Perokok di Usia Remaja

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta Konsentrasi Media dan Jurnalisme
Perokok di Usia Remaja 31/05/2022 76 view Lainnya bisnis.com

Remaja selalu akrab dengan rasa penasaran yang tinggi. Keinginan mereka untuk mencoba berbagai hal baru sulit untuk dibendung. Salah satunya adalah keinginan para remaja untuk mencoba mengatasi rasa penasaran mereka terhadap merokok.

Masa remaja merupakan masa perubahan emosi, fisik, minat, dan pola perilaku. Remaja mulai meninggalkan sikap dan tingkah laku yang kekanak-kanakan, dan mulai menunjukkan kemampuan berperilaku dewasa. Salah satunya adalah perilaku merokok. Merokok dapat menimbulkan berbagai dampak negatif bagi remaja baik dari segi kesehatan hingga ekonomi. Remaja perokok di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.

Prevalensi remaja perokok usia 10-18 tahun di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Global Youth Tobacco Survey tahun 2014 melaporkan bahwa Indonesia memiliki jumlah remaja perokok terbesar di dunia. Studi awal yang dilakukan pada 113 siswa dari 3.076 siswa atau 3,6 persen siswa di tiga SMP di Surabaya Utara ditemukan merokok oleh guru BK. Mereka menemukan siswanya merokok di area sekolah dan kantin di sekitar sekolah, dan juga guru mengatakan bahwa mereka berasal dari keluarga perokok.

Pada umumnya, remaja mulai merokok pada usia 9 hingga 12 tahun. Biasanya dipengaruhi oleh kurangnya informasi, termakan iklan, atau terbujuk rayuan teman. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Jantung Indonesia, sebanyak 70 persen siswa remaja merokok karena pengaruh dari lingkungan pertemanan tanpa mengerti efek berbahaya jangka panjang. Padahal rokok mengandung banyak zat berbahaya.

Salah satu zat berbahaya yang terkandung dalam sebatang rokok adalah zat nikotin, Zat ini memiliki efek candu bagi pengkonsumsi. Selain efek candu, nikotin dapat merusak jaringan otak, menyebabkan penggumpalan darah, serta penyempitan pada pembuluh darah arteri. Tar adalah zat lain yang terkandung dalam rokok. Efek samping seperti disfungsi saraf pusat dan percepatan detak jantung disebabkan oleh zat yang satu ini.

Karbon Monoksida merupakan kandungan lain yang terdapat dalam rokok yang memiliki efek meracuni darah karena mengikat hemoglobin darah 200 kali lebih kuat dari pada oksigen. Kemudian ada karsinogen, zat yang merangsang tumbuhnya sel-sel kanker di dalam tubuh. Dan yang terakhir ada iritan, yaitu zat yang mengganggu saluran pernafasan, kantong udara, dan paru-paru. Beberapa gangguan organ tubuh yang bisa disebabkan oleh rokok masih tidak disadari oleh mayoritas remaja perokok. Padahal dalam sebatang rokok mengandung >4.000 senyawa kimia dan >400 zat racun yang sangat membahayakan tubuh.

Selain berdampak buruk pada kesehatan, merokok bagi remaja akan membawa pengaruh negatif pada kondisi perekonomian. Perilaku merokok pada dasarnya membutuhkan banyak uang, ditambah lagi dengan fakta bahwa harga rokok semakin naik tiap tahun. Khusus tahun 2022, harga rokok meroket sebesar 12,5 persen sesuai dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh kementerian keuangan per tahun ini.

Mayoritas remaja masih belum memiliki penghasilan sendiri, sehingga merokok jadi opsi paling buruk bagi mereka yang ingin mempunyai tabungan untuk masa depan. Ketika remaja kehabisan uang untuk membeli rokok, sedangkan mereka sudah mengidap kecanduan, maka segala tindakan akan diambil demi memenuhi ketergantungannya terhadap rokok. Akhirnya, sering ditemui berbagai kasus kriminal remaja secara tidak langsung dilatarbelakangi oleh kondisi ekonomi.

Hasil penelitian Universitas Airlangga pada 2020 menunjukkan bahwa kontrol perilaku remaja berhubungan dengan tindakan merokok di usia remaja. Faktor yang paling berpengaruh adalah kontrol perilaku yang dirasakan. Remaja percaya bahwa, berada di sekitar orang perokok memberi mereka motivasi untuk berperilaku merokok. Mereka meyakini bahwa orang di sekitar menyetujui mereka untuk merokok. Temuan ini didukung oleh hasil data demografi responden yang menunjukkan remaja awal yang merokok mayoritas berasal dari keluarga perokok.

Hal tersebut memberi kesimpulan bahwasannya kontrol orang tua sangatlah penting untuk mencegah para remaja mulai untuk merokok. Peran mereka dibutuhkan dalam melakukan sosialisasi dampak bahaya merokok dari berbagai aspek, baik dari kesehatan hingga ekonomi.

Selain itu, para perokok di usia remaja sering kali berusaha meniru apa yang mereka lihat di sekitarnya. Seperti berada di lingkungan perokok aktif mendorong mereka untuk melakukannya sendiri, karena sudah melihat hal tersebut sebagai kewajaran. Kondisi ini berlangsung lama sehingga membentuk kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

Kebiasaan merokok yang umumnya hanya dilakukan oleh pria dewasa kini banyak dilakukan oleh siswa sekolah menengah pertama karena lingkungan sosial yang membuat mereka berperilaku demikian. Hal-hal yang sebetulnya tidak patut dan dianggap menyimpang ternyata merupakan perilaku yang wajar dan bisa dimaklumi. Masyarakat tidak heran lagi pada perilaku merokok remaja SMP terutama di kota-kota besar.

Menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia pada 31 Mei, dan melihat kondisi perokok remaja di Indonesia yang semakin marak, maka perlu adanya peran dari berbagai pihak untuk mengurangi kebiasaan yang dapat merusak generasi muda.

Selain peran orang tua sebagai “sekolah pertama”, peran dari lingkungan yang lebih luas juga dibutuhkan. Contohnya seperti pihak sekolah yang perlu memberikan wadah kreativitas bagi remaja supaya mencegah mereka kesulitan mengembangkan bakatnya. Ketika remaja sudah sibuk dengan pengembangan diri mereka secara ketat, maka mereka akan jauh dari lingkungan sosial yang buruk. Sehingga lambat laun, perilaku merokok di kalangan remaja dapat berkurang. Selain itu, Pemerintah perlu terus mengawasi program pengembangan diri remaja dengan baik, sehingga setiap proker yang dilaksanakan dapat memberikan dampak yang signifikan dalam menekan angka perokok remaja di Indonesia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya