Pertunjukkan Boneka Tali dalam Kepemimpinan

Pegawai Negeri Sipil
Pertunjukkan Boneka Tali dalam Kepemimpinan 25/11/2023 211 view Lainnya Pexels.com

Dalam dunia kepemimpinan, terdapat pertunjukkan yang terjadi di balik panggung yang tidak selalu terlihat oleh mata awam. Seperti pertunjukkan boneka kayu yang memukau penonton dengan gerakan yang terkoordinasi. Gerakan boneka yang terkoordinasi ini tentu diperankan oleh seorang pemain boneka. Boneka-bonekanya tentu dengan jelas dapat dilihat setiap orang dengan kasat mata. Sementara pemain bonekanya sering tidak menampilkan dirinya. Pemain boneka atau Dalang ini sering kali berada di balik layar atau membelakangi layar. Tidak menjadi sorotan bagi penonton pertunjukan boneka.

Pertunjukkan akan terlihat menarik bila dalangnya mahir. Sayangnya, dalam dunia kepemimpinan organisasi, banyak boneka-boneka ini yang menjadi pimpinan. Jadi, mereka hanya digerakkan oleh seseorang di balik layar. Pimpinan Boneka ini tentu akan berupaya penuh untuk menentukan arah organisasinya sesuai dengan keinginan dalang. Padahal, secara teori-teori kepemimpinan, hal ini tentu tidak tepat. Bahkan kondisi ini akan secara terang-terangan menyebabkan pelanggaran etika.

Pelanggaran etika kepemimpinan boneka dapat terjadi ketika pemimpin boneka tidak memenuhi tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin sebagaimana yang tertuang di dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Organisasinya. Pelanggaran etika juga dapat terjadi ketika pemimpin boneka tidak jujur dan transparan dalam menjalankan tugasnya, serta tidak memperhatikan kepentingan organisasi dan hanya memikirkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Selain itu, pemimpin boneka juga dapat melakukan pelanggaran etika ketika mereka hanya berpura-pura dan menampilkan diri yang baik di depan publik, tetapi sebenarnya melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral dan etika.

Pelanggaran etika kepemimpinan boneka dapat berdampak buruk pada kepercayaan terhadap pemimpin dan organisasi yang dipimpinnya, serta dapat merugikan kepentingan organisasi secara keseluruhan.

Erving Goffman dalam bukunya, The Presentation of Self in Everyday Life mencetuskan Teori Dramaturgi. Sebuah teori dalam sosiologi yang menggambarkan interaksi sosial dalam masyarakat seperti drama panggung.

Seperti dalam dunia panggung teater, individu cenderung berusaha mempertahankan citra diri yang baik dan mencoba mengelola kesan agar diterima dan dihargai oleh orang lain. Teori dramaturgi juga mengenal konsep fase penampilan, yaitu dua aspek dalam berinteraksi dengan orang lain, yaitu fase depan (front stage) dan fase belakang (back stage).

Fase depan adalah tempat individu membangun dan menunjukkan sosok ideal dari identitas yang akan ditonjolkan dalam interaksi sosialnya, sedangkan fase belakang adalah tempat individu menyiapkan segala sesuatu untuk ditunjukkan pada fase depan dan karakter asli seorang individu dapat ditunjukkan di fase belakang.

Teori dramaturgi memberikan pemahaman tentang bagaimana seseorang berinteraksi dalam masyarakat dan mengenali peran sosial yang dimainkan.

Sayangnya, bila teori tersebut dibawa ke atas panggung kepemimpinan boneka, maka akan ada dua panggung juga. Panggung pertama atau panggung depan adalah ketika pemimpin boneka berinteraksi dengan rekan-rekan sesama pimpinan dan anggota organisasinya. Panggung kedua adalah ketika mereka di dalam kelompoknya bertemu dengan dalang yang jarang tampil tadi.

Di panggung pertama, pemimpin boneka akan bicara tentang moral, kesejahteraan, dan taat aturan atau pedoman-pedoman organisasi dengan lantangnya. Menjadikan hal ini sebagai narasi-narasi indah bagi semua anggota organisasi.

Sangat ideal untuk menampilkan upaya-upaya ideal dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Namun, apakah idealisme tersebut juga dibawa ketika dia berada di kelompoknya? Ketika pimpinan boneka melakukan rapat-rapat rahasia dengan dalangnya.

Jawabannya tentu tidak, pimpinan boneka ini tentu akan mengikuti arah tali yang digerakkan oleh dalangnya. Pasca pelantikan sebagai pimpinan hingga akhir masa jabatan mereka tentu akan menggerakkan organisasi sesuai perintah dalang.

Begitu pula ketika tugas dan tanggung jawab organisasi tidak terlaksana. Tentu mereka akan mati-matian menggunakan berbagai narasi lainnya untuk membela sepenuh jiwa dalang dan keputusan mereka.

Tujuan-tujuan organisasi yang pada umumnya dicetuskan oleh pendiri organisasi dengan tujuan kebaikan akan berubah arah. Berbalik menjadi untuk melenggangkan tujuan-tujuan kelompok atau individu.

Sayangnya, pada periode pemilihan, Dalang telah merencanakan makar agar anggota organisasi memilih pemimpin bonekanya. Dalang tentu mengeluarkan semua sumber dayanya agar cita-citanya berhasil tercapai.

Robert King Merton, seorang sosiolog terkenal, memperkenalkan konsep disfungsi sebagai bagian dari teorinya tentang struktur sosial dan fungsionalisme. Konsep ini membantu kita memahami bagaimana suatu aspek dalam masyarakat dapat memiliki efek negatif atau konsekuensi yang tidak diinginkan.

Disfungsi, dalam konteks teori struktural-fungsional Merton, merujuk pada efek negatif atau ketidaksempurnaan dalam suatu bagian dari struktur sosial yang dapat mengganggu keseimbangan dan stabilitas sistem secara keseluruhan.

Terpilihnya pemimpin-pemimpin boneka ini tentu telah menyebabkan disfungsi dalam struktur organisasi yang berjalan. Merton kemudian mengidentifikasi dua jenis disfungsi: manifest dan latent.

Manifest disfunction adalah dampak negatif yang terlihat atau disadari oleh anggota. Contohnya bisa berupa kebijakan pimpinan yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan anggota, tetapi justru menciptakan masalah baru atau ketidaksetaraan. Sebagai contoh, dalam konteks sistem pendidikan, manifest disfungsi mungkin terjadi jika kebijakan pimpinan boneka menghasilkan biaya yang tinggi, tetapi tidak meningkatkan mutu pendidikan dan kesejahteraan guru.

Sementara latent disfunction adalah dampak negatif yang muncul tanpa disadari oleh anggota. Ini adalah konsekuensi yang tidak diinginkan atau tidak terduga dari suatu tindakan atau kebijakan.

Misalnya, dalam sistem pendidikan, penggunaan asesment nasional berbasis komputer untuk menilai mutu pendidikan dapat memiliki latent disfungsi dengan menciptakan tekanan berlebihan pada siswa dan guru, meningkatkan tingkat stres, dan disfungsi latent lainnya.

Merton tidak hanya menyoroti disfungsi untuk mengkritik struktur organisasi, tetapi juga mengajukan pertanyaan tentang bagaimana pimpinan dan anggota organasasi lainnya menanggapi dan menyelesaikan masalah-masalah ini.

Mengenali dan memahami disfungsi adalah langkah awal untuk mengatasi masalah tersebut dan meningkatkan keseimbangan dalam struktur organisasi. Namun, dalam panggung boneka, pimpinan boneka ini sering kali gagal untuk mengidentifikasi masalah, dan tidak mau tahu masalah. Mereka sebagai pimpinan boneka bahkan mungkin tidak tahu tugas pokok dan fungsinya sebagai pimpinan.

Mungkin hanya sekedar nama dalam struktur organisasi yang disahkan dalam Surat Keputusan Pengangkatan Pimpinan Organisasi. Tanpa ada identifikasi masalah, tentu tidak akan ada solusi akar penyebab masalah. Belum lagi bila berbicara tentang kemungkinan dan peluang untuk pengembangan organisasi lainnya.

Sebagai penutup, dalam pertunjukkan kepemimpinan yang seringkali mirip pertunjukkan boneka tali, terdapat paradoks di mana pemimpin seharusnya menjadi bidak penting dalam menggerakkan organisasi, tetapi dalam banyak kasus, mereka justru menjadi boneka yang dikendalikan oleh kepentingan di balik layar.

Pemimpin boneka, sebagaimana dijelaskan melalui analogi pertunjukkan boneka tali, sering kali hanya menampilkan citra diri yang indah di depan publik, tetapi sebenarnya digerakkan oleh dalang yang berada di belakang layar. Ini menciptakan disfungsi dalam struktur organisasi, di mana tujuan organisasi mungkin terdistorsi oleh ambisi dan kepentingan individu atau kelompok tertentu.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya