak mempunyai jendela, tetap aja merasa udah bagus. Wah, repot ini. Orang itu harus kreatif, jangan nerima apa adanya. Beliau menegaskan lagi untuk membawa manusia ini pada kemajuan, bukan kemunduran. Mundur adalah sikap yang salah.

Ketiga, pikiran dan hati yang jernih. Untuk memiliki pikiran dan hati yang jernih bukan perkara yang mudah, karena beberapa kali orang mencoba untuk melakukannya, namun tetap aja gagal. Butuh latihan (Riyadah) untuk berhasil melakukannya.

Imam al-Ghazali seorang sufi kenamaan menjadikan jernihnya pikiran dan hati dalam kitab Ihya’ Ulumuddin-nya sebagai taraf puasa yang tertinggi, yaitu Shaum al-Khususi al-Khusus. Detailnya, Al-Ghazali membagi puasa pada tiga tingkatan, yaitu Shaumu al-Umum, Shaumu al-Khusus, Shaumu al-Khususi al-Khusus.

Shaumu al-Umum artinya adalah puasanya orang pada umumnya, yaitu cuma menahan makan dan minum. Shaumu al-Khusus artinya adalah puasanya orang yang menahan keseluruhan anggota badannya untuk berbuat maksiat. Sementara Shaumu al-Khususi al-Khusus adalah puasanya orang yang menahan hati dan pikirannya dari hal-hal yang kotor atau maksiat.

Dengan demikian, bukan sembarang orang bisa untuk menjernihkan pikiran dan hatinya, hanya orang-orang tertentu saja. Benarlah Adam Smith itu dengan prinsip kebahagiaannya, karena badan sehat, terbebas dari hutang, serta jernihnya pikiran maupun hati merupakan faktor dasar kebahagiaan seseorang yang harus terpenuhi. Jika faktor dasar ini sudah terpenuhi, insyaallah akan menjalar kepada faktor kebahagiaan yang lain. Wallahu’alam.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya