Pemaknaan Keberagaman dan Idealisme Kolektif

Mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya
Pemaknaan Keberagaman dan Idealisme Kolektif 18/11/2022 76 view Lainnya Kompasiana.com

Indonesia tidak saja menjadi salah satu negara dengan kekayaan alam yang melimpah ruah tetapi juga menjadi salah satu negara yang terbilang cukup unik dan khas sebab masyarakatnya memiliki latar belakang yang beraneka ragam. Adapun keanekaragaman latar belakang yang dimaksud berupa suku, agama, ras, dan antar golongan.

Pada galibnya, latar belakang masyarakat yang sangat beragam tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki bangsa Indonesia. Harus diakui, realitas masyarakat yang heterogen seperti masyarakat di Indonesia tidak ditemukan di negara lain. Maka dari itu, pernyataan bahwa negara Indonesia adalah negara yang khas dan unik tentu bukan merupakan suatu generalisasi yang keliru. Siapa pun pasti menyepakati generalisasi yang demikian sebab faktanya memang sudah seperti itu.

Di satu sisi, realitas heterogenitas masyarakat Indonesia dimaknai sebagai kekayaan yang tidak dimiliki oleh negara lain, namun di sisi lain realitas yang heterogen tersebut justru dimaknai sebagai sumber petaka. Tak jarang keberbedaan dijadikan oleh masyarakat sebagai alasan untuk menciptakan kondisi chaos dalam atmosfer kehidupan bersama yang seharusnya harmonis. Tulisan ini sedikit banyaknya akan menguraikan bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia memaknai realitas yang heterogen sesuai dengan idealisme kolektif masyarakat. Pertanyaan mendasar yang perlu direfleksikan bersama ialah apakah realitas heterogenitas benar-benar merupakan kekayaan bangsa atau justru menjadi sumber petaka bagi bangsa Indonesia sendiri?

Idealisme kolektif masyarakat Indonesia akan atmosfer kehidupan yang harmonis seolah hanya sebatas ‘bunga tidur’ belaka. Berbagai kasus yang telah terjadi atas nama keberbedaan mengindikasikan bahwa masyarakat telah salah kaprah dalam memaknai realitas heterogenitas Indonesia. Harusnya masalah yang demikian tidak akan terjadi seandainya masyarakat memaknai keberagaman secara positif, sebagaimana mestinya.

Pada hakikatnya, heterogenitas atau keberagaman harus dimaknai secara positif_sesuai idealisme kolektif_sebagai sederet kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dijumpai dalam atmosfer kehidupan bangsa lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekayaan berarti perihal (yang bersifat, berciri) kaya. Kata kekayaan memiliki kata dasar ‘kaya’ yang diberi imbuhan ‘ke, -an’. Kata ‘kaya’ dalam KBBI berarti memiliki banyak harta (uang dan sebagainya); mempunyai banyak (mengandung banyak dan sebagainya); (ber) kuasa.

Mengacu pada arti kata ‘kaya’ yang kedua (mempunyai banyak), keberagaman atau realitas heterogenitas bangsa Indonesia jelas merupakan kekayaan. ‘Mempunyai banyak’ berarti memiliki lebih dari satu. Secara logis, untuk konteks masyarakat Indonesia, keberagaman suku, agama, ras, dan antar golongan jelas merupakan sederet kekayaan. Indonesia memiliki lebih dari satu suku, mengakui setidaknya lebih dari satu agama (mengakui 6 agama), memiliki lebih dari satu ras, serta antar golongan yang juga lebih dari satu.

Mengacu pada pemaknaan secara leksikal, keberagaman Indonesia jelas bukanlah sumber petaka atau sumber masalah. Keberagaman seharusnya bukan alasan untuk saling menyingkirkan. Keberagaman semata-mata tidak dapat dijadikan sebagai pembenaran atas segala aksi tak terpujji dan aksi brutal yang mengganggu keharmonisan masyarakat. Pertanyaan yang kemudian muncul, apa yang mesti dilakukan agar masyarakat memaknai keberbedaan secara positif?

Dalam teori komunikasi, salah satu fungsi komunikasi ialah fungsi sosial. Fungsi sosial komunikasi meliputi pembentukan konsep diri. Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita (Deddy Mulyana, 2017). Dalam diri seseorang akan terkonsep pandangan mengenai dirinya sendiri berdasarkan umpan balik dari orang lain. Konsep diri seseorang bisa berubah sewaktu-waktu.

Orang lain yang memiliki peran penting bagi pembentukan konsep diri seseorang disebut significant others. Contoh significant others yakni orang tua, sahabat, keluarga, dan siapa pun yang pada dasarnya memberi pengaruh besar bagi pembentukkan konsep diri seseorang. Significant others selanjutnya akan membuat seseorang memiliki konsep diri sebagaimana yang diekspektasikan oleh significant others itu sendiri. Seseorang akan berperilaku sebagai orang yang toleran apabila orang lain (significant others) mengekspektasikan atau menganggap orang tersebut sebagai orang yang toleran.

Kerusuhan yang terjadi akibat kekeliruan dalam memaknai keberagaman dapat diatasi salah satunya dengan menjunjung tinggi sikap toleransi. Sikap toleransi bukan merupakan suatu sikap yang mudah untuk diwujudnyatakan. Mewujudkan sikap toleransi salah satunya dapat dilakukan dengan mengaplikasikan fungsi komunikasi, selain menginternalisasikan nilai-nilai positif yang sedari awal tumbuh dalam masyarakat.

Penulis optimis, sikap toleransi akan terwujud atau terkonsep dalam diri seseorang apabila setiap orang bersedia menjadi significant others bagi orang lain yang membuat orang yang bersangkutan mengkonsepkan diri sebagai orang yang toleran. Dalam hal ini, setiap orang, siapa pun itu, dipanggil untuk menjadi significant others bagi orang lain hingga konsep diri sebagai orang yang toleran terbentuk dalam setiap orang.

Sudah saatnya bagi masyarakat Indonesia untuk memaknai keberagaman sebagai kekayaan bangsa mengingat ancaman eksternal telah terjadi dalam berbagai bidang kehidupan. Setidaknya dengan memaknai keberagaman secara positif, tidak ada kasus yang terjadi lagi atas nama keberbedaan. Dengan demikian masyarakat secara tak langsung mengurangi daftar kasus yang harus diselesaikan oleh pemerintah sehingga fokus pemerintah benar-benar pada kasus lain, terutama ancaman eksternal dari negara lain.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya