Poligami dan Kehendak Nafsu

Poligami dan Kehendak Nafsu 01/01/2023 70 view Agama jatimtimes.com

Sebuah cocokologi dari Jawa yang lumayan makes sense mengatakan bahwa “Desember” memiliki filosofi yang lumayan unik dan menarik. Kata Desember di sini merupakan kepanjangan dari ‘Deres-Derese Sumber’ atau dalam bahasa Indonesia ‘deras-derasnya sumber’. Artinya, Puncak derasnya hujan selama musim penghujan berada di Bulan Desember ini. Sehingga banyak aktivitas-aktivitas yang mungkin sedikit terganggu di penghujung tahun. Tak terkecuali Bapak-Bapak kompleks yang sedang melakukan aktivitas ronda malam di tengah rerintikan hujan yang sedari sore tak kunjung reda.

Di bawah atap gardu yang luasnya tak lebih dari empat meter persegi, terdapat tiga orang dengan starter pack lengkap khas bapak-bapak yang siap menghadapi dinginnya malam. Di antara mereka terlihat memakai celana pendek, jaket, dan juga sarung yang terselempang di pundak, ada juga yang dibungkuskan ke badan karena dirasa jaketnya tak cukup menghangatkan tubuhnya. Tak ketinggalan ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok yang dihisapnya sesekali.

Di antara gemercik air hujan yang jatuh, salah satu di antara mereka berujar dengan logat medoknya, “Aku mau sak durunge budal rene ki gegeran karo bojoku perkoro keturon lali ngentasi pemehan seng akhire kudanan, la wong jenenge muleh makaryo awak kesel kan yo wajar to lek keturon? wong yo ga mben dino ae lo”. (Aku tadi sebelum berangkat ke sini bertengkar sama istriku karena ketiduran karena lupa mengangkat jemuran, namanya juga capek ya wajar kan Om kalo ketiduran? tidak setiap hari juga kok).

Salah satu dari mereka berceletuk, “Alahhh, istri kayak gitu mending ditukerin sama kacang aja Lek, ra masuk blaasss… mending cari ganti aja, orang Kanjeng Nabi aja dawuh kalau jatah kita sampai empat kok, nggeh to Pak De?” Sembari terbahak-bahak.
“Husss… Yo gak ngunu rek…”, sahut Bapak-Bapak yang lain.

Seketika suasana kembali hening, mereka diam seribu bahasa. Suara air yang jatuh ke atap gardu seakan semakin keras menghantam seng dan orkestra para katak kian lantang bersahut-sahutan.

La maksute dospundi Pak De?” ("Lalu maksudnya bagaimana Paman?") tanyanya dengan penasaran.

Posisi duduk mulai berubah tanda serius, napas ditarik dalam-dalam sebagai ancang-ancang kajian malam ini. Mereka tampak tegang dan sangat antusias dalam menunggu penjelasan.

“Jadi gini, poligami itu suatu doktrin yang mana membutuhkan penguasaan ilmu yang baik. Jadi jangan mudah percaya ujaran-ujaran poligami dari seseorang ataupun media yang sekiranya kredibilitasnya masih diragukan. Bisa jadi mereka hanya bicara atas nama nafsu.”

“Loh, Nabi kan juga Poligami Pak De?” Potong salah satu orang.

“Yang sabarr… aku belum selesai ngejelasinnya. Oke tak lanjut, Nabi itu dalam sebagian besar hidupnya tidak berpolgami. Nabi berpoligami setelah ditinggal istrinya Siti Khadijah wafat, dan poligaminya Nabi tidak atas dasar nafsu. Kalau Anda, ingin poligami tapi cari wanitanya yang cantik, seksi, atas dasar apa itu kalau bukan nafsu. Perlu dipahami bahwa ayat poligami itu adalah ayat pembatasan jumlahnya pernikahan. Jika kita telisik lebih jauh, ayat ini muncul di masa orang nikahnya pada banyak bahkan bisa sampai puluhan, jadi konteks ayat ini membatasi jumlah perempuan yang boleh dinikahi. Kalau bisa ya satu aja, karena kalau lebih tantangannya sangat besar dan berat. Kenapa kok berat? Ya karena kita dituntut untuk adil, dan adil itu berat. Jangankan pada istri, pada ayam saja kita seringkali tidak adil. Ayam yang bagus kita sayang-sayang, makannya dikasi banyak, suka dibelai-belai dan lain-lain. Dan adil di sini bukan sekedar dalam bentuk materi, tapi semuanya termasuk adil pada diri kita sendiri. Jika kondisi jiwa kita aja masih berkutat pada hal-hal keduniawian, kita tidak akan dapat membaca secara jernih hukum-hukum Tuhan. Poligami itu hukum Tuhan, dan kita tidak dapat menggunakan itu sembarangan sesuai dengan kehendak nafsu kita. Poligami itu tidak semudah yang dibayangkan, yang membuat seakan-akan mudah itu nafsu. Bagaiman, masih niat ingin poligami?”

“Tidak, sudah.” Mereka semua hanya meringis dan melanjutkan obrolan tak tentu arah yang ditemani rintik hujan di akhir tahun.

Wallahu a’lam

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya