Politik Ketubuhan Disabilitas

Pegiat HAM
Politik Ketubuhan Disabilitas 30/12/2020 649 view Budaya wikimedia.org

Manusia tidak dapat menentukan bagaimana ia lahir, kapan dan dimana. Saat menghirup nafas pertamanya, ia hanya tahu ada perbedaan suhu dari tempatnya selama 9 bulan sebelumnya dengan tempat terbaru.

Setelah bertumbuh baru ia menyadari perbedaan antara dirinya dengan orang lain entah jenis kelamin, warna kulit, keluarga hingga suku dan negara. Pun bila ia memiliki kebutuhan khusus.

Saat secara individu mungkin kebutuhan khusus itu belum terlihat atau belum disadari namun ketika mulai berinteraksi dengan anggota keluarga dan lingkungan, baru terasa ada perbedaan. Kebutuhan khusus dalam hal panca indra maupun jumlah anggota tubuh. Orang cacat, dulu masyarakat terbiasa menyebutnya demikian. Atau tidak normal karena dianggap tidak memiliki bentuk tubuh atau kelengkapan anggota tubuh bagi seorang manusia.

Dalam perkembangannya masyarakat tidak lagi menggunakan kata cacat atau tidak normal. Negara juga sudah menetapkan penggunaan kata 'disabilitas' untuk menghormati orang dengan kebutuhan khusus. Namun hingga saat ini masih ada sebagian orang yang menyebut atau menggunakan kata cacat atau tidak normal. Ada juga yang menyebutkan dengan didahului kata maaf. Harus diakui penerimaan dan pemahaman tiap orang berbeda. Namun seiring dengan gencarnya kampanye mengenai Hak Asasi Manusia dan hak-hak bagi disabilitas, diharapkan ke depannya penerimaan dan pemahaman mengenai disabilitas dapat menjangkau lebih luas ke seluruh lapisan masyarakat.

Bagi kelompok difabel atau disabilitas, yang dibutuhkan dari masyarakat bukan hanya berhenti menggunakan kata cacat atau tidak normal namun sungguh-sungguh memahami dan dapat menerima kondisi fisik mereka seperti penerimaan atas manusia lainnya. Sifat, karakter dan kemampuan dihargai atau dikritik tanpa memandang kondisi fisiknya. Dalam arti saat berinteraksi, melakukan kerja atau hal-hal lainnya dinilai kekurangan dan kelebihannya secara proporsional.

Orang dengan kebutuhan khusus memiliki dilema mulai dari dirinya sendiri, keluarga, masyarakat hingga negara. Dilema awal bagi seorang difabel adalah penerimaan pada kondisi kebutuhan khususnya, perbedaan secara fisik dengan orang lain hingga kemampuan dalam melakukan tugas-tugas kecil seperti mandi, memakai baju, naik turun tangga hingga menggunakan alat transportasi. Kesulitan yang dihadapi, kegagalan dalam melakukan tugas hingga ejekan dari orang lain dapat menumbuhkan rasa malu, kesal, marah, frustasi hingga membenci diri sendiri. Bahkan tak jarang rasa frustasi tersebut dilampiaskan pada orang terdekat, ibu yang melahirkannya ke dunia dan mungkin saja Tuhan.

Bagi kita yang tidak mengalami hambatan mungkin hal-hal tersebut terasa sepele. Tapi bagi orang dengan disabilitas, rasa frustasi dan penolakan pada diri sendiri akan berakibat fatal, rendah diri dan pesimis dalam menghadapi hidup sehingga menghalangi langkahnya untuk maju ke depan dan menciptakan berbagai peluang bagi kemampuannya yang mungkin bahkan belum disadarinya. Kita dengan ringan memberi label sebagai 'tidak normal'. Tapi apakah sebenarnya kenormalan itu?

Saya ingat, beberapa tahun yang lalu saat kedua putri saya masih berkegiatan di Sanggar Anak Alam (SALAM). Seorang ibu berpapasan dengan saya dan menanyakan tentang Sanggar Anak Alam. Saya memberi penjelasan dengan contoh kedua putri saya. Secara otomatis ia menyatakan, "Oh, anak ibu juga tidak normal?" Rupanya anaknya memiliki kebutuhan khusus dan berasumsi bahwa Sanggar Anak Alam adalah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Segera ku luruskan bahwa SALAM menerima anak berkebutuhan khusus bukan karena ini sekolah untuk anak berkebutuhan khusus melainkan karena SALAM menghargai anak dalam kondisi apapun sebagai manusia yang punya hak yang sama. Sejak itu kami para orang tua menggunakan kalimat tersebut untuk melabeli diri 'Kami Orangtua Tidak Normal'.

Kita umumnya memberi batasan normal dan tidak normal berdasarkan kelengkapan anggota tubuh dan kesehatan mental. Apa yang berlaku standar dan diterima secara kolektif maka akan disebut normal. Sayangnya gibah, intimidasi, kekerasan bahkan pelecehan seksual berulang secara kolektif dianggap sebagai kenormalan. Bukankah korupsi dan bullying juga sudah dianggap normal? Di tengah pesatnya kemajuan tehnologi dan kemudahan bagi tiap individu untuk memberikan pendapat di media sosial, saling unjuk eksistensi dengan melakukan pembunuhan karakter pihak lain diterima secara kolektif sebagai normal. Jadi bagi mereka yang tidak melakukan hal-hal seperti di atas justru akan dianggap 'tidak normal'.

Belum lama ini beberapa yayasan disabilitas menyelenggarakan sebuah acara dengan tajuk Politik Ketubuhan. Acara ini semakin memperjelas makna normal, tidak normal dan penerimaan diri. Tiap peserta disabilitas diberi kesempatan untuk bicara, menceritakan kegiatannya sehari-hari. Para peserta dalam acara ini adalah disabilitas yang sudah dewasa dalam arti sudah melewati masa frustasi, penolakan diri dan menutup diri pada sikap penerimaan dan penyesuaian diri hingga bekerja dan berkegiatan di area publik sesuai kemampuannya.

Dalam acara tersebut para peserta mempertunjukkan kebolehannya bermusik, menyanyi dan secara tidak langsung adalah motivator bagi yang lainnya. Pemandu acara dan peserta saling berkelakar mengenai fisik mereka. Ini merupakan visualisasi nyata dari makna Politik Ketubuhan bagi disabilitas.

Politik Ketubuhan bagi disabilitas adalah tentang bagaimana seorang disabilitas telah memahami dan menerima kondisi dirinya misalnya hambatan dalam penglihatan, berjalan, mendengar dan lain sebagainya. Seorang peserta bahkan dengan penuh canda mengatakan bahwa ia 'Camat' singkatan dari cacat mata. "Dulu saya sering dibilang picek", ujarnya melanjutkan. Ketika sudah melewati proses ini tahap selanjutnya adalah penyesuaian diri misalnya menggunakan alat bantu melihat, mendengar, tongkat untuk berjalan atau kursi roda. Berikutnya memasuki tahap mengenali potensi diri seperti bermain musik, menyanyi, sablon, kemampuan berbahaya hingga menduduki jabatan publik. Beberapa pesohor seperti Josh Sundqiist, Angkie Yudistia, Nick Vujicic, Stevie Wonder, Anthony Robles dan Tony Melendez adalah mereka yang telah berhasil melewati masa-masa sulit dan memiliki rasa percaya diri untuk tampil di arena publik.

Menjalani proses ini bukan hal yang mudah, membutuhkan kesabaran berlipat dari mereka yang mengalami hambatan. Setelah semua proses terlewati berikutnya adalah menanamkan prinsip harga diri bahwa kebutuhan khusus bukan menjadi alasan atau pembuka bagi belas kasihan atau meraih peluang. Saat melakukan tugas, pekerjaan atau menjual hasil kerjanya, penilaian yang diharapkan adalah pada kerja dan karya bukan semata karena mereka disabilitas. Seperti kata Nietzsche, perjalanan untuk mewujudkan keinginan adalah sebuah tantangan. Orang butuh tantangan di dalam hidupnya, sehingga ia bisa terus berkembang. Tantangan demi tantangan dalam hidup bisa memberikan alasan bagi orang untuk terus belajar. Di dalam proses itu ia akan merasa bahagia.

Oleh karena itu penting bagi seorang disabilitas untuk memiliki rasa percaya diri, perasaan yakin akan kemampuan diri sendiri yang mencakup penilaian dan penerimaan yang baik terhadap dirinya secara utuh, bertindak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang lain sehingga individu dapat diterima oleh orang lain maupun lingkungannya. Penerimaan ini meliputi penerimaan secara fisik dan psikis. Sikap ini akan membawa pada tindakan yang bertanggung jawab dan tidak terpengaruh oleh orang lain. Berani mengambil keputusan atau mengerjakan tugas, bersikap optimis dan dinamis, serta memiliki dorongan prestasi yang kuat.

Pemerintah sudah menjamin perlindungan bagi disabilitas melalui peraturan perundangan dan diharapkan ada format peraturan daerah sebagai pendukungnya.

Disamping itu penerimaan serta pemahaman dari segenap lapisan masyarakat juga dibutuhkan. Hal ini dapat diwujudkan dengan penyediaan sarana dan prasarana yang memudahkan bagi disabilitas seperti lajur khusus, lift, jalan menanjak yang landai untuk kursi roda dan lain sebagainya. Selain itu penyediaan lapangan kerja sesuai kemampuan personal dengan penggunaan kompetensi secara adil.

Jika orang dengan kebutuhan khusus atau disabilitas sudah mampu melewati masa penerimaan dirinya, masyarakat juga diharapkan siap melakukan penerimaan disabilitas. Hal ini dapat dimulai dengan mengubah cara pandang dan penggunaan kata sebutan. Tidak ada lagi kata Tidak Normal, Cacat dan belas kasihan. Dengan demikian, kita telah memanusiakan manusia sebagai penghormatan pada Tuhan dan mahluk Ciptaan-Nya serta sesuai dengan sila-sila dalam Pancasila.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya