Pergeseran Budaya Bermaaf-Maafan di Lebaran

Pembelajar
Pergeseran Budaya Bermaaf-Maafan di Lebaran 13/04/2024 89 view Budaya Bacakoran.Co

Saya sering heran dengan perilaku orang zaman sekarang. Mereka suka sekali mengabaikan hal yang prinsipil lebih memilih kesenangan sesaat. Dalam konteks ini adalah adanya pergeseran budaya bermaaf-maafan yang terjadi ketika lebaran. Misalnya: banyak orang sekarang lebih memlilih berlibur ke tempat pariwisata daripada berkunjung ke rumah handai taulan yang jauh (padahal sebenarnya tidak jauh-jauh juga). Lebih memilih mengirimkan permintaan maaf lewat text WA atau lewat telepon daripada bertemu wajah secara langsung.

Jika memang faktor biaya yang mempengaruhi. Katakanlah jika berkunjung biayanya lebih mahal dibandingkan jika berlibur ke tempat wisata, apakah hal itu bisa menjadi penghalang silaturahmi? Toh, ini kan cuma satu tahun sekali. Kenapa masih berhitung matematis untung rugi seperti itu?

Dengan maraknya perilaku tersebut, kalau tidak segera ditanggulangi, budaya silaturahmi waktu lebaran akan semakin terkikis. Orang lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada kebersamaan kolektif. Akibatnya budaya lebaran jadi kehilangan kehangatan dan kesemarakannya. Entahlah di tempat saudara bagaimana kondisinya, setidaknya gambaran di atas terjadi di lingkungan sekitar saya. Semoga saja di tempat saudara kondisinya berbeda.

Kalau kita mau lebih sadar, silaturahmi mempunyai dampak yang besar. Selain mempererat hubungan kekeluargaan, juga dijelaskan dalam sebuah hadits: dapat memperpanjang umur dan menambah pintu-pintu rezeki. Dengan tawaran seperti itu kenapa banyak orang yang kurang berminat untuk silaturahmi?

Faktor apa yang menjadi penyebab turunnya minat untuk bersilaturahmi? Apakah memang murni faktor ekonomi? Atau ada faktor lainnya? Seperti misalnya kondisi psikologis masyarakat. Misalnya mereka menganggap silaturahmi dengan kerabat bukan menjadi sesuatu yang penting. Yang lebih penting saat ini adalah memenuhi keinginannya sendiri dengan menikmati hiburan kontemporer. Menonton film atau ke tempat wisata, misalnya. Kok seperti tidak ada waktu lain saja untuk melakukannya.

Problem manusia ada pada bagaimana ia mengatur skala prioritas dalam hidupnya. Sesuatu yang sifatnya primer (sandang, pangan, dan papan) harus segera dipenuhi. Kalau tidak, manusia tidak akan bisa menyelenggarakan kehidupan. Sementara untuk urusan yang sekunder atau tersier (tamasya) nanti saja kalau memang ada rezeki lebih dan momentum yang tepat bisa dilaksanakan. Kalau di zaman sekarang urutannya menjadi terbalik, yang sekunder dan tersier mendesak untuk segera dipenuhi sementara yang primer terbengkalai. Dalam hal ini silaturahmi dengan kerabat adalah jauh lebih penting daripada pergi liburan.

Saya berharap suasana lebaran bisa kembali pada kehangatan dan kesemarakan silaturahminya. Waktu saya masih kecil dulu, frekuensi orang yang bersilaturahmi dan bermaaf-maafan bisa bertahan sampai satu minggu penuh dari pagi sampai malam. Lha kemarin, hari pertama hanya ada satu dua orang saja yang berkunjung. Pada hari kedua pun, frekuensi orangnya tidak banyak. Tidak semua orang berminat untuk keliling ke rumah-rumah di sekitarnya. Anak-anak kecil yang biasanya membentuk gank sendiri pun hanya segelintir saja yang main ke rumah. Yang berkunjung hanya sampai sore saja, malamnya tidak ada orang yang datang. Hari-hari berikutnya kondisinya sepi betul. Sehingga akhirnya banyak orang yang memutuskan untuk kembali bekerja ke sawah.

Selain dua faktor di atas, faktor media sosial juga mempengaruhi. Tentu ini perlu penyelidikan lebih lanjut. Tapi dari perilaku masyarakatnya hal itu nampak berkorelasi. Mereka pasti akan update kegiatan liburannya selama lebaran di media sosialnya. Agak jarang saya temui orang yang update kebersamaan silaturahmi dengan keluarga atau tetangga sekitarnya.

Dulu sebelum era sosmed dan gadget yang masif. Lebaran terasa begitu kesemarakannya. Setelah berbuka puasa di hari terakhir Ramadhan, anak-anak muda datang ke musholla untuk membantu pembagian zakat fitrah. Setelah itu biasanya membuat acara makan bersama, entah dengan membakar ikan atau membuat sate. Semua orang sibuk memasak dan mempersiapkan makanan. Sejak malam takbir anak-anak kecil dan remaja melantunkan takbir sampai menjelang Shubuh. Alhasil mereka beramai-ramai tidur di musholla. Saat Azan Shubuh berkumandang mereka sholat berjamaah. Setelahnya mereka pulang ke rumah masing-masing untuk persiapan Sholat Idhul Fitri.

Saya mengamati hal itu dalam lima tahun ke belakang ini tidak pernah terjadi lagi. Dan, jelas semua itu tergantikan dengan kesibukan hiburan kontemporer. Atau katakanlah jika anak-anak mudanya sudah berkeluarga, apa tidak bisa meluangkan waktu barang sejenak saja untuk berkumpul menyemarakkan Hari Raya?

Kembali ke awal pembahasan lagi. Apakah orang merasa sudah tidak perlu menjalin silaturahmi lagi? Toh bisa digantikan dengan ucapan minta maaf lewat telpon atau bahkan text WA. Orang sekarang pengen yang mudah dan praktis, kalau bisa tidak perlu usaha dan biaya. Terlihat bagaimana sikap egois ini bekerja.

Padahal rumus dalam menjalani kehidupan ini adalah dengan mempertahankan budaya lama yang baik sambil mengelaborasinya dengan perkembangan zaman mutakhir. Dengan mengabaikan tradisi yang baik kita akan kehilangan sejarah kebudayaan kita sendiri. Kita jadi tidak punya navigasi dalam mencapai tujuan-tujuan hidup. Kita jadinya tidak tahu arah. Seperti orang tersesat. Dan tampaknya kita dengan sadar sangat menikmati kemunduran-kemunduran ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya