Perpustakaan Digital: Infrstruktur Pendidikan Di Tengah Pandemi

Mahasiswa
Perpustakaan Digital: Infrstruktur Pendidikan Di Tengah Pandemi 09/10/2020 746 view Pendidikan pixabay.com

Dampak pandemi Covid-19 hingga saat ini hampir menyentuh semua lini kehidupan. Berawal dari portal kesehatan, Covid-19 kini ikut mempengaruhi dinamika dunia pendidikan.

Terhitung Maret 2020, hampir semua institusi pendidikan sudah memberlakukan sistem belajar berbasis online. Tak ada tatap muka di kelas. Semua peserta didik diwajibkan belajar dari rumah dengan fasilitas gadget. Dalam proses pembelajaran sistem online ini, tak sedikit dijumpai kendala. Kadang dijumpai banyak keluhan terutama bagaimana peserta didik mengakses sumber-sumber pengetahuan. Perpustakaan universitas dan sekolah, misalkan, mungkin tidak dapat diakses karena kendala protokoler penanganan Covid-19. Maka, satu-satunya cara adalah beralih ke sistem belajar daring.

Dengan sistem belajar demikian, mahasiswa dan pelajar umumnya, diberi kesempatan cukup luas untuk belajar mandiri. Di sini peran perpustakaan digital menjadi penting. Perpustakaan digital membuat koneksi ke sumber-sumber pengetahuan tetap terhubung.

Evolusi Perpustakaan

Pada zaman Yunani Kuno, pepustakaan terus dikembangkan. Plato dan muridnya Aristoteles mulai mengumpulkan tulisan-tulisan mereka untuk diwariskan ke generasi berikutnya.

Pada Abad Pertengahan, perpustakaan semakin dirampingkan seiring berkembangnya universitas-universitas. Banyak institusi akademis mulai mengelompokkan buku-buku tertentu untuk dijadikan referensi akademis, sumber pengetahuan mahasiswa, dan kerangka penunjang bagi tim pengajar.

Hadirnya perpustakaan pun membuat pengetahuan semakin dijaga, dikelola, dan dirawat untuk diwariskan. Dengan demikian, pengetahuan diinstitusionalisasikan. Perpustakaan dengan sistem pengawasan, penyediaan fasilitas penunjang berupa ruangan seringkali dinamakan perpustakaan tradisional.

Memasuki era tahun 1960-an, dunia mulai berkenalan dengan teknologi. Kehadiran teknologi diyakini sebagai buah dari transformasi pengetahuan – yang dikelola melalui interaksi dengan realitas dan tentunya tidak terlepas dari interaksi dengan buku-buku di perpustakaan.

Kehadiran teknologi mempermudah sistem kerja manusia. Di kanal komunikasi, teknologi membuat yang jauh menjadi dekat. Kemudahan yang ditawarkan teknologi kemudian membuat manusia menjadi semakin kreatif dan inovatif. Infrastruktur paling potensial yang dihasilkan teknologi adalah komputer dan internet. Kedua infrastruktur ini membuat manusia selalu terkoneksi (connected).

Di dunia pendidikan, komputer dan internet membuka cara kerja baru. Pengetahuan menjadi mudah untuk diakses dengan koleksi sumber-sumber yang selalu up to date.

Proses akses pengetahuan dengan sistem komputer dan koneksi menciptakan sebuah konstruksi koleksi sumber-sumber pengetahuan berbasis digital. Dengan portal World Wide Web (WWW), segala literatur akademis mudah diakses dan selalu tersedia. Perpustakaan hasil kekuatan teknologi diberi nama perpustakaan digital. Pada perpustakaan digital, sumber-sumber pengetahuan bisa diakses melalui banyak gateway, seperti bookfi, google book, JSTOR, ebscoo, dll.

Potential Benefits Perpustakaan Digital

Interaksi berkala antara manusia dan perkakas teknologi – komputer, handphone – membuat manusia merasa bergantung. Ketergantungan ini adalah hasil dari keakraban yang dibangun terus-menerus. Istilah-istilah, seperti internet friendly, gadget friendly, log in/log out, sign in/sign out adalah produk dari interaksi dengan perkakas teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi membentuk suatu budaya baru, yakni budaya digital. Transformasi yang dibangun atas kelola teknologi ikut mempengaruhi sistem distribusi pengetahuan – dari sistem book-print menuju era paperless.

Perpustakaan tradisional dengan sistem pengawasan, pengorganisasian terstruktur, penyediaan fasilitas penunjang serta penetapan aturan telah membesarkan banyak orang dan membantu dunia akademis. Akan tetapi, tuntutan agar pendidikan tidur seranjang dengan kemajuan membuat sistem distribusi pengetahuan mulai diubah. Kolaborasi antara teknologi – komputer dan internet – dengan sumber-sumber pengetahuan tertulis (buku, jurnal, hasil riset, dll.,) menciptakan sebuah ruang koleksi yang available dan portable. Ruang koleksi ini kemudian dinamakan perpustakaan digital. Perpustakaan digital adalah suatu model perpustakaan dengan sistem komputer berbasis jaringan, yang memuat berbagai koleksi buku, jurnal, hasil riset.

Beberapa potential benefits dari perpustakaan digital, antara lain: pertama, perpustakaan digital mudah dijinjing (portable). Perpustakaan digital adalah temuan yang sangat menolong aktivitas akademis. Seorang mahasiswa tidak lagi dituntut harus ke perpustakaan tradisional untuk mengakses sumber-sumber. Dengan bantuan internet dan komputer, segala sumber (resources) pengetahuan dapat diakses dan disave pada bank data. Dengan demikian seorang mahasiswa bisa membangun sebuah perpustakaan pribadi. Perpustakaan ini menyimpan puluhan ribu buku dengan Portable Document Format (PDF). Perpustakaan digital mudah dijinjing dan digunakan di berbagai tempat.

Kedua, perpustakaan digital membawa perpustakaan kepada para pengguna. Pada perpustakaan tradisional biaya akses sangat dibutuhkan. Seorang mahasiswa akan menyediakan waktu ekstra ketika mengunjungi perpustakaan tradisional. Waktu tempuh perjalanan menuju lokasi perpustakaan dan biaya perjalanan adalah sebagian dari ongkos akses ketika menghampiri perpustakaan tradisional.

Perpustakaan tradisonal menuntut seseorang untuk mengunjungi perpustakaan. Problemnya, banyak peneliti merasa kesulitan ketika harus menyelesaikan penelitian dengan sumber-sumber yang terpisah dari satu perpustakaan ke perpustakaan yang lain. Sebaliknya pada perpustakaan digital, perpustakaan justru diantar ke kursi pengguna tanpa batas waktu dan tempat. Pengguna dengan leluasa mencari sumber-sumber pengetahuan tanpa harus ke perpustakaan tradisional untuk membaca dan meminjam buku. Perpustakaan digital berjalan dengan baik dengan dua infrastruktur utama, yakni komputer dan sistem koneksi (internet).

Ketiga, informasi di perpustakaan digital selalu tersedia (the information is always available). Hal menarik yang perlu kita ketahui adalah bahwa pintu-pintu perpustakaan digital tidak pernah tutup (the doors of the digital library never close). Penelitian di beberapa universitas di Inggris memperlihatkan bahwa sebagian dari mahasiswa memilih menggunakan perpustakaan digital karena perpustakaan tradisional cepat ditutup. Akses menuju perpustakaan tradisional sangat mahal dan membutuhkan waktu ekstra. Perpusatkaan digital selalu membuka pintu untuk diakses oleh siapa saja dan tanpa batasan waktu.

Keempat, komputer membantu kegiatan searching dan browsing. Kekuatan komputer bisa digunakan untuk mengakses informasi. Dengan sistem komputer proses pencarian sumber-sumber pengetahuan menjadi mudah. Selain mempermudah pencarian informasi akdemis, komputer juga membantu mengelompokkan data, proses highlight teks, dan jenis buku yang hendak dibaca.

Kelima, perpustakaan digital mempermudah proses distribusi pengetahuan. Perpustakaan digital menyediakan banyak sumber. Sumber-sumber yang disediakan mengizinkan siapa saja untuk mengakses. Pada perpustakaan tradisional, seseorang mungkin harus menunjukkan kartu perpustakaan atau kartu identitas ketika berkunjung. Sistem pengorganisasian seperti ini – pengawasan, penerapan tata tertip – membuat seseorang menjadi tidak bebas. Perpustakaan digital mengizinkan siapa saja untuk mengakses pengetahuan dan memberi ruang bagi semua orang untuk membagikan pengetahuannya (information can be shared).

Keenam, perpustakaan digital mempermudah penyimpanan dokumen. Data-data mengenai sumber bacaan menjadi mudah untuk disimpan. Sistem portable document format (PDF) membantu pengguna untuk menyimpan data dengan baik. Informasi selalu tersedia untuk diakses.

Ketujuh, bentuk-bentuk informasi yang baru menjadi mungkin dalam sistem perpustakaan digital.

Hyperlink Connection

Banjir informasi dan pengetahuan tentunya memperlebar wawasan seseorang secara tidak langsung. Selain menjamin keterhubungan dengan berbagai situasi di belahan dunia dengan berbagai tautan informasi, teknologi berbasis internet juga menyediakan konstruksi sistem pencarian informasi lintas koneksi. Hyperlink connection ini menjamin kehausan rasa curiosity para pengguna teknologi dan internet.

Di beranda pendidikan, kehadiran fasilitas berbasis e-book dan e-journal adalah sebuah sumbangsih positif bagi dunia akademis. Seorang mahasiswa atau pendidik akan terbantu dengan sistem koneksi yang dibangun oleh dua infarstruktur utama teknologi, yakni komputer dan internet. Proses akses pengetahuan hanya dikelola dengan sistem searching dan browsing.

Perpustakaan digital pada dasarnya dijamin oleh adanya koneksi internet. Proses searching dan browsing buku-buku hanya bisa dilakukan jika koneksi memadai. Hal ini tidak menjadi suatu problem krusial dalam pengelolaan perpustakaan digital karena buku-buku hasil searching dan browsing bisa diunduh dan dibaca saat offline. Selain dijamin oleh adanya koneksi internet, perpustakaan digital juga menjamin koneksi setiap saat. Kebaruan informasi di portal pendidikan diakses setiap saat tanpa batas waktu.

Para pengguna perpustakaan digital bisa membagikan tulisan hasil kolaborasi pengetahuan mereka dari kegiatan membaca kepada para pengguna yang lain dengan sistem network sharing. Proses transformsi pengetahuan, dengan sendirinya selalu diperbaharui secara terus-menerus. Hyperlink connection membantu kegiatan sharing pengetahuan lintas ilmu.

Dengan demikian, transformsi pengetahuan selalu dibangun atas berbagai interaksi, baik interaksi lintas disiplin ilmu maupun melalui interaksi berbagai informasi yang terhubung melalui internet. Interaksi pengetahuan membuka sebuah pola interaksi yang tidak terputus dalam pertumbuhan aspek akademis dan kemajuan cara berpikir seseorang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya