Penelantaran: Kekerasan pada Anak yang Sering diabaikan

Penelantaran: Kekerasan pada Anak yang Sering diabaikan 27/07/2021 122 view Opini Mingguan halodoc.com

Selamat Hari Anak Nasional, ungkapan yang sering kita dengar setiap tanggal 23 Juli. Tahun ini tema perayaan Hari Anak Nasional adalah Anak Terlindungi, Indonesia Maju. Di masa pandemi ini, permasalahan-permasalahan yang timbul adalah dampak yang ikut berperan dalam perkembangan jiwa anak-anak. Anak merupakan kelompok rentan yang juga menjadi fokus dalam masa pandemi. Banyak diantaranya yang butuh perlindungan khusus, seperti anak dalam kemiskinan, anak di lembaga pengasuhan, bahkan anak di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), dan lain-lain.

Kasus Arie Hanggara (1984) bisa menjadi referensi kasus kekerasan terhadap anak yang pelakunya merupakan orang terdekat dari si anak yaitu orang tuanya sendiri. Kasus ini bahkan dibuat film yang dibintangi oleh Dedy Mizwar dan Joice Erna. Dalam film ini diceritakan bahwa kekerasan fisiklah yang menjadi sebab kematian menjemput Arie Hanggara. Namun jika ditelaah secara mendalam, kekerasan fisik yang dialami oleh si anak merupakan hasil dari perilaku lain yaitu penelantaran orang tua terhadap anaknya.

Orang tua yang mengalami stres akibat tekanan hidup akan berperilaku negatif dalam pengasuhan anak-anaknya. Pada saat mengalami tekanan psikis, seseorang cenderung abai dengan sekitar termasuk tanggung jawab dan kewajiban terhadap orang lain. Orang tua yang stres akan mengabaikan kewajiban memberi perhatian kepada anak-anaknya sehingga hak si anak tidak terpenuhi. Akhirnya, kewajiban orang tua tidak terlaksana yang berupa penelantaran anak-anaknya sendiri.

Dalam kasus Arie Hanggara, sang ayah mengalami tekanan hidup secara ekenomi, sehingga bercerai dengan istri. Anak mengalami penelantaran artinya anak tidak mendapatkan kasih sayang seutuhnya karena orang tuanya berpisah. Menurut wikipedia, pengertian penelantaran adalah melepaskan tanggung jawab dan klaim atas keturunan dengan cara ilegal. Hal ini antara lain disebabkan oleh faktor-faktor seperti faktor ekonomi dan sosial, serta penyakit mental. Faktor ekonomi adalah yang paling sering menjadi penyebab terjadinya penelantaran.

Pada masa pandemi sekarang, perekonomian negara yang menurun, keluarga menjadi semakin sulit mencari nafkah. Dengan adanya pembelakuan peraturan yang tumpang tindih dan tidak melihat resiko dari penerapan peraturan itu sendiri kian memperparah kondisi ini. Tentunya semakin banyak keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi sehingga semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Permasalahan ini tanpa disadari akan berdampak dalam interaksi dan komunikasi keluarga. Orang tua yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan anak-anaknya cenderung akan berperilaku sama seperti orang tua Arie Hanggara. Melampiaskan kemarahan dan kekecewaan dengan kondisi yang tidak terkendali kepada anak-anaknya bukanlah hal yang aneh lagi.

Sebagai orang yang sering terlibat dalam penanganan anak terlantar, saya melihat banyak faktor yang menyebabkan seorang anak diterlantarkan. Penyebab dominan adalah faktor ekonomi di mana kedua orang tua, atau salah satu orang tua harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga tidak mempunyai waktu untuk memenuhi kebutuhan emosional si anak. Kondisi broken home juga menjadi sebab lain anak diterlantarkan, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga penelantaran secara emosional.

Menurut Kementerian Sosial, Sebanyak 3.555 kasus tercatat selama Juni 2020. Kemudian bertambah menjadi 4.928 kasus pada Juli dan sebanyak 5.364 kasus pada Agustus. Selain itu, kasus yang juga cukup tinggi penambahannya yaitu anak korban kejahatan seksual serta anak korban perlakuan salah dan penelantaran. Adapun kasus anak korban perlakuan salah dan penelantaran sebanyak 766 kasus pada Juni, naik 1.116 kasus pada Juli dan Agustus bertambah menjadi 1.247 kasus (national.sindonews.com/12 Oktober 2020).

Solusi praktis untuk mencegah penelataran hanya dapat difokuskan dalam keluarga. Penelantaran dalam keluarga dapat dicegah melalui komunikasi yang intens antara anggota keluarga. Bagaimanapun komunikasi merupakan jalan utama untuk menghindari proses penelantaran. Komunikasi terutama komunikasi yang berkualitas juga adalah salah satu obat dari penelantaran yang terjadi dalam keluarga. Namun kemampuan komunikasi ini berkaitan erat dengan bentuk dan pola pengasuhan yang diterima sebelumnya.

Pasal 34 Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan "Fakir Miskin dan Anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara". Dalam hal ini, negara hanya berwenang untuk membantu warganya yang terlantar jika tidak adanya keluarga sebagai pendamping dari anak-anak tersebut. Walaupun demikian, keluarga adalah tempat terbaik untuk menghindari munculnya penelantaran dengan memberikan pengasuhan keluarga. Mari bersama kita lindungi anak sebagai generasi pelopor yang akan menjadi pemimpin bangsa ini di masa depan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya