Penampilan Tanpa Merusak Bumi dan Sesama

Pegiat HAM
Penampilan Tanpa Merusak Bumi dan Sesama 12/05/2024 96 view Lainnya pribadi

Gaya hidup manusia modern mensyaratkan penampilan yang berubah dari tahun ke tahun. Dari mulai gaya rambut, busana, sepatu, jaket dan lain sebagainya, baik untuk pria maupun wanita. Perubahan gaya dalam setiap tampilan mutlak diperhitungkan dari satu tampilan ke tampilan berikutnya. Terlebih pada era kemajuan media digital. Dimana platform media massa mampu mengumandangkan setiap perubahan sekecil apapun dalam gaya yang sedang digemari saat ini.

Perubahan gaya ini tentu menuntut kreativitas para perancang. Kreativitas tidak sebatas pada desain namun juga bahan dan bahkan cara pemasarannya. Dalam dunia fashion, baik pria maupun wanita, secara keseluruhan dilihat sebagai penampilan yang meliputi pakaian, tas, sepatu, aksesori, make up dan lain sebagainya. Tren fashion bergerak cepat seiring dengan pergerakan industri mode dalam penciptaan desain-desain terbaru.

Dalam industri fashion dikenal istilah fast fashion. Dimana produk fashion bergerak dinamis dan dengan cepat berganti mengikuti atau menciptakan tren baru. Dengan demikian dilakukan penekanan pada biaya produksi dan kecenderungan masa tren yang singkat karena akan segera berganti dengan tren baru. Tren busana tahun kemarin akan nampak ketinggalan dari tren tahun ini dan tahun depan akan muncul tren baru yang mulai digaungkan di akhir tahun.

Kebalikan dengan fast fashion adalah slow fashion. Produksi slow fashion mempertimbangkan untuk membuat pakaian yang berkualitas, bersifat tahan lama, nyaman dipakai dan dapat dikenakan tanpa terpengaruh tren yang sedang berlangsung. Bahan yang digunakan tentu saja adalah bahan yang bertahan lama, tidak mudah rusak dalam pemakaian dan penyimpanan. Juga dalam pemanfaatan penggunaannya.

Fast fashion yang bergerak cepat kemudian ternyata menimbulkan banyak kritikan. Penekanan biaya produksi berarti juga terjadi penekanan pada upah buruh. Pergantian tren yang cepat juga menimbulkan masalah pada limbah pakaian. Limbah pakaian dan sepatu merupakan salah dua limbah yang sulit untuk ditekan. Hal ini kemudian mendorong munculnya sebuah konsep gerakan yang disebut ethical fashion. Ethical fashion merupakan sebuah gerakan yang memiliki konsep untuk mengurangi dampak industri fashion terhadap manusia, hewan dan bumi.

Konsep gerakan ini adalah sikap etis suatu industri terhadap hak-hak dan kesejahteraan pekerjanya. Sikap etis tersebut meliputi perlakuan terhadap pihak lain yang terlibat dalam industri terutama para pekerjanya, seperti upah, jam kerja dan usia pekerja tidak di bawah umur. Selain itu, di masa kini di mana usaha kecil bermitra dengan pekerja lepas, bagaimana penghitungan harga atau upah dilakukan dengan pertimbangan etis.

Ethical fashion mempertimbangkan hal-hal yang terkait dengan proses produksi agar tidak merusak lingkungan. Dengan memperhatikan secara teliti pada pemilihan bahan baku, pola dan motif, agar tidak menimbulkan pertentangan, pewarnaan bahan, hubungan antara pelaku industri dengan perajin, hingga kebermanfaatannya.

Praktek dari ethical fashion dapat dilakukan oleh pelaku industri dan konsumen. Menerapkan konsep ini bagi konsumen dapat berupa pertimbangan dalam pemilihan produk yang akan dibeli, agar bersifat tahan lama dan dapat didaur ulang, memilih fashion yang dapat dikenakan setiap saat tanpa terjebak oleh perubahan tren. Perawatan terhadap produk fashion dalam penggunaan dan penyimpanan, termasuk pada pihak lain yang melakukan kerja perawatan di rumah. Ethical fashion juga dapat dikatakan sebagai sustainable fashion. Seiring dengan krisis iklim yang memperparah kondisi bumi, gerakan berkelanjutan juga menjadi bagian dari industri fashion.

Sustainable fashion is a term describing efforts within the fashion industry to reduce its environmental impacts, protect workers producing garments, and uphold animal welfare. Sustainability in fashion encompasses a wide range of factors, including cutting CO2 emissions, addressing overproduction, reducing pollution and waste, supporting biodiversity, and ensuring that garment workers are paid a fair wage and have safe working conditions.

Konsep sustainable fashion mulai menjadi wacana pada sekitar tahun 60-an. Semakin terinpirasi dengan terbitnya sebuah buku berjudul ‘Silent Spring’ yang ditulis oleh Rachel Carson, seorang ahli biologi pada tahun 1962. Buku ini menceritakan tentang hutan dan lingkungannya yang sepi dari satwa liar karena terdampak penggunaan pestisida berbahan kimia DDT yang digunakan untuk membunuh serangga untuk membasmi penyakit malaria dan penyakit lain. Carson, memulai bukunya Silent Spring dengan sebuah cerita yang dia beri judul A Fable for Tomorrow. Dalam buku tersebut, Carson membahas tentang polusi bahan kimia yang telah diciptakan ternyata masih ditemukan sampai sekarang.

Gerakan sustainable semakin mendapat dukungan karena fashion dunia turut menyumbang 20% limbah air bumi dan 10% dari emisi karbon dioksida di bumi. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk mengurangi limbah industri yang menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mengurangi produksi pakaian baru. Dan mendorong kreativitas untuk menciptakan industri fashion yang berkelanjutan baik dari segi lingkungan, sosial serta ekonomi. Sehingga memberi kebermanfaatan pada lingkungan, inovasi, penghematan biaya produksi secara etis dan menciptakan iklim industri fashion yang lebih baik.

Beberapa konsep fashion di atas dapat menjadi pertimbangan bagi konsumen dalam memilih produk yang akan dibeli. Sehingga konsumen dapat lebih bijak dalam membeli, apakah membeli sebuah produk baru sesuai tren yang sedang berkembang atau berdasarkan kebutuhan. Selain itu juga latar belakang sebuah produk dalam proses produksinya secara sosial dan lingkungan.

Tentu pilihan ada di tangan konsumen. Dengan memilih produk yang berkelanjutan, kita juga turut ambil bagian dalam merawat bumi dan kepedulian pada sesama. Melakukan pertimbangan secara teliti proses produksi dan jenis desain produk yang akan dibeli, bukan berarti mereduksi penampilan. Dinamika tren dari tahun ke tahun cenderung melakukan pengulangan sehingga pemilihan produk yang tahan lama tidak akan membuat penampilan seperti ketinggalan tren.

Memilih produk dengan bahan yang tahan lama juga membantu melakukan penghematan dan menekan sikap konsumtif dengan membeli sesuai kebutuhan. Konsumen juga menjadi semakin kreatif dalam melakukan padu padan fashion atau lebih maju lagi dengan melakukan konsep 3 R, Reduce, Reuse dan Recycle. Tentukan pilihan agar bersama kita bisa memiliki kepedulian terhadap sesama dan bumi yang kita tinggali.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya