Paskah: Meraih Asa, Menimba Harap

Mahasiswa
Paskah: Meraih Asa, Menimba Harap 24/04/2022 113 view Agama Tribunnews.com

Masa Paskah telah dimulai! Setelah empat puluh hari umat Katolik di seluruh dunia berpuasa dan berpantang demi memantapkan hati menyongsong Kristus yang bangkit, kini saatnya mereka (baca:kita) ‘memetik buah’ penantian itu. Kebangkitan Kristus membawa serta sejuta harapan, motivasi hidup baru, sukacita dan kegembiraan baru.

Bagi umat Katolik, kebangkitan Kristus (Paskah) tidak melulu ditafsir secara teologis sebagai bukti ‘maut yang tidak akan berkuasa penuh atas kehidupan’.

Dalam wujud praktis, Paskah juga dimaknai sebagai suatu usaha memulihkan kembali hubungan antar sesama manusia yang telah retak akibat dosa. Dosa menciptakan jarak yang terbentang luas di antara sesama manusia; menyulut amarah dan kedengkian yang berujung pada perpecahan; menutup pintu hati yang mengabaikan pengampunan; menciptakan persaingan yang tidak sehat yang berujung pada orientasi keduniawian-semu yang tidak berkesudahan.

Dualisme Dunia: Di Mana Tuhan Berpihak?

Tidak jauh berbeda dengan suasana Paskah tahun sebelumnya, momentum Paskah tahun ini juga masih dibayang-bayangi faktum patologis yang datang dari pelbagai penjuru dunia. Perang masih mewarnai sejumlah aktivitas warga di belahan Eropa yang menyulut api kemarahan dan dendam di mana-mana. Bias yang paling nampak tentu bukan saja pada terbengkelainya kehidupan ekonomi warga, tetapi lebih jauh, perang mengganggu komponen penting yang menjadi dasar ‘keberadaan’ manusia: jiwa dan raga. Perang mengakibatkan penderitaan fisik dan kecacatan psikis.

Di bumi Indonesia, kenyataan tidak mengenakkan ini lebih-lebih ditampilkan dalam wujud kelangkaan pangan yang dialami oleh sebagian besar warga. Aksi protes terjadi di mana-mana; demo-anarkis menjadi fenomena yang biasa-biasa saja. Pengrusakan fasilitas umum seolah menjadi kiat paling mujarab saat konsensus belum mencapai kepenuhan. Kita lihat, seberapa besar dosa merongrong hati manusia, menjebak manusia kepada lumpur kekhilafan yang mendorong manusia untuk semakin mendekatkan diri dengan kekerasan. Tuhan justru ‘mendiamkannya’ saja!

Selain itu, kecelakaan maut yang menimpa sebagian perantau di bumi Papua semakin mengundang pilu tangis, sebab kejadian itu persis terjadi saat para korban mempersiapkan diri untuk merayakan Paskah bersama keluarga. Sungguh kenyataan yang menyayat memang! Adilkah Tuhan yang sedini mungkin menghalangi kerinduan yang lama tercipta di antara mereka? Sebegitu kejam’kah Ia, yang ‘menghadiahi’ manusia dengan Paskah yang mesti diiringi duka? Di mana Paskah?

Potret buram yang ditampilkan dunia kita sesungguhnya menciptakan suatu perbenturan maha dahsyat, ketika harapan yang utuh mesti diperhadapkan dengan kenyataan yang memilukan. Orang-orang sering bilang, realita ‘tak semanis ekspektasi. Bisa ditebak, butir-butir satire yang kemudian dialamatkan kepada Sang Penyelenggara kehidupan menjadi pilihan yang kerap digandrungi manusia saat harapan nampak sia-sia. Bagaimana tidak? Tuhan yang semestinya menjadi simbol harapan, dalam hal tertentu ‘justru’ mendiamkan kesengsaraan yang dialami umat manusia. Ia seakan menutup mata dan telinga atas jeritan yang kian hari kian memilukan. Dalam kenyataan semacam ini, persis kita seolah diarahkan kembali kepada sindiran keras Epicurus, seorang pemikir Yunani Kuno, pendiri mazhab epikurianisme itu. Sepertinya ia benar!

Iman Katolik: Iman yang Melampaui Kesukaan?

Karakteristik dasar yang melekat erat dalam iman Katolik sebenarnya tidak saja pada kebangkitan Yesus. Banyak pemikir Kristen yang mengafirmasi, bahwa penderitaan juga adalah jalan menuju ‘kebahagiaan’ yang diimpikan itu. Kebangkitan dan penderitaan ibarat uang logam dengan dua sisi yang sekilas terpisah namun serentak menyatu. Keduanya saling mengandaikan. Dari sini sesungguhnya letak paradoks iman orang Katolik; di suatu sisi, penderitaan menjadi hal yang tidak diinginkan manusia, namun sekaligus menjadi suatu pilihan yang mesti dilewati untuk mencapai kebahagiaan. Dengan rumusan lain, kebahagiaan adalah impian setiap manusia, namun pada saat yang sama, manusia sama sekali tidak menginginkan penderitaan yang adalah juga bagian dari cara menuju kebahagiaan itu.

Semakin jauh kita menyelami persoalan-persoalan keimanan, kita sebetulnya semakin dihadapkan dengan suatu kenyataan yang menyadarkan kita akan kekuatan akal budi manusia yang sangat terbatas untuk memahami ‘persoalan-persoalan’ itu. Alasannya cukup jelas: akal budi siapa yang bisa menerima kenyataan Hollocaust sebagai cara Tuhan menyatakan kebesaran-Nya? Kalaupun ‘iya’, haruskah kemuliaan itu dinyatakan dalam bentuk pelanggaran-pelanggaran terhadap martabat kemanusiaan manusia? Semakin jauh berjibaku dengan persoalan semacam ini, yang ditemukan manusia hanyalah setumpuk pertanyaan baru yang justru berpotensi menjauhkannya dengan kecemerlangan harapan di balik kegelapan peristiwa kehidupan. Sungguh, iman sebetulnya bukan perkara kesukaan manusia. Ia jauh melampaui kesenangan itu!

Paskah: Meraih Asa, Menimba Harap

Dalam bingkai Paskah, sederet peristiwa kelam yang menjalari dunia kita serentak menggugah kembali kesadaran ganda sekaligus, teologis dan sosiologis praktis. Kedua kesadaran ini hemat penulis mesti selalu diamini setiap orang sebagai opsi menghindari diri dari ekstrem negatif serta cara pandang yang keliru terhadap peristiwa-peristiwa di dunia yang semakin hari semakin onak dan berduri. Dengan menyadari hal ini, manusia bisa menentukan langkah hidup, meraih kembali asa serta menimba kembali harapan.

Pertama, pada tataran teologis praktis, peristiwa Paskah mesti dilihat sebagai ‘suatu seruan’ kembali kepada pertobatan manusia. Selain sebagai bagian dari perwujudan rencana Allah, kebangkitan Yesus (Almasih) memuat pesan simbolik-teologis praktis, bahwa segala bentuk penderitaan, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan terhadap manusia lahir dan berasal dari sikap kebencian, iri hati, dengki yang bersarang dalam diri manusia. Kita ingat, Kristus yang tersalib adalah korban dari kelaliman pemerintahan masa lalu yang merawat kecenderungan naif serupa ini. Karena itu, segala bentuk ketidakadilan dan peristiwa nir-kemanusiaan hanya akan terselesaikan apabila manusia menghilangkan kecenderungan semacam ini pula.

Kedua, kebahagiaan hanya dimiliki oleh orang-orang yang berani ‘menderita’ (berjuang). Kebahagiaan Paskah tidak mungkin dialami tanpa keberanian melewati setiap bentuk pergolakan yang dialami Yesus, Sang Kristus tersalib. Kebahagiaan dalam terang Kristus sejalan dengan kerelaan menanggung segala kesukaran-kesukaran hidup. Demikian, Paskah adalah langkah awal yang mengarahkan manusia kepada kesadaran, bahwa penderitaan memiliki makna; di balik setiap keburukan yang kita dengar selalu tersembunyi kebaikan, seolah mau memperlihatkan bahwa setiap bencana adalah blessing in disguise, kalau saja kita mau menggali maknanya.

Ketiga, setiap bentuk penderitaan (pergolakan) hidup yang dialami manusia di suatu sisi merupakan pewahyuan Ilahi yang hanya bisa diterjemahkan ke dalam bahasa manusia melalui iman yang benar. Iman tidak saja termaktub dalam seruan-seruan ritualistik, namun lebih jauh dipancarkan dalam cara hidup yang benar.

Keempat, berjuang menjadi promotor perdamaian. Promotor perdamaian menjadi gerakan sosial-praktis yang menjadi kemestian bagi setiap orang. Ada relasi erat yang terjalin antara ‘kesadaran' dan ‘gerakan praktis'. Gerakan perdamaian bersumber dari kesadaran bahwa setiap orang dipanggil kepada tujuan yang sama, yakni perdamaian abadi.

Umat Katolik di seluruh dunia tengah memasuki suatu masa ‘kemenangan’; masa yang dikenang sebagai ‘kehidupan yang mengalahkan kematian’. Momentum Paskah tidak saja sekadar hadir sebagai seremonial tahunan tanpa makna. Paskah mesti menjadi peristiwa iman yang serentak juga mengundang keberpihakan seluruh umat Katolik dalam upaya memerangi setiap bentuk ketidakadilan di dunia ini; juga suatu kesaksian sejarah yang menjiwai keseluruhan gerakan ‘mewujudkan kembali’ harapan umat manusia di tengah gencarnya tantangan dewasa ini. Selamat Pesta Paskah!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya