Polemik Wabah Menjelang Pemilu

Maha Santri Aktif Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo/ Alumni Ponpes Darul Ulum Sampang
Polemik Wabah Menjelang Pemilu 02/06/2024 46 view Politik suarabaru.id

Di suatu pagi, di saat matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya, terjadi kebisingan luar biasa yang mengundang siapapun untuk mencari tahu asal suara. Sungguh aneh, yang pada biasanya suasana pagi di kamar kami sangat tentram bagaikan kuburan, namun tidak untuk kali ini. Usut punya usut, ternyata terjadi percekcokan antara dua kubu yang seakan tak menemukan jawaban. Entah apa mereka debatkan sehingga tak mengenal waktu. Kedua kubu tersebut terlihat sangat bersemangat dalam merespon argumen pihak lawan sehingga membuat keduanya tak ada yang mau mengalah, semuanya terlihat ingin menang sendiri.

Tak luput pula keduanya sering kali melontarkan kata-kata yang tak pantas. Bahkan, mereka dengan percaya diri membuat-buat berita (yang belum tentu valid) demi menguatkan pendapat yang terlihat ngawur. Ah, aku mulai ingat, ini adalah lanjutan debat tadi malam mengenai capres-cawapres pilihan mereka yang terhenti dikarenakan adzan subuh telah berkumandang.

Itu adalah gambaran sekilas konflik yang terjadi tidak hanya di lingkunganku ketika tahun-tahun pemilu mulai menyapa. Kericuhan mengenai berbeda pilihan dalam konstelasi politik terjadi hampir di seluruh negeri mulai dari ujung timur hingga ujung barat. Mereka dengan akal sehatnya rela untuk membela capres-cawapres idolanya dan mencaci orang-orang yang tidak sepemikiran dengannya, hingga pihak yang netral pun mereka gugat demi mendulang suara untuk “idolanya” . Sungguh peristiwa yang sangat tidak wajar. Kenapa bangsa ini dari dulu tidak mau berbenah dan terus menerus mempertahankan kekolotannya dalam memilih capres-cawapres. Karena saking banyaknya masyarakat yang terinveksi, peristiwa tersebut layak disebut wabah.

Dekrit “Pemilu Damai” yang saat ini marak disuarakan oleh pemerintah seakan tak berguna jika tidak dibarengi oleh tindakan nyata. Wabah tersebut tetap eksis dan berkembang pesat meskipun sudah banyak propaganda-propaganda berupa kecaman dan larangan yang diprogram oleh pemerintah.

Kejadian tersebut boleh jadi disebabkan oleh beberapa probabilitas. Salah satunya mereka melakukannya langsung dari hati nurani mereka yang condong terhadap janji-janji manis yang ditawarkan salah satu calon. Kedua, bisa jadi ada oknum tersembunyi yang menyuruh mereka untuk melakukan tindakan provokator dan anarkis dengan iming-iming uang atau jabatan. Harus ada solusi yang setidaknya mencegah perkembangan wabah tersebut semakin meluas, guna meminimalisir terjadinya konflik dalam skala yang lebih besar.

Menghapus Sikap Fanatisme Berlebihan

Wabah di atas ditengarai terjadi karena intensitas sikap fanatisme yang tinggi. Fanatisme adalah sebuah paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Winston Churchill menyatakan bahwa seseorang yang fanatis tidak akan bisa mengubah pola pikir dan haluannya meskipun hal itu bertentangan dengan akal sehatnya. Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan. Ini terbukti, meskipun seseorang telah memiliki kualitas keilmuan yang mumpuni, hal ini tidak menutup kemungkinan ia akan terjangkit wabah fanatisme.

Berbeda dengan fanatisme terhadap agama, fanatisme terhadap pilihan politik bukanlah sesuatu yang relevan. Dalam agama seseorang memanglah harus bersikap fanatik karena agama merupakan kebenaran mutlak dan ketika seseorang tidak bersikap fanatik terhadap agama maka perlu diragukan keimannya, dengan catatan hal ini tidak berimplikasi terhadap timbulnya sikap ketidakadilan terhadap orang lain yang berbeda keyakinan. Sedangkan dalam hal selain agama, seseorang tidak dilegalkan sama sekali untuk bersikap fanatis karena akan menimbulkan perpecahan dan kerusuhan. Sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Muhammad bahwa kita dianjurkan untuk mencintai dan membenci entitas apapun dengan sekadarnya, karena bisa jadi entitas yang dibenci atau dicinta bisa menjadi bumerang di kemudian hari.

Refleksi Ulang Sila ke-2 Pancasila

Solusi kemudian dalam meredam sikap fanatisme ialah merefleksi ulang makna dari ideologi Pancasila, tepatnya sila ke-2 yang berbunyi “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”. Sebagai suatu dasar filsafat negara maka sila-sila yang terkandung dalam Pancasila merupakan sebuah sistem nilai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan meskipun di setiap sila memiliki makna yang berbeda-beda. Sila ke-2 tersebut memiliki makna filosofis yang cukup luas dan mendalam di setiap butirnya jika dipahami secara seksama. Makna Kemanusiaan merupakan sikap universal yang harus dimiliki setiap umat manusia di dunia, sehingga dapat memperlakukan manusia sesuai dengan hakikat manusia yang bersifat manusiawi. Kata “kemanusiaan” dalam sila ke-2 memiliki implikasi rasa empati dan kasih sayang terhadap sesama manusia tanpa memandang perbedaan suku, ras, budaya, dan agama apalagi pilihan politik.

Menurut Nurdiaman dan Setijo, Kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya selaku mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, sama hak dan kewajibannya. Artinya segala tindakan dan kebijakan yang diambil oleh tiap individu bangsa ini haruslah berpijak pada keadilan dan kode etik. Seandainya bangsa ini, khususnya mereka yang masih anarkis dan intolerir dalam mengekspresikan suara politiknya mau berpikir sejenak bahwa perbuatan yang telah ia lakukan bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, mungkin tidak ada lagi yang namanya fanatisme buta yang dapat berimbas akan adanya wabah perpecahan dan permusuhan, karena berbeda tidak mesti salah satunya salah.

Kesimpulannya, kita tidak dilarang untuk berbeda pandangan dalam memilih calon yang ideal menurut pribadi masing-masing. Mengingat setiap capres-cawapres memiliki visi-misi, latar belakang, dan kondisi sosial yang berbeda-beda, serta masyarakat pun tidak sama dalam menentukan kualitas pilihannya sehingga menyebabkan mereka berbeda dalam menentukan pilihannya. Yang tidak dibenarkan adalah ketika seseorang dengan fanatisme membabi buta membela mati-matian terhadap dukungannya serta mencaci habis-habisan terhadap pihak lawan. Pasalnya setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan dan setiap individu memiliki potensi benar dan salah.

Kita harus bersikap proporsional di dalam membela dan mendukung calon yang kita pilih. Sehingga tidak menyebabkan seseorang secara mudah menyalahkan orang lain ketika memiliki pendapat yang tidak sepemikiran dengan kita. Semoga, kericuhan yang disebabkan oleh peristiwa di atas tidak memberikan dampak yang lebih serius bagi keharmonisan seluruh lapisan masyarakat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya