Perilaku Pacaran Remaja Jaman Now

PNS BKKBN
Perilaku Pacaran Remaja Jaman Now 04/02/2020 1471 view Budaya pixabay.com

Di dalam sebuah angkutan umum bus kota, terpaksa saya harus berdiri karena semua tempat duduk penuh. Tapi karena saya berdiri tersebut, maka saya dapat melihat perilaku orang-orang sesama pengguna bus, terutama yang ada di sekitar saya, baik yang duduk maupun yang berdiri.

Pandangan saya langsung tertuju kepada dua remaja putra dan putri berseragam abu-abu yang duduk tepat di depan samping kanan saya. Mereka berdua begitu asyik ngobrol. Namun alangkah terkejutnya saya, bahwa di tengah-tengah mereka ngobrol sesekali diselingi dengan ciuman hangat antar keduanya.

Saya pun menyimpukan bahwa dua remaja putra dan putri berseragam abu-abu tersebut sedang pacaran.

Mungkin pengalaman saya mengenai apa yang saya lihat kepada sepasang remaja putra dan putri di dalam sebuah angkutan umum bus kota, juga pernah anda saksikan di tempat-tempat umum yang lainnya, bukan hanya sekedar di dalam bus kota saja.

Dulu sewaktu saya berseragam abu-abu, berpacaran dengan lawan jenis hanya melalui titip salam lewat teman dekatnya atau juga menulis surat cinta ala remaja waktu itu.

Namun pemandangan yang saya lihat di dalam bus tersebut, memberikan gambaran kepada kita bahwa perilaku pacaran remaja saat ini jauh lebih vulgar dan lebih berani mengekpresikan diri melalui ‘ciuman’ bahkan di dalam bus yang merupakan angkutan umum dan seolah-olah mereka tidak memiliki rasa malu dilihat orang lain.

Perilaku pacaran remaja jaman now baik untuk remaja laki-laki maupun remaja perempuan jika kita perhatikan dan amati bersama semakin berani dan semakin permisif. Hal ini setidaknya dibuktikan dengan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 sampel remaja.

Dari hasil tersebut ditemukan bahwa kebanyakan remaja perempuan dan remaja laki-laki mengaku ketika berpacaran melakukan aktivitas berpegangan tangan (64% remaja perempuan dan 75 % remaja laki-laki), berpelukan (17% remaja perempuan dan 33% remaja laki-laki), cium bibir (30 % remaja perempuan dan 50% remaja laki-laki), dan meraba-raba (5% remaja perempuan dan 22% remaja laki-laki).

Bahkan lebih dari itu, ada pengakuan dari remaja perempuan maupun laki-laki bahwa mereka telah melakukan hubungan seksual pranikah yaitu sebanyak 8 (delapan) persen remaja laki-laki dan 2 (dua) persen untuk remaja perempuan.

Mereka yang mengaku telah melakukan hubungan seksual pranikah tersebut dengan alasan antara lain adalah sebesar 47 persen saling mencintai, 30 persen penasaran/ingin tahu, 16 persen terjadi begitu saja, masing-masing 3 persen karena dipaksa dan dipengaruhi teman.

Sebagai anak yang tumbuh menjadi remaja, ketertarikan terhadap lawan jenis adalah sesuatu yang wajar dan memang sudah semestinya. Ketertarikan tersebut sering kali diwujudkan dalam perilaku berpacaran.

Namun pada diri remaja itu sendiri harus mampu mengontrol aktivitas pacarannya dari perilaku beresiko yaitu perilaku yang mengarah pada hubungan seks sebelum nikah atau seks pra nikah (sex before marriage).

Untuk itu dalam perilaku berpacaran remaja sebaiknya menghindari perilaku pacaran yang beresiko yang bisa menjurus kepada hubungan seks sebelum menikah seperti kissing, petting, necking karena hal tersebut bisa menyebabkan remaja melakukan intercourse yang bisa merugikan masa depan remaja itu sendiri.

Kita menyadari bahwa remaja merupakan tahapan penting dalam kesehatan reproduksi. Masa remaja merupakan periode pematangan organ reproduksi manusia yang disebut juga dengan masa transisi, yaitu pada masa tersebut terjadi perubahan fisik yang cepat, terkadang tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan/mental.

Ketidakseimbangan perkembangan mental pada masa transisi tersebut dapat menimbulkan kebingungan pada remaja yang dikhawatirkan dapat membawa remaja pada perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab seperti perilaku pacaran yang mengarah untuk melakukan hubungan seksual pranikah atau seks bebas.

Dampak pada perilaku tersebut antara lain terjadinya kehamilan remaja, kehamilan yang tidak diinginkan hingga upaya pengguguran yang tidak aman.

Selain itu remaja juga beresiko terhadap tertular penyakit menular seksual (PMS), dan berhadapan dengan dampak sosial seperti putus sekolah, stigma masyarakat dan sanksi sosial lainnya.

Untuk itu agar resiko-resiko itu tidak terjadi dan menimpa pada remaja, maka ada baiknya remaja menghidari perilaku pacaran yang beresiko.

Jika memang anda para remaja yang sedang jatuh cinta dan melakukan pacaran serta benar-benar sayang pada pacar anda yaitu calon pasangan anda, maka cara membuktikan rasa sayang itu adalah dengan menghidari hubungan seksual pranikah dan perilaku pacaran yang beresiko yang dapat menjurus kepada hubungan seks sebelum menikah.

Ada baiknya jika anda benar-benar sayang pada pacar anda, maka selesaikan dulu sekolahmu, lalu tunda pacaran dan menikahlah setelah matang secara ekonomi, matang secara fisik, matang secara psikis dan matang secara sosial serta organ-organ repoduksi juga sudah sempurna untuk bereproduksi. Selamat menunda pacaran.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya