Pembelajaran Tatap Muka dan Pendidikan Karakter

Statistisi Muda di Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Riau
Pembelajaran Tatap Muka dan Pendidikan Karakter 27/09/2021 1037 view Opini Mingguan Lutvi Sirojuddin (ublik.id)

Awal September lalu saya terkejut membaca berita di media online bahwa angka putus sekolah di Kayong Utara, Kalimantan Barat meningkat selama pendemi (kalbar.inews.id). Salah satunya di SMK Negeri 1 Simpang Hilir, terdapat 19 siswa putus sekolah. Diantaranya, ada yang menikah dan bekerja.

Hantaman ekonomi selama pandemi membuat siswa mau tidak mau ikut membantu orang tua mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari. Serta pergaulan yang tidak terkontrol selama pandemi juga memicu adanya pernikahan dini.

Kasus di atas merupakan sekelumit dampak negatif tiadanya pembelajaran luring di sekolah. Terutama di sekolah negeri.

Tidak dapat dimungkiri, kondisi ekonomi orang tua siswa sekolah negeri yang beragam membuat pihak sekolah pun tidak dapat memaksakan untuk mengadakan pembelajaran secara daring. Kebutuhan adanya gadget beserta kuota internet tentunya akan memberatkan sebagian orang tua siswa.

Walhasil, dari pengamatan penulis terhadap beberapa sekolah negeri terutama tingkat dasar dan menengah di Pekanbaru, umumnya pembelajaran hanya sebatas pengerjaan tugas yang diambil setiap pekan ke sekolah. Kemudian, siswa atau orang tua mengumpulkan kembali tugas tersebut ke sekolah. Jadi, tidak ada interaksi pendidikan walaupun hanya sebatas daring seperti video call ataupun zoom meeting.


Beruntung bagi siswa yang bersekolah di swasta alias berbayar. Sebab, pembelajaran tetap dilakukan seperti jadwal biasanya, hanya saja dilakukan secara daring. Namun, tetap saja pembelajaran luring tentulah tetap yang terbaik.

Pendidikan sejatinya bukan hanya proses mentransfer ilmu dari guru ke siswa. Melainkan juga adanya penanaman nilai-nilai dalam kehidupan nyata yakni berupa keteladanan yang diberikan oleh guru.

Selain itu, pendidikan dengan cara tatap muka juga melatih siswa untuk bisa bekerja sama, melalui tugas kelompok misalnya. Tak hanya itu, interaksi langsung guru dan siswa juga memudahkan guru mendalami karakter siswa dan menemukan potensinya. Hal-hal inilah yang tidak bisa didapatkan jika dilakukan jarak jauh.

Teknologi informasi hanyalah sebuah benda yang terpaku pada pola-pola sistematis. Sedangkan memahamkan nilai-nilai kepada siswa tidak hanya pada perhitungan angka-angka matematis. Bahkan di pelajaran matematika sekalipun guru diharapkan tidak hanya mengajarkan cara berhitung kepada siswa. Tapi lebih utama kepada pemahaman konsep.

Sekali pun saat ini banyak aplikasi untuk belajar, namun tetap saja algoritmanya lebih kepada pola. Sedangkan, penilaian guru pada siswa tidak hanya terbatas pada angka-angka tapi juga nilai atau norma.

Hal tersebut sesuai dengan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Oleh sebab itu, pembelajaran tatap muka sudah selayaknya dimulai seiring dengan menurunnya angka positif Covid-19 di sejumlah wilayah di Indonesia. Namun, tetap memprioritaskan keamanan kesehatan siswa dan dan guru selama di sekolah.

Ada berbagai cara yang dapat dilakukan. Pertama, tentu saja peran orang tua untuk memberi pemahaman sejak awal kepada siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan diri sendiri dan orang-orang sekitar. Kebiasaan memakai masker, selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak tentunya sudah dijadikan pola rutin harian.

Kedua, pihak sekolah juga sebaiknya menyediakan fasilitas yang memadai untuk mencuci tangan. Selain itu juga memastikan siswa selama di sekolah tetap mematuhi protokol kesehatan dengan memastikan siswa tetap menggunakan masker dan menjaga jarak.

Ketiga, dibuat pengaturan jadwal kedatangan bagi siswa per kelasnya. Sehingga tidak akan terjadi kerumunan di sekolah. Menghindari kerumunan di sekolah adalah salah satu bentuk dan upaya dalam menjaga protokol kesehatan selama pembelajaran tatap muka dilaksanakan.

Keempat, sebaiknya guru-guru meniadakan berjabat tangan dengan siswa ketika bersalaman. Sebab sudah menjadi hal yang lazim bagi siswa untuk menyalami guru ketika datang dan pulang ke sekolah. Kegiatan bersalaman dengan guru melalui berjabat tangan dapat diganti dengan salam hormat siswa dengan mengatupkan kedua tangan di dada sambil menundukkan kepala.

Kelima, siswa dan guru yang datang ke sekolah juga harus dipastikan dalam kondisi sehat. Jika ada yang demam atau kurang fit, disarankan untuk beristirahat saja di rumah dengan memberi kabar kepada pihak sekolah.

Keenam, sebaiknya para orang tua memastikan siswa langsung membersihkan diri dengan cara mandi dan mengganti pakaian sepulang dari sekolah.

Dengan berbagai ikhtiar ini diharapkan didapatkan output berupa sumber daya manusia yang terpelajar, luhur, adaptif, dan kolaboratif untuk mencapai target pembangunan 2045. Seperti dikutip dari jurnal ilmiah dari Sri Suwartini berjudul Pendidikan Karakter dan Pembangunan Sumber Daya Manusia Berkelanjutan (2017) bahwasannya pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pendidikan yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak (kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas, dan spiritual).

Pendidikan dengan model pendidikan seperti ini berorientasi pada pembentukan anak sebagai manusia yang utuh. Kualitas anak didik menjadi unggul tidak hanya dalam aspek kognitif, namun juga dalam karakternya.

Anak yang unggul dalam karakter akan mampu menghadapi segala persoalan dan tantangan dalam hidupnya. Ia juga akan menjadi seseorang yang lifelong learner. Pada saat menentukan metode pembelajaran yang utama adalah menetukan kemampuan apa yang akan diubah dari anak setelah menjalani pembelajaran tersebut dari sisi karakterya.

“Jika Anda menjadi guru hanya sekedar mentransfer pengetahuan, akan ada masanya di mana Anda tidak lagi dibutuhkan, karena Google lebih cerdas dan lebih tahu banyak hal dari pada Anda. Namun, jika Anda menjadi guru yang juga mentransfer adab, ketaqwaan, dan keikhlasan, maka Anda akan selalu dibutuhkan, karena Google tidak memiliki semua itu” (KH. Dimyati Rois)

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya