Pencak Macan: Kearifan Lokal yang Menjanjikan

Penyuluh KB Kab Gresik
Pencak Macan: Kearifan Lokal yang Menjanjikan 14/07/2021 150 view Budaya voinews.id

Suara tabuh tabuhan terdengar ritmis mengiringi beberapa remaja pria yang nampak sedang berlatih adegan silat berpasangan, beberapa diantaranya berguling, meloncat diringi gendang, gong, sharon dan gamelan. Sebuah latihan pertunjukkan seni ternyata sedang berlangsung. Mereka ternyata sedang berlatih sebuah kesenian daerah yang di sebut dengan Pencak Macan.

Pencak macan adalah sebuah kesenian lokal warga kelurahan Lumpur, kecamatan Gresik, kabupaten Gresik. Kesenian ini sudah berusia ratusan tahun dan diwariskan dari generasi ke generasi. Atraksi ini biasanya dimainkan oleh enam orang, satu pemeran berkostum harimau (macan) putih, satu pemeran berkostum harimau (macan) kuning. Satu pemeran yang lain berkostum kera, sementara dua yang lainnya berkostum genderuwo (hantu) dan terakhir seorang pemeran berkostum pendekar.

Sepasang harimau nantinya akan beradu kekuatan dengan kera dan genderuwo dalam adegan silat. Kera dan genderuwo akan bergantian mengganggu macan, sedang sang pendekar akan mencoba melerai dan membantu macan menghadapi kera dan genderuwo. Sebuah kesenian yang jalan ceritanya nampak sederhana saja, namun setelah dikaji ternyata mengandung petuah yang sangat dalam.

Tetua dan sesepuh seni Pencak Macan menjelaskan bahwa pertarungan antara macan dengan genderuwo dan kera, sejatinya adalah gambaran manusia dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.

Dalam pertunjukan seni pencak macan, macan kuning dan macan putih adalah gambaran dari sepasang pengantin, sedangkan kera adalah orang atau hal-hal mengganggu dalam sebuah pernikahan. Genderuwo adalah gambaran dari hasrat dan keinginan dalam diri pengantin yang harus senantiasa dikelola dalam membina kehidupan berumah tangga.

Satu peran terakhir adalah seorang pendekar yang dianalogikan sebagai alim ulama atau orang orang berilmu yang akan dijadikan rujukan ketika macan macan ini mengalami permasalahan dalam kehidupan berumah tangga.

Tak pelak lagi dari sini kita mendapatkan gambaran bahwa pencak macan adalah seni yang secara tersirat sangat kaya petuah pernikahan. Petuah petuah yang senantiasa dibutuhkan sebagai pengingat bagi pengantin ataupun calon pengantin yang akan membina rumah tangga.

Petuah untuk selalu mengingat bahwa pernikahan bukanlah akhir sebuah dongeng dengan pesan and they lived happily ever after, tapi sebuah awal untuk memulai perjalanan yang penuh dinamika. Perjalanan yang membutuhkan bermacam bekal ilmu dan kecakapan hidup yang mumpuni serta kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi.

Tingginya kasus perceraian dan perkawinan anak di Indonesia adalah salah satu bukti betapa kurangnya pemahaman pentingnya memiliki tujuan pernikahan yang tepat, serta memiliki bekal ilmu dan kecakapan hidup yang mumpuni untuk mengarungi rumah tangga.

Perkawinan tak ubahnya dianggap sebagai pesta satu malam yang akan dilanjutkan dengan pesta-pesta yang lain. Sebagai jalan keluar belitan permasalahan, mulai dari lelah mengerjakan skripsi, mengubah status jomblo menjadi berpasangan atau bahkan masalah ekonomi (ingat kisah Siti Nurbaya), sampai soal hamil duluan.

BKKBN sebagai lembaga yang diamanahi program pembangunan keluarga berusaha memberi pemahaman agar tidak terjebak dari tujuan-tujuan perkawinan yang menyesatkan tersebut. Program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) dan Penyiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR) digadang-gadang dapat sedikit menuntaskan permasalahan tersebut.

Program PUP dan PKBR diharapkan dapat menanamkan pemahaman bahwa perkawinan bukanlah permainan, bukan berisi tentang hal-hal indah seperti kisah roman, namun sebagai sebuah ibadah dan sarana membangun peradaban.

Pada perjalanananya program PUP dan PKBR ini membutuhkan media untuk mengampanyekannya. Media yang familiar, dekat, mudah dipahami dan ada dalam keseharian masyarakat setempat. Media yang mengandung muatan kearifan lokal nampaknya adalah media yang cocok untuk digunakan.

Media kampanye PUP dan PKBR dengan kearifan lokal ini diharapkan dapat menjadi media kampanye yang lebih mudah diterima alih-alih menggunakan media kampanye baru yang belum tentu cocok dengan sasaran. Media kampanye yang asing bagi sasaran juga akan rentan menimbulkan penolakan dan membutuhkan waktu yang lama bagi sasaran untuk melakukan adaptasi.

Selain kedekatan dengan sasaran, pesan moral dan petuah yang ada dalam pencak macan sendiri sudah sangat mengandung pesan kampanye PUP dan PKBR. Analogi macan yang bertarung dengan kera dan genderuwo, berusaha menyampaikan pesan bahwa menjalani perkawinan laksana mengarungi samudra kehidpuan, terkadang laut tenang, namun adakalanya penuh gelombang. Perbekalan yang mantap serta ilmu dan kecakapan hidup yang mumpunilah yang akan mempermudah penumpang kapal mengarungi lautan.

Sebagai seni hiburan pencak macan adalah sebuah kampanye lembut yang ditonton dengan santai dan penuh kegembiraan, walaupun didalamnya masih terkandung pesan tentang misi PUP dan PKBR. Sebagai media penghibur, pencak macan mampu membius para penonton untuk manggut manggut mengiyakan isi cerita, tertawa pada kekonyolan gerakan slapstick pemerannya, bahkan mengikuti contoh-contoh perilaku tokoh yang ada di dalamnya tanpa merasa digurui. Dan tanpa disadari tiba-tiba saja mereka melakukan apa yang dikampanyekan.

Pencak macan sebagai hiburan yang digandrungi, dapat disaksikan oleh berbagai kalangan; tua, muda, remaja bahkan anak-anak tak melewatkan. Satu keuntungan bagi kampanye PUP dan PKBR karena dapat mengenalkan materi PUP dan PKBR sejak dini. Pada akhirnya secara tidak langsung pencak macan menjadi penyeimbangan tontonan anak dan remaja yang seringkali dijejali sinetron dan cerita-cerita yang penuh dengan ilusi indah tentang perkawinan.

Jelas dari pemaparan di atas bahwa media dengan kearifan lokal punya poin plus tersendiri untuk dijadikan media kampanye dibanding bila menggunakan media kampanye yang bersifat nasional. Kearifan lokal yang ada didalamnya mampu membuat pencak macan menjadi media yang lebih aplikatif, mudah digunakan serta tidak memerlukan perencanaan pembuatannya. Semuanya sudah siap digunakan. Oleh sebab itu sengguh sangat layak bila pencak macan dijadikan sebuah media kampanye alternatif Pendewasaan Usia Perkawinan dan Persiapan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja dengan kearifan lokal.

Tak ada salahnya bila suatu saat seorang Penyuluh KB ikut ambil bagian dalam atraksi pencak macan dan berperan menjadi seorang pendekar, menjadi penyuluh bagi macan macan untuk memenangkan pertarungan melawan kera dan genderuwo.

Hei, bukankah itu memang sudah tugas seorang Penyuluh KB?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya