Politik Identitas Di Antara Mentalitas Nasi Bungkus

mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi widya sasana Malang
Politik Identitas Di Antara Mentalitas Nasi Bungkus 09/03/2022 273 view Politik harnas.co

Sudah 76 tahun Indonesia merdeka, namun permasalahan yang dihadapi masih saja sama, kalau bukan masalah ideologi pasti masalah korupsi. Permasalahan-permasalahan itupun tidak terlepas dari identitas negara Indonesia yang memang notabene adalah negara plural. Lahirnya negara Indonesia juga tidak terlepas dari perdebatan para pendirinya. Perdebatan itu terjadi karena mereka mencoba menggabungkan berbagai macam suku dan budaya ke dalam satu-kesatuan republik. Atau yang lebih tepatnya negara political unity.

Sebagai negara yang lahir dari political unity Indonesia memang rentan jatuh ke dalam permasalahan “mayoritas dan minoritas”. Kelemahan inilah yang sering kali dimanfaatkan oleh para elite politik sebagai lahan basah tempat mencari dukungan. Atau yang lebih dikenal sebagai politik identitas. Praktek politik identitas seperti inilah yang sering kali menimbulkan perpecahan antara kaum mayoritas dan minoritas. Padahal sebagai negara kesatuan Indonesia seharusnya sadar bahwa politik identitas sangat membahayakan persatuan dan kesatuan.

Namun bahaya politik identitas ini nampaknya tidak disadari oleh banyak orang. Apalagi jika permasalahan yang digunakan sebagai alat berkaitan dengan SARA. Sudah pasti, kebanyakan orang lebih mengutamakan perasaan marah dan ketersinggungan dibandingkan berpikir secara rasional. Sifat reaktif bangsa Indonesia inilah yang sering digunakan para elite politik sebagai amunisi dan senjata guna mendapatkan maupun memperkokoh kekuasaan. Banyak contoh permasalahan di Indonesia apabila dilihat secara lebih mendalam memiliki kaitan erat dengan politik identitas. Beberapa contoh permasalahan tersebut antara lain; kasus Ahok 2017 hingga kasus Edy Mulyadi 2022.

Memang kalau berkaitan dengan agama, suku, budaya, dan ras, Indonesia sangat rentan. Terlebih Indonesia terkenal sebagai negara religius makin jadilah politik identitas merasuk ke dalam lapisan masyarakat. Kesempatan ini terkadang digunakan oleh banyak elite politik dalam mencapai kekuasaannya. Keadaan semakin diperparah dengan ketidaktahuan masyarakat tentang politik identitas.

Ketidaktahuan masyarakat tentang sistem politik identitas inilah yang membuat mereka mudah diprovokasi. Kalau boleh saya gunakan istilah kasarnya untuk menggambarkan sikap masyarakat kita yang mudah diprovokasi adalah “mentalitas nasi bungkus”. Pernyataan ini memang sedikit kasar namun ada benarnya. Masyarakat kita tidak terlalu memikirkan duduk perkara dari suatu permasalahan dan terkesan reaktif terhadap suatu permasalahan apa lagi jika diiming-imingi uang.

Sikap masyarakat yang mudah diperdaya dan dimanipulasi uang seakan telah menjadi karakter masyarakat kita. Karena itu politik identitas tidak akan pernah jauh dari politik uang. Selain itu, mentalitas masyarakat kita yang masih lemah dengan uang juga menunjukan betapa rendahnya tingkat kesadaran kita akan integritas diri dalam kehidupan bermasyarakat. Memang tidak ada salahnya menjalankan aksi massa demi uang, apalagi kesenjangan sosial juga menjadi alasan terbentuknya “mentalitas nasi bungkus” tadi.

Permasalahannya sekarang bukan terletak pada benar atau salahnya suatu sistem yang ada. Melainkan konflik besar yang terjadi karena sistem yang ada mulai diubah oleh beberapa oknum yang senang bermain dengan kata”mayoritas dan minoritas” atau lebih tepatnya politik identitas. Sistem demokrasi di Indonesia sendiri boleh dikatakan sangat cocok dengan masyarakat yang plural. Akan tetapi pluralisme yang menjadi kekayaan negara Indonesia malah dijadikan senjata yang dapat menghancurkan negara ini dalam hitungan menit. Pernyataan ini memang terkesan skeptis apalagi berkaca pada permasalahan yang sedang terjadi yaitu invasi Rusia terhadap Ukraina. Indonesia mungkin akan mengalami hal yang sama namun bukan berperang dengan negara tetangga melainkan dengan sesamanya di dalam satu negara.

Jika dilihat secara sekilas memang Indonesia terlihat baik-baik saja namun apabila ditelaah lebih dalam banyak permasalahan dan perang kepentingan di dalamnya. Kalau mau dianalogikan kondisi di negara kita saat ini sama seperti keju yang nampak halus dari luar tetapi banyak lubang di dalam. Kondisi perpolitikan Indonesia saat ini memang memprihatinkan, apalagi pilpres 2024 sudah makin dekat. Kondisi ini membuat politik identitas menjadi barang dagangan yang laris manis.

Solusi dari permasalahan ini sebenarnya mudah saja seandainya masyarakat memiliki kesadaran mendalam akan pentingnya kesatuan. Kesadaran itu akan membuat masyarakat negara kita tidak mudah dipengaruhi oleh propaganda-propaganda yang berbau identitas. Selain itu, jika masyarakat memiliki kesadaran kuat akan persatuan mereka juga akan tahan terhadap paham-paham radikalisme yang ada.

Oleh karena itu apabila pemerintah ingin memperbaiki negara atau bahkan mengubah negara ini menjadi lebih baik. Ubahlah sistem yang ada, ubah kesadaran masyarakatnya. Dengan demikian negara ini dapat menjadi negara ideal seperti yang dicita-citakan para pendirinya. Dan menjadi tempat di mana semua perbedaan menjadi kekayaan dan bukan sebaliknya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya