Potensi NTT Mewujudkan Swasembada Garam Nasional

Penulis Buku Cerita Anak 'Si Aropan'
Potensi NTT Mewujudkan Swasembada Garam Nasional 30/03/2021 346 view Ekonomi BeritaSatu.com

Mantan Menteri Perindustrian, Saleh Husin, pernah menyebut bahwa Nusa Tenggara Timur (NTT) mempunyai potensi garam yang sama dengan Australia dan bisa menjadi daerah penghasil garam terbesar di Indonesia. Bahkan, saat Presiden Jokowi berkunjung ke Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT pada tahun 2019 lalu, beliau menyebut bahwa kualitas garam NTT dapat diolah menjadi garam konsumsi dan garam industri.

Pernyataan-pernyatan ini bukan tanpa alasan. NTT memiliki sejumlah keunggulan di ranah geografis. Laut di NTT, misalnya, mencapai luas 200.000 km2 di luar Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) atau empat kali lebih luas dari daratannya. Superioritas geografis lainnya adalah musim kering di NTT yang berlangsung selama 9-10 bulan. Ini lebih panjang jika dibandingkan dengan daerah-daerah penghasil garam lain seperti Jawa dan Madura yang musim keringnya berlangsung sekitar 4-6 bulan. Kepekatan salinitas laut NTT pun mencapai 4-5 derajat Baume. Lagi-lagi, daerah-daerah seperti Jawa dan Madura, tingkat kepekaan salinitas lautnya berada di bawah, yakni 2-3 derajat Baume.

Masih Bergantung Pada Impor

Dilansir dari harian Kompas, data Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menunjukkan bahwa pada tahun 2021 ini produksi garam nasional diprediksi hanya mencapai 2,1 juta ton. Sementara kebutuhan garam nasional berkisar 4, 67 juta ton. Dalam rapat yang dihadiri oleh Menteri Perekonomian, Airlangga Hartanto, Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, dan Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, diputuskan bahwa Indonesia akan mengimpor garam sebanyak 3,07 juta ton. Terkait dengan jumlah impor yang melebihi selisih kebutuhan garam dengan produksi garam, tujuannya adalah untuk cadangan dan keseimbangan stok garam di awal tahun 2022.

Jika angka impor garam pada tahun ini benar-benar tidak mengalami perubahan dari apa yang telah diputuskan, ini berarti tren impor garam kita meningkat. Tahun lalu angkat impor garam adalah sebesar 2,7 juta ton. Padahal, Indonesia sudah sempat mulai berada pada jalur yang tepat menuju swasembada garam. Namun, harapan tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Tiap tahun kebutuhan garam, khususnya garam industri terus meningkat. Mau tidak mau, pilihan mengimpor garam terpaksa harus diambil.

Menakar Potensi NTT

Potensi NTT untuk menjadi pionir produsen garam industri nasional sangat besar. Jika berhasil, kekurangan garam industri nasional akan dapat teratasi. Muaranya adalah untuk menghentikan impor dan swasembada garam. Namun untuk bisa sampai ke sana, keunggulan di sektor geografis saja tidak cukup. Nyatanya, terdapat beberapa kendala yang wajib diperhatikan dan dicari solusinya.

Pertama, permasalahan yang cukup pelik di NTT selama ini adalah pada soal lahan untuk pendirian pabrik garam. Banyak lahan milik perusahaan yang menganggur selama puluhan tahun. Karena tidak berproduksi lagi, lahan-lahan tersebut akhirnya dibekukan. Berdasarkan amanat Undang-Undang, lahan dengan kondisi demikian harus kembali menjadi milik negara. Ini terjadi karena tidak ada aktivitas produksi garam oleh perusahaan-perusahaan terkait meski Hak Guna Usaha (HGU) telah diberikan.

Kedua, masyarakat di NTT, khususnya petani tambak, belum sepenuhnya dilibatkan. Ini bukan tanpa alasan. Para petani tambak di NTT masih belum terbiasa mengelola garam berbasis teknologi. Artinya, proses produksi masih didominasi oleh cara-cara tradisional.

Kedua permasalahan ini harus direspon secara serius. Pemerintah harus mengkaji secara komprehensif perusahaan-perusahaan yang memiliki komitmen kuat dalam upaya produksi garam secara profesional dan berkesinambungan. Ini penting agar kejadian menganggurnya ribuan hektar lahan di NTT selama kurang lebih 26 tahun tidak terulang kembali.

Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dapat diberikan oleh gubernur sebagai pengganti HGU kepada perusahaan-perusahaan yang memiliki keseriusan untuk menggarap lahan. Caranya dapat dengan melakukan pelelangan sistem beauty contest. Namun, demi menjamin komitmen usaha yang konsisten, perusahaan-perusahaan itu juga diwajibkan untuk melakukan deposit dana dalam jumlah besar di bank-bank NTT baik BUMD maupun swasta.

Terkait para petani garam, penyuluhan tentang cara memproduksi dan mengelola garam harus dilakukan secara menyeluruh dan efektif. Bagaimana pun juga masyarakat lokal harus turut mendapatkan kesejahteraan dari sektor industri garam di NTT. Apalagi, konon seorang petani garam dapat meraup penghasilan sebesar Rp. 15 juta per bulan bila lahan garam digarap dengan cara yang tepat. Lahan-lahan yang kembali kepada negara akibat tidak adanya aktivitas produksi selama bertahun-tahun dapat disertifikasi untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat melalui mekanisme yang tepat.

Secara hitungan kasar, seperti yang pernah disampaikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Muhammad Nazir Abdullah , luas areal potensial garam di NTT adalah 69.962 hektar dengan total produksi sebesar 18.230 ton. Asumsinya, 1 hektar lahan mampu menghasilkan 100 ton garam setiap kali panen. Dalam setahun, karena kondisi geografis NTT yang sangat baik, panen dapat berlangsung sebanyak 30 kali. Artinya, 1 hektar lahan dapat berkontribusi sebesar 3000 ton per tahun. Jika dikalikan dengan luas 69.962 hektar, maka produksi garam mencapai 6.992.200 ton. Jumlah itu jauh melampaui kebutuhan garam nasional sebesar 4,67 juta ton. Apalagi selama ini kualitas garam NTT termasuk kategori baik dengan kadar NaCl minimal 97 persen.

Namun hitung-hitungan di atas kertas itu tidak akan terwujud jika dua poros penting (perusahaan dan masyarakat) tidak diberdayakan secara maksimal. Keduanya merupakan kombinasi yang kuat dan vital untuk merealisasikan segenap potensi yang dimiliki NTT menjadi pelopor produsen garam industri nasional.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya