Pluralisme Agama dalam Terang Filsafat Martin Buber

Mahasiswa
Pluralisme Agama dalam Terang Filsafat Martin Buber 01/06/2024 69 view Agama ummetro.ac.id

Konsep I-Thou yang dikemukakan oleh Martin Buber merupakan sebuah pandangan tentang hubungan antara individu dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Buber terinspirasi oleh pemikiran Søren Kierkegaard tentang hubungan langsung antara individu dengan Tuhan, yang Kierkegaard sebut sebagai Thou. Bagi Buber, manusia seharusnya bisa mengalami pengalaman langsung terhadap Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Konsep tersebut di atas juga dipengaruhi oleh pemikiran Ludwig Feuerbach dan Georg Simmel. Feuerbach menekankan relasi antara manusia dengan manusia dalam konsep I-Thou, sementara Simmel memandang hubungan manusia dengan Tuhan sebagai percaya kepada-Nya dan tidak hanya keyakinan rasional. Bagi Buber, eksistensi hanya dapat dimengerti dalam relasi, dan hubungan I-Thou merupakan bentuk puncak dari hubungan antara manusia dengan Tuhan. Manusia harus mampu menjadi dirinya secara utuh dalam relasi ini. Buber juga menekankan bahwa relasi I-Thou tidak hanya terbatas pada hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga dengan alam.

Dalam konteks pluralisme agama di Indonesia, konsep I-Thou Buber dapat memberikan pemahaman tentang pentingnya menghargai keberagaman keyakinan dan tradisi agama. Pluralisme agama menunjukkan adanya keberagaman keyakinan di masyarakat dan perlunya menghargai serta melindungi perbedaan tersebut. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya tantangan dalam mewujudkan pluralisme agama.

Meskipun konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama, masih terjadi insiden intoleransi dan radikalisme agama. Hal ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut dalam mempromosikan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan agama. Dalam konteks ini, konsep I-Thou dapat menjadi landasan untuk membangun hubungan yang menghargai dan menghormati perbedaan agama. Melalui relasi I-Thou, manusia dapat memahami dan menghargai keberagaman keyakinan dalam masyarakat, serta membangun hubungan yang saling menguatkan antara individu, Tuhan, dan alam.

Pembahasan mengenai konsep I-Thou sebagai relasi yang kodrati dalam diri manusia dapat menjadi tolok ukur kedalaman individu dalam memahami makna hidupnya. Bagi Buber, hubungan ini haruslah bersifat kualitatif, yang berarti bahwa hubungan tersebut berkembang dengan memperlakukan individu lain sebagai manusia dengan segala keunikan dan khususnya. Setiap individu tidak dapat mengabaikan keberadaan individu lain sebagai Thou yang secara khusus membentuk komunikasi atau hubungan. Individu lain menjadi pertemuan "Aku" lainnya atau liyan, bukanlah "non-Aku" atau "lawan Aku".

Hubungan "Aku dan Sesamaku" berada dalam wilayah komunikasi sehari-hari dalam kehidupan manusia. "Aku" sebagai individu menjadi eksistensi yang merawat dan memelihara keberadaan, kelangsungan, dan keindahan dirinya. Hal yang sama berlaku bagi sesama individu, terlepas dari segala pluralitas yang melekat pada mereka. Keduanya masih dalam proses menuju keutuhan melalui sesama.

Individu dapat membangun pola komunikasi beriman dialogal dalam hubungannya dengan agama. Ini berarti melalui usaha pencarian, eksplorasi dalam tradisi, budaya, dan pengalaman hidup sehari-hari. Bagi Buber, hubungan I-Thou pada akhirnya membawa manusia pada dimensi spiritual. Ini berarti bahwa hubungan dengan Thou partikular dapat membawa manusia menuju persatuan dengan The Eternal Thou.

Oleh karena itu, perjumpaan dengan Tuhan bukanlah kegiatan terpisah dari kehidupan sehari-hari manusia. Buber menekankan pentingnya hubungan melalui konsep I-Thou yang dia usulkan. Manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri. Setiap pertemuan dengan orang lain menjadi ruang untuk membentuk kesatuan atau unisitas yang tidak terbatas oleh perbedaan. Dengan demikian, pluralitas dalam masyarakat bukanlah halangan melainkan kekayaan yang dapat saling berbagi dengan Thou sebagai "Aku yang lain".

Pemahaman yang benar tentang hubungan memberi pengertian bahwa "Aku" menjadi aku karena kamu, begitupun sebaliknya. Kesadaran akan pentingnya individu lain akan membawa setiap individu menuju inklusivitas dalam masyarakat. Kesadaran ini menjadi kebutuhan mendesak dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini. Masyarakat Indonesia dengan segala pluralitasnya memerlukan pemahaman bersama akan konsep unisitas yang sesuai. Tanpa pemahaman yang benar, masyarakat hanya akan terasing dalam kecurigaan dan pandangan yang menempatkan individu lain sebagai lawan. Agama bukan lagi merupakan jalan untuk memaknai hidup menuju Tuhan sebagai puncak hubungan, melainkan sebagai alasan untuk melakukan kejahatan yang justru melawan kodrat diri individu itu sendiri.

Setiap individu yang mampu menghayati hidup dalam keragaman juga akan menerima segala perbedaan yang ada. Kesadaran akan tujuan hidup yang menciptakan kesatuan dan kebahagiaan bagi setiap orang menjadi titik awal yang positif dalam mengenal Tuhan (The Eternal Thou).

Dalam konteks keragaman, konsep tentang Tuhan perlu diperbarui. Tuhan tidak lagi hanya dipandang sebagai entitas yang jauh dan pasif. Tuhan hadir dalam segala aspek kehidupan dan alam semesta, sehingga setiap makhluk hidup dan manusia sendiri merupakan manifestasi dari keberadaan-Nya. Dalam pandangan ini, alam semesta dianggap sebagai sarana untuk mencerminkan kebesaran Tuhan, sementara tubuh manusia menjadi tempat suci untuk merasakan kehadiran-Nya. Pemahaman ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki keunikan, dan melalui keunikan tersebut, kehadiran Tuhan dapat dirasakan.

Sikap terbuka dalam menjalin hubungan dengan orang lain membawa kita pada pemahaman yang lebih mendalam tentang Tuhan, terutama dalam konteks keragaman yang tinggi seperti di Indonesia. Setiap individu memiliki kesempatan besar untuk membangun hubungan yang positif meskipun dalam perbedaan. Fenomena pluralitas, yang mencakup penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, memberikan peluang bagi individu untuk belajar dari perbedaan dengan menerima dan menghargai satu sama lain.

Tidak dapat disangkal bahwa penerimaan dan keterbukaan untuk berhubungan dengan orang lain dapat membawa kita kepada Tuhan, karena Tuhan juga hadir dalam sejarah, terutama dalam hubungan sesama manusia. Hal ini perlu untuk menghindari sikap radikal yang berlebihan dalam beragama. Sebab setiap orang mampu terbuka terhadap perbedaan. Dan itu dimulai dari diri setiap individu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya