Paskah dan Ketahanan Pangan

Pengajar STPM St Ursula Ende
Paskah dan Ketahanan Pangan 06/04/2024 136 view Agama parokicikarang.or.id

Di tahun 2024 ini, umat Katolik kembali merayakan Paskah. Pada tahun ini, Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) mengambil tema Hidup sebagai Alat Kebenaran-Nya (Bdk. Roma 6:13). Memang tema ini amat berkaitan dengan situasi dunia yang akhir-akhir ini diwarnai dengan situasi ketidakbenaran seperti perang, penindasan dan berbagai krisis seperti krisis pangan.

Di tengah situasi politik dunia maupun Indonesia yang tidak stabil, banyak orang mesti menerima implikasi dari kenaikan dan kelangkaan pangan. Di daerah-daerah di Indonesia kondisi kenaikan harga beras menjadi hal yang tidak terelakan. Banyak pihak yang lantas mengeluh atas situasi ini, terutama bagi mereka yang penghasilan ekonomi pas-pasan. Namun demikian, keluhan saja tidak cukup. Apa yang bisa dibuat berkaitan dengan masalah pangan berkaitan dengan masa Paskah ini?

Permasalahan Pangan

Berbicara mengenai pangan, isu atau permasalahan ini sudah muncul sejak tahun 1970-an. Isu ini beberapa kali dibahas di level Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan mengadakan beberapa kali Conference of the Food and Agriculture Organization yang diawali pada bulan Desember tahun 1974 di Roma.

Seiring berjalannya waktu, beberapa negara seperti China, Thailand dan vietnam sudah mengambil langkah seperti membangun Bank for Agriculture dan Agricultural Cooperatives (BAAC), sementara di China terdapat Agricultural Bank of China (ABC) dan Vietnam mengembangkan Bank for Agricultural Development (Agribank). Hasilnya adalah organisasi-organisasi finansial itu memberikan suntikan dana untuk mengembangkan pertanian di mana angka serapannya berkisar antara 14% untuk China, 24% untuk Vietnam dan 17% untuk Thailand (Sara, 2024)

Di Indonesia sendiri, sebenarnya isu mengenai pangan ini sudah dibicarakan, bahkan jauh sejak masa Orde Baru, efek green revolution (Revolusi Hijau) telah mempengaruhi Soeharto untuk mencanangkan program Swasembada Pangan dalam Repelita (rencana pembangunan lima tahun) rezim saat itu, sehingga pada tahun 1969 Indonesia menjadi salah satu negara pengimpor beras.

Isu ini lalu muncul kembali pada pertengahan tahun 2023, di mana Presiden Jokowi memberikan awasan mengenai kekeringan panjang akibat El Nino. Pemerintah mencanangkan program Food Estate yang menggunakan ruang seluas 2,3 juta hektar di wilayah Sumatera Utara, Kalimantan, Nusa Tenggara dan Papua, yang belum juga membuahkan hasil atau diprediksikan belum terealisasi secara baik (Tempo, 31/12/2023). Jika hal ini terus terjadi bukan tidak mungkin krisis pangan akan melanda nusantara.

Benih dan Ketahanan Pangan

Isu pangan bukanlah isu yang bisa dipandang sebelah mata. Isu ini merupakan isu krusial yang langsung berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. Berkaitan dengan pentingnya isu ini dan permasalahan yang muncul, maka dalam masa paskah ini, sebagai orang Katolik kita diberikan sebuah refleksi dan pedoman yang bagus.

Refleksi dan pedoman ini berkaitan dengan wafat dan kebangkitan Yesus. Yesus pernah bersabda bahwa sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia akan tetap satu biji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah (bdk. Yoh 12:24)
Berkaitan dengan sabda ini, pada pekan suci sebagai umat Katolik kita telah mengenangkan sengsara, wafat dan merayakan kebangkitan Yesus Kristus. Sengsara dan wafat Tuhan ini merupakan sebuah realisasi dari sabda Tuhan mengenai benih yang jatuh, mati dan berbuah banyak.

Dikatakan demikian karena dengan kematian-Nya Tuhan Yesus sampai pada kebangkitan yang kemudian menumbuhkan iman yang makin kuat akan diri-Nya sebagai Putra Allah, baik itu bagi para murid maupun para pengikutnya, termasuk kita sebagai orang Katolik. Penguatan iman inilah yang hendaknya membuat kita sebagai umat Katolik dalam Pengenangan dan perayaan Pekan Suci yang kita ikuti tidak hanya berhenti sebagai sebuah ritus liturgi saja. Dalam situasi dunia yang sedang sulit ini, ada baiknya jika perayaan ini dilanjutkan dengan aksi nyata di dalam kehidupan setiap hari.

Berkaitan dengan hal itu, maka di tengah situasi dunia dan bangsa yang sedang mengalami banyak kesulitan maka paskah kali ini, diikuti dengan kesadaran bahwa kita hendaknya turut berpartisipasi dalam menanam benih-benih kehidupan, seperti benih kebaikan yang mendukung ketahanan pangan untuk kesejahteraan pangan kita bersama.

Menanam benih ini bisa dibuat dengan mendukung mengurangi krisis pangan. Hal ini bisa direalisasikan dengan belajar menghargai dan menghemat makanan yang kita punya. Ini berarti kita tidak membuang-buang makanan yang kita punya baik di rumah masing-masing maupun ketika sebagai orang Katolik kita terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan kegiatan konsumsi. Makanan yang lebih dari kegiatan-kegiatan kita mungkin bisa disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.

Selain itu, perlu gerakan bersama di Paroki-Paroki terutama di daerah-daerah yang punya potensi pertanian, untuk mengembangkan dan memperluas jenis pangan. Ini berarti ada usaha untuk mendorong umat Katolik bukan hanya menanam padi untuk menghasilkan beras, tetapi juga menyediakan pangan lokal. Ketersediaan pangan lokal ini amat penting, karena selain mendukung cadangan pangan selain beras, tetapi juga secara tidak langsung memelihara budaya, karena tanaman-tanaman lokal di beberapa daerah memiliki kaitan yang kuat dengan unsur budaya. Dengan upaya ini, secara tidak langsung gereja akan menjadi pihak yang turut membantu dalam melestarikan budaya Masyarakat setempat. Situasi ini akan membuat gereja semakin diterima dan mengakar dalam kehidupan dan budaya Masyarakat.

Pangan dan Merawat Bumi

Dengan melakukan tindakan hemat pangan atau pun mengembangkan pangan lokal maka selain kita membantu mengurangi pembuangan bahan makanan yang tidak perlu kita juga secara langsung membantu usaha untuk merawat bumi ini. Dikatakan demikian karena dengan bertindak demikian maka, kita mengurangi konsumsi pangan yang berlebihan, permintaan akan pangan tidak akan terjadi secara besar-besaran dan itu akan membantu mengurangi eksploitasi terhadap bumi. Dikatakan demikian karena usaha-usaha untuk mempercepat produksi pangan kadang melibatkan pupuk maupun bahan kimia lainnya yang dapat merusak tanah dan bumi.

Dalam kaitan dengan itu, kita ingat ulasan Paus Fransiskus yang menegaskan kembali ajakan St Fransiskus dengan menerbitkan Ensiklik Laudato Si, pada 24 Mei 2016. Pada dokumen itu, beliau mengulas tentang perlunya menumbuhkan rasa prihatin dan peduli yang kolektif untuk menjaga keberlangsungan dan kelestarian bumi sebagai rumah bersama.

Oleh karena itu, dalam semangat Paskah tahun 2024 ini, mari kita merawat dan melestarikan bumi dengan mendukung dan membantu usaha ketahanan pangan. Hal itu penting untuk melawan fakta krisis dan degradasi lingkungan hidup, akibat kerakusan dan kekeliruan manusia dalam menginterpretasi relasinya yang hakiki dengan bumi ini, sebagaimana yang tertuang dalam Laudato Si. Dengan begitu kita akan bisa menjalankan hidup kita sebagai alat Kebenaran Allah. Selamat Merayakan Paskah 2024.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya