Pentingnya Membudayakan Pendidikan Inklusif

Pentingnya Membudayakan Pendidikan Inklusif 04/03/2020 2953 view Pendidikan Flickr.com

Pada Februari 2019 lalu, saya mewakili sekolah tempat saya mengabdi untuk mengikuti kegiatan “Sosialisasi dan Workshop Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Guru Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif”.

Kegitan ini berlangsung selama 3 hari (6-8 Februari 2019) di Sekolah Dasar Katolik Naru, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT. Narasumbernya adalah Kepala Subdit Kurikulum Direktorat PPKLK Kemendikbud RI, Ibu Tita Srihayati.

Melalui kegiatan ini, beberapa hal pokok seputar konsep dan penerapan pendidikan inklusif dapat saya tangkap, rekam, dan pahami secara baik. Oleh karena bicara seputar pendidikan inklusif masih belum familiar di dalam kehidupan masyarakat, terkhusus dalam dunia pendidikan kita, maka saya merasa penting untuk merangkumnya secara baik.

Saya menyadari bahwa rangkuman yang saya ramu melalui tulisan sederhana ini, masih jauh dari kata sempurna, namun saya merasa amat penting untuk membagikannya kepada publik. Jadi tulisan sederhana di bawah ini adalah hasil dari rangkuman kegiatan yang telah saya ikuti itu.

Undang-undang Hak Asasi Manusia No. 39 Tahun 1999 menandaskan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya, sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasanya.

Selain itu, dalam UUD 1945 pasal 28 B ayat 2 kembali menegaskan bahwa setiap anak juga berhak atas keberlangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Dalam KBBI istilah pendidikan inklusi merujuk pada kata benda sedangkan pendidikan inklusif sebagai kata sifat. Kedua istilah ini menggambarkan pendidikan yang memiliki atau mengandung nilai-nilai inklusif.

Lebih jauh, sifat inklusif diharapkan dapat terwujud dalam semua aspek kehidupan dari level keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas. Sebab inklusif juga ditandai dengan adanya keberagaman anggota dalam keluarga, masyarakat, dan sekolah yang selalu berada dalam satu kesatuan yang utuh.

Oleh karena itu, keragaman dari setiap anggota harus dihargai dan dihormati sebagai sebuah anugerah terindah dari Tuhan dan bukanlah suatu persoalaan yang maha berat. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa di muka bumi ini setiap manusia memiliki keunikan dalam keberagaman. Dan keberagaman adalah realitas mutlak yang tak terbantahkan.

Untuk itulah, kehidupan keluarga adalah pencerminan sebuah inklusivitas itu sendiri. Walau berbeda peran, status, dan karakter namun tetap satu dalam satu kesatuan hidup berkeluarga. Di dalamnya, tetap ada benih-benih untuk saling menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain.

Selanjutnya, realitas inklusivitas semacam ini diharapkan tidak saja terjadi hanya sebatas keluarga, melainkan dipraktekan juga pada level yang lebih luas yakni dalam institusi pendidikan, dan masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan inklusif diharapkan dapat terjadi dalam semua level komunitas kehidupan manusia tanpa pengecualian demi mewujudkan kehidupan yang humanis.

Hal ini sejalan dengan pandangan pusat studi pendidikan inklusif di Inggris (CSIE) yang menegaskan bahwa ada sepuluh alasan yang mendasari pendidikan inklusif, yaitu pertama, semua anak mempunyai hak untuk belajar bersama. Kedua, anak-anak tidak harus diperlakukan diskriminatif dengan dipisahkan dari kelompok lain karena kecacatannya.

Ketiga, para penyandang cacat yang telah lolos dari pendidikan segregatif menuntut segera diakhirinya sistem segregatif. Keempat, tidak ada alasan yang sah untuk memisahkan pendidikan bagi anak cacat, karena setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Kelima, banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa prestasi akademik dan sosial anak cacat yang sekolah di sekolah integratif lebih baik daripada di sekolah umum. Keenam, tidak ada pengajaran di sekolah segregatif yang tidak dapat dilaksanakan di sekolah umum. Ketujuh, dengan komitmen dan dukungan yang baik pendidikan inklusif lebih efisien dalam penggunaan sumber belajar. Kedelapan, sistem segregatif dapat membuat anak menjadi banyak prasangka dan rasa tidak nyaman.

Kesembilan, semua anak memerlukan pendidikan yang membantu mereka berkembang untuk hidup dalam masyarakat yang normal. Kesepuluh, hanya sistem inklusiflah yang berpotensi untuk mengurangi rasa kekhawatiran, membangun rasa persahabatan, saling menghargai dan memahami.

Karenanya, pendidikan inklusif dipandang sebagai proses yang diarahkan untuk merespon adanya kebutuhan peserta didik yang beragam dengan cara meningkatkan partisipasi dalam belajar, kegiatan budaya, komunitas, dan dapat mengurangi eksklusi dalam dunia pendidikan.

Lebih jauh, inklusi juga mencakup perubahan dan modifikasi isi, pendekatan, struktur, dan strategi dengan misi utamanya adalah mengakomodasi semua anak berusia sekolah yang menjadi tanggung jawab sistem pendidikan reguler untuk mendidik anak-anak bangsa menjadi lebih baik dan berkualitas dalam semua aspek hidup (UNESCO, 1994).

Maka menjadi tepat sasar ketika pendidikan inklusif juga diarahkan untuk mengakomodasi kebutuhan belajar anak yang berspektrum sangat luas dalam setting pendidikan formal maupun informal dan tidak sekadar mengintegrasikan anak-anak yang termarginalkan dalam pendidikan mainstream. Juga merupakan sebuah pendekatan humanis yang berikhtiar untuk mengubah sistem pendidikan agar dapat mengakomodasi peserta didik yang sangat beragam itu sendiri.

Stainback (dalam Sunardi, 2002) memberikan batasan pendidikan inklusif dalam konteks setting persekolahannya, yaitu sekolah yang menampung semua anak di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil.

Berdasarkan legalitas hukum serta berbagai uraian argumentatif di atas, maka pendidikan inklusif adalah opsi yang paling fundamental untuk dibudayakan sebagai sebuah pola pendidikan yang mampu mengakomodasi semua kebutuhan anak dari setiap lapisan sosial dengan tidak mempersoalkan keadaan fisik, kecerdasan, sosial, emosional atau kondisi-kondisi lainnya.

Di samping itu, dalam pendidikan inklusif harus ada elemen penting, yakni: melibatkan semua pelajar, lokasi belajar yang sama, dan pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik secara merata pula. Oleh karena itu, penerapan pendidikan yang bercorak kapitalis, favorit dan tidak favorit, seleksi yang super ketat yang hanya bisa dijangkau oleh kelas-kelas menengah ke atas, dan juga kebiasaan untuk membuat pembedaan dari segi fisik dan berkebutuhan khusus segera dihentikan.

Sebab dengan adanya label dan pembedaan-pembedaan itu, justru dunia pendidikan sedang menciptakan jurang pemisah yang semakin dalam antara orang kaya dan miskin. Sementara penerapan konsep pendidkan kapitalis, diskriminatif serta elitis dalam biaya yang mengebiri hak-hak anak justru akan semakin bertumbuh subur.

Oleh sebab itu, setiap pelaku pendidikan mesti menyadari dengan sungguh bahwa perbedaan antar manusia dengan manusia lain sudah menjadi hal yang alamiah yang tak terbantahkan. Melalui perbedaan itu, setiap manusia dimampukan untuk saling memahami satu dengan yang lainnya. Tentang ini, di akhir kegiatan, Ibu Tita Srihayati kembali menegaskan bahwa pendidikan inklusif identik dengan keterbukaan, persamaan hak, dan kebebasan dalam mengenyam pendidikan.

Untuk itu, setiap dasar hukum yang berkaitan dengan pendidikan terkhusus dalam rangka membudayakan pendidikan inklusif tidak lagi dipahami hanya sebatas tataran teoritis dan tertulis indah di atas kertas. Namun lebih daripada itu, harus segera terejawantahkan pada tataran praksis, dalam setiap lembaga pendidikan kita.

Pada akhirnya harapan akan pembudayaan pendidikan inklusif yang merdeka dalam dunia pendidikan dari Sabang sampai Merauke dapat terwujud secara berkelanjutan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya