PHK Adalah Gugatan Tentang Kita

PHK Adalah Gugatan Tentang Kita 23/02/2020 1167 view Opini Mingguan pixabay.com

Semakin tua usia kemerdekaan NKRI tercinta ini seharusnya makin baik dan dewasa dalam segala hal. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Berbagai persoalan terus merong-rong rahim NKRI. Mulai dari persoalan korupsi, pendidikan, ekonomi, intoleransi, radikalisme hingga politik destruktif.

Dan yang teranyar saat ini adalah persoalan seputar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang melanda beberapa kota dan perusahaan-perusahaan besar. Diantaranya, PHK Massal pada PT Foster Electronic dan PT Unisem di Batam telah menyebabkan kehilangan pekerjaan bagi 2. 500 orang pekerja. Begitu juga dengan PHK Massal pada Perusahaan Rokok di Surabaya yang telah mengakibatkan kehilangan pekerjaan bagi 2000 orang pekerja.

Selain itu, ada beberapa perusahaan yang mulai dihantam badai PHK yakni PHK massal industri tekstil yang disebabkan oleh lantaran maraknya impor produk lain, PT Indosat, Bukalapak, NET TV, dan PT Krakatau Stell (DetikFinance, 18/2/2020).

Tentang Kita

Dari realitas di atas, kita tak bisa langsung menjustifikasi bahwa pihak perusahaan sedang kehilangan nilai dan roh kemanusiaan. Sebab jika kita menelisik secara teliti pada berbagai media, di sana kita menemukan banyak alasan argumentatif yang sangat humanis.

Semisal, Ikhtiar PT Indosat yang telah setuju menerima paket kompensasi dan menjalin kerja sama dengan mitra Managed Service untuk memberi kesempatan bagi karyawan yang di PHK agar tetap dapat bekerja di mitra mereka.

Sementara Bukalapak melalui juru bicaranya menegaskan bahwa PHK adalah sebagai upaya restrukturisasi di internal perusahaan. Artinya pihak perusahaan sedang menata diri untuk lebih selektif dan efektif dalam mewujudkan visi sebagai sustainable e-commerce.

Karenannya, ketika pihak perusahaan mengambil kebijakan untuk PHK karyawan melaluli kajian mendalam yang tidak mengorbankan perusahaan maupun hidup dan masa depan karyawan, maka tak perlu kita persoalkan sepanjang hayat. Apalagi sampai dengan menghujat dan menghakimi, itu tak baiklah.

Oleh karena itu, maraknya perusahaan-perusahaan besar Indonesia yang mem-PHK-kan para karyawannya dalam jumlah banyak itu, bukanlah sebagai pembuktian bahwa NKRI sudah kiamat. Bukan pula sedang melegitemasi bahwa martabat manusia sebagaimana termaktub dalam diri para karyawan sedang tidak dihargai.

Justru sebaliknya, kebijakan dan solusi yang sudah diambil oleh pihak perusahaan, mau membuktikan bahwa perusahaan memiliki kepedulian kemanusiaan. Mengapa? Ya, karena semuanya adalah kita dan tentang kita. Bahkan tentang kemajuan Indonesia tercinta.

Gugatan

Judul di atas sebenarnya lahir dari permenungan reflektif pribadi. Dari lahir refleksi itu, saya mengambil sikap untuk mengomentari dan mengkritisi dari perspektif positif. Bahwa saya melihat dan menilai persoalan ini sebagai persoalan bersama. Untuk itu butuh pikiran positif, juga keterlibatan pikiran dan sikap secara kolektif pula.

Oleh kerana orientasi hidup yang humanis adalah menjadi tanggung jawab kita semua, maka penulis menawarkan beberapa gugatan yang mengandung nutrisi-nutrisi positif. Selanjutnya, dapat menjadi pegangan bagi kita baik sebagai pemerintah, masyarakat, perusahan maupun karyawan.

Pertama, pemerintah. Sebagai pengambil dan penelur kebijakan tertinggi dalam menyejahterakan masyarakat, haruslah menghidupi semangat yang cepat peka terhadap realitas kehidupan masyarakat. Dengan begitu, persoalan masyarakat dan perusahaan haruslah juga menjadi persoalan pemerintah.

Dan pada akhirnya, pemerintah harus terlibat dengan sungguh agar bisa melahirkan beragam kebijakan yang lebih berkualitas. Sebab keberadaan seorang pemimpin adalah sebagai penentu kualitas sebuah lembaga atau Negara itu sendiri.

Jadi, Bapak Jokowi segeralah meniupkan angin segar untuk menyegarkan hati para karyawan yang lagi galau itu. Harus dalam tindakan, bukan janji. Jadi jangan diam-diam. Lalu dalam diam, korupsi dikalangan pejabat makin merajalela. Inilah gugatan untuk pemerintah. Maaf jika ini terlalu keras. Tapi inilah bentuk tanggung jawab moral penulis sebagai masyarakat kecil.

Kedua, perusahaan. Bagi perusahaan-perusahaan yang mem-PHK-kan para karyawan melalui cara humanis, saya dan Anda sekalian patut berbangga. Namun dibalik kebanggaan itu, ada kandungan gugatan bahwa pihak perusahaan jangan merasa paling benar. Apalagi sok moralis.

Untuk itu, segeralah melakukan kajian mendalam sembari mempredeksi segala sesuatu yang akan terjadi diwaktu yang akan datang. Sehingga, ketika perusahaan dirundung persoalan, maka tak pernah boleh lagi mengambil solusi dengan PHK. Apalagi berlomba-lomba memilih PHK. Seakan perlombaan korupsi, begitu.

Ketiga, Karyawan. Hidup selalu ada jalan. Tak pernah hidup ini menutup jalan bagi kita. Dan tak pernah ada masalah tanpa ada solusi. Untuk itu, jadikan pengalaman di PHK sebagai pemicu melahirkan daya dan kekuatan untuk berpikir kritis dan inovatif. Dan salah satu bentuk sikap keinovatifan itu adalah segera menghidupi semangat berwirausaha.

Itu berarti, tak boleh lagi berlama-lama tinggal dalam kamar kekecewaan, stres, apalagi galau hingga berujung pada keputusan bunuh diri. Ehh, dunia ini tidak selebar daun kelor, gaes. Sebaliknya, segera menjadikan persoalan ini sebagai sebuah situasi yang memiliki inspirasi untuk segera bangkit, berbenah dan bergerak maju.

Akhirnya, PHK dan beribu persoalan kebangsaan lainnya adalah selalu bercerita tentang kita dan untuk kita. Untuk menyelesaikanya pun hanya oleh kita tanpa pengecualian.

Pada titik ini, kita pun yakin bahwa negara akan menjadi kuat jika didalamnya dihuni oleh insan-insan yang tak cepat putus asa, dan mampu mengubah persoalan sebagai sebuah gugatan untuk melahirkan daya positif untuk menemukan solusi.

Itulah sebabnya, dari kaca mata positif, penulis memaknai persoalan PHK sebagai gugatan tentang kita. Sebab sebagai insan yang hidup dalam rahim bangsa yang amat dewasa dalam hal kemerdekaan, kita tak bisa hanya menjadi pengkritis melulu.

Namun harus mampu menjadi pribadi sumber ide dan gagasan cemerlang. Yang pada akhirnya dapat memampukan kita untuk keluar dari berbagai persoalan kebangsaan itu sendiri. Mari bangkit. Segera berbenah. Jangan mudah baper, cengeng, suka menyalahkan orang lain dan mengelu sepanjang waktu.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya