Petaka Keangkuhan Politik

Pengajar di STPM Santa Ursula Ende
Petaka Keangkuhan Politik 25/03/2024 74 view Politik Shutterstock

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah mengumumkan hasil penetapan rekapitulasi suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, di Jakarta, Rabu (20/3/2024) malam. Pengumuman penetapan tersebut dilakukan dalam Rapat Pleno Penetapan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Suara Nasional Pemilihan Umum 2024 (kompas.com, 21 Maret 2024).

Berdasarkan penetapan tersebut diketahui pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden (Capres-Cawapres) RI nomor urut 2 Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, meraih suara terbanyak dari jumlah suara sah dalam Pilpres 2024. Jumlah suara sah secara nasional sebanyak 164.227.475 sebagaimana tercantum dalam formulir model D Hasil Nasional PPWP (kompas.com, 21 Maret 2024).

Jumlah suara sah pasangan presiden dan wakil presiden nomor urut 1, H Anies Baswedan dan Dr Muhaimin Iskandar sebanyak 40.971.906 suara. Jumlah suara sah pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebanyak 96.214.691 suara. Jumlah suara sah pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo dan Prof Mahfud MD sebanyak 27.040.878 suara (kompas.com, 21 Maret 2024).

Hasil penetapan ini telah memastikan bahwa pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 2 Prabowo-Gibran keluar sebagai pemenang dalam kontestasi pemilu 2024 kali ini. Penetapan ini seakan-akan melegitimasi hasil quik qount sebelumnya yang menempatkan pasangan ini meraih suara terbanyak dalam pemilu 2024.

Kemenangan Prabowo-Gibran dalam pemilu 2024 ini memberikan sejumlah catatan reflektif bagi sejumlah pihak baik parpol pendukung, tim sukses maupun pasangan calon itu sendiri. Kemenangan ini meyakinkan kepada publik bahwa keangkuhan-keangkuhan politik tentunya akan membawa petaka.

Hal ini tentunya bukan tanpa alasan, sebab dalam sejumlah kampanye politik terutama dalam debat-debat publik ditampilkan sejumlah drama keangkuhan politik. Prabowo-Gibran seringkali dijadikan sebagai sasaran tembak, dibuli bahkan direndahkan dalam sejumlah debat.

Masih hangat dalam benak kita bagaimana ketika Anis Baswadan dan Ganjar Pranowo memberikan statement penilaian tentang kinerja Prabowo sebagai menteri pertahanan yang hanya diberi point 5 dari 10 dan point 11 dari 100. Point ini sungguh menyakitkan bagi Prabowo, namun hal ini malahan kemudian menjadi batu sandungan bagi pasangan lainnya.

Gibran juga seringkali dinilai 'planga-plongo', sebagai 'anak kecil' yang dianggap belum mampu untuk ikut dalam kontestasi Pilpres kali ini. Namun publik malahan menilainya secara berbeda. Hal ini tentunya menjadi satu pukulan telak bagi pihak-pihak yang meragukan Gibran untuk ikut dalam kontestasi Pilpres kali ini.

Di sisi lain kita juga disuguhkan oleh sejumlah statement baik dari para petinggi parpol maupun oleh tim sukses yang seakan-akan merendahkan paslon nomor urut 2 ini. Namun kenyataannya malah menunjukan hal yang sebaliknya yakni keangkuhan-keangkuhan tersebut malahan menjadi petaka.

Kondisi ini tentunya menarik untuk ditelaah secara lebih jauh berkaitan dengan gaya komunikasi politik dan psikologi pemilih. Komunikasi politik memiliki efek yang cukup signifikan bagi masing-masing kontestan dalam meraih kemenangan. Komunikasi politik yang baik tentunya akan sangat berpengaruh terhadap psikologi masa dalam menentukan pilihan politiknya.

Komunikasi politik adalah komunikasi yang diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh, sehingga masalah yang dibahas oleh kegiatan komunikasi ini dapat mengikat semua warganya dengan sangsi yang ditentukan bersama melalui lembaga politik. Rush dan Althoff (1997) mendefenisikan komunikasi politik sebagai proses ketika informasi politik yang relevan ditentukan dari suatu bagian sistem politik ke bagian lainnya, dan di antara sistem sosial dengan sistem politik.

Komunikasi politik juga berkaitan dengan gaya yang diarahkan untuk mempengaruhi orang lain untuk menentukan pilihan politiknya. Komunikasi politik yang baik dalam kampanye akan sangat berpengaruh terhadap hasilnya. Komunikasi yang kurang baik tentunya akan berdampak pada substansi pesan yang hendak disampaikan.

Dalam sejumlah debat dan statement selama masa kampanye, publik umumnya dihadapkan dengan sejumlah gaya komunikasi politik yang menyudutkan, merendahkan paslon 02 oleh paslon lainnya atau juga oleh tim lainnya. Cara berkomunikasi yang negatif ini kemudian tentunya berdampak secara langsung kepada psikologi pemilih.

Pemilih Indonesia umumnya merupakan mayoritas pemilih yang mudah terpengaruh secara psikologis. Gimick-gimick dan komunikasi yang negatif maka akan memberikan dampak negatif pula bagi komunikatornya. Gimick dan komunikasi negatif inilah yang kemudian berpengaruh terhadap psikologi politik masa.

Psikologi politik berkaitan dengan bagaimana mengetahui perilaku manusia dari segi politik. Secara original psikologi politik mengkaji tentang kepemimpinan, perilaku politik. Selanjutnya berkembang pada relasi antar kelompok, membuat keputusan, pengaruh komunikasi, pergerakan politik maupun mobilitas politik (Erisen, 2012: 9).

Kajian psikologi politik sebenarnya berdasarkan pada dua hal. Pertama, politik paling tidak berdasarkan pilihan ataupun aksi individual ataupun kelompok. Psikologi politik tidak hanya relevan dengan kajian pergerakan ataupun struktur politik, partai, pemerintah, institusi international, hukum, kebijakan, ataupun budaya. Kedua, psikologi politik menjelaskan pilihan-pilihan politik ataupun aksi politik dalam kelompok dan individual yang bersifat karakteristik personal dan empirik (Hart, 2009: 6).

Setiap komunikasi politik akan sangat berpengaruh terhadap psikologi politik masa yang tentunya berkaitan dengan organ kepribadian seorang “makhluk politik” yang terdiri dari lima unsur yakni sikap, kognisi, nilai, identitas, dan emosi. Organ-organ kepribadian akan sangat terpengaruh jika komunikasi atau gaya berkomunikasi ditampilkan secara negatif dan akan direspon secara negatif pula. Kampanye-kampanye yang bersifat negatif akan sangat berdampak pada organ-organ kepribadian pemilih.

Bertolak dan berkaca pada dinamika pemilu 2024 kali ini kita dihadapkan pada fenomena-fenomena politik yang harusnya disikapi secara bijak. Publik dan tentunya para elit politik hendaknya belajar dari dinamika ini bahwa untuk mencapai kemenangan gunakanlah cara-cara yang elegan, sampaikan visi dan misi secara positif dengan menggunakan cara-cara yang positif. Sebab visi dan misi yang baik disampaikan dengan cara yang tidak baik maka visi dan misi tersebut akan kehilangan substansinya. Oleh karena itu keangkuhan politik akan menjadi petaka, sebaliknya kerendahan hati dan politik elegan akan mendatangkan maslahat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya