Pariwisata Olahraga di Mandalika: Siapa Yang Harusnya Dapat Untung?

Pengajar STPM St Ursula Ende
Pariwisata Olahraga di Mandalika: Siapa Yang Harusnya Dapat Untung? 07/12/2021 319 view Ekonomi Arsyad Ali-Kompas.com

Beberapa waktu yang lalu, banyak mata warga dunia tertuju ke Mandalika, Lombok, Indonesia. Setelah terakhir di tahun 1996-1997 di Sirkuit Sentul, Bogor, Indonesia akhirnya kembali mengadakan perhelatan balapan otomotif internasional kelas dunia. Ajang yang cukup bergengsi itu ialah Word Super Motorbike (WSBK) 2021.

Sejak masa persiapan yang digenjot pada tahun 2019, sudah ada banyak wacana yang beredar di sekitar pembangunan sirkuti dengan panjang 5,4 km itu. Wacana-wacana itu mulai dari soal pengembangan wisata olahraga, peningkatan ekonomi, pengembangan infrastruktur sampai dengan soal-soal yang berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan, seperti penanaman pohon oleh Presiden Indonesia, Jokowi, di Mandalika beberapa waktu yang lalu.

Namun, di tengah wacana-wacana yang sedang bertebaran ini, pertanyaan yang kiranya perlu diangkat adalah apakah semua itu bisa mendatangkan kebaikan bagi rakyat Indonesia? Siapakah yang harusnya dapat untung dari perhelatan seperti itu, terutama keuntungan ekonomi?

Pengembangan daerah wisata Mandalika sudah menjadi salah satu mega proyek di periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi. Pengembangan wisata di Mandalika cukup untuk dikatakan sebagai pengembangan wisata yang agak baru. Tidak seperti pariwisata pada umumnya yang menawarkan model wisata alam, kehidupan atau atraksi budaya, wisata yang akan dikembangkan di Mandalika adalah wisata olahraga, selain alamnya.

Wisata olahraga menjadi wisata yang perlu dikembangkan karena selain wisata ini mendatangkan income atau pendapatan bagi negara penyelenggara, wisata ini juga bisa menaikan apa yang sering disebut sebagai nation branding sebuah negara. Pengelolaan nation branding yang meliputi pemerintahan, masyarakat, pariwisata, kultur, investasi, imigrasi serta ekspor bisa memberikan dampak positif dalam artian menaikan prestise dan penghargaan atas Indonesia di mata dunia (Febrianti, 2021).

Selain itu, pengembangan wisata olahraga juga menjadi bagian dari pemulihan sektor pariwisata Indonesia yang selama ini terseok-seok dihantam pandemi Covid-19. Laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan, selama masa pandemi sejak awal tahun 2020, pendapatan negara dari sektor pariwisata telah mengalami penurunan senilai 20,7 miliar.

Selain itu, ada sekitar 939 ribu orang yang terpaksa berhenti berkerja sebab hanya 25 persen dari jumlah wisatawan pada tahun 2019 yang masuk Indonesia (Kemenparekraf.go.id, 2021). Pemulihan sektor pariwisata melalui wisata olahraga ini, diidealkan dapat menciptakan resonansi pada peningkatkan perekonomian sebuah negara.

Resonansi dari pengembangan wisata ini, memang diharapkan bisa membuat perekonomian bangsa kembali bergairah dan bergeliat. Ini adalah tindakan yang baik untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Apresiasi yang baik patut diberikan kepada pemerintah. Meskipun demikian, sungguhkah masyarakat, khususnya bagi masyarakat setempat, bisa mendapatkan untung dari perhelatan internasional seperti ini?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, beberapa syarat kiranya mesti dipenuhi. Syarat-syarat ini merupakan syarat utama bagi masyarakat lokal setempat agar bisa kecipratan juga rezeki dari penyelenggaraan perhelatan internasional seperti ini.

Pertama, masyarakat lokal mesti mempunyai sumber daya yang mumpuni agar bisa terlibat dalam perhelatan seperti ini. Hal ini berarti sumber daya masyarakat baik skill, pengetahuan maupun modal, dan aset usaha pariwisata, termasuk dalam level UMKM mestinya benar-benar siap dan tersedia.

Dalam kaitan dengan itu, hal ini mesti diperhatikan serius oleh masyarakat maupun pemerintah ke depan. Sebab, perhelatan seperti ini diprediksikan akan terus terjadi di Mandalika ataupun daerah-daerah lain yang berpotensi untuk penyelenggaraan event seperti ini.

Ketersediaan sumber daya yang mumpuni itu akan menjadi modal bagi masyarakat. Meskipun kawasan Mandalika akan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), fakta dan status ini mestinya tidak mengeliminasi keterlibatan dan partisipasi masyarakat lokal dalam berbagai perhelatan atau kegiatan pariwisata yang diadakan pemerintah, baik secara nasional maupun internasional.

Partisipasi yang demikian akan membantu mendorong pemberdayaan masyarakat melalui UMKM. Ini penting sebab partisipasi merupakan salah satu tonggak untuk berdirinya usaha pemberdayaan masyarakat lokal. Pemberdayaan masyarakat lokal pada gilirannya akan membantu pembangunan masyarakat dari level akar rumput (Iffe, 2008).

Kedua, jika sebelumnya berbicara soal partisipasi, hal ini akan merambah apakah modal dan infrastruktur pariwisata milik masyarakat yang ada, sudah bisa membuat mereka turut berpartisipasi dalam perhelatan ini? Ini berarti berbicara soal kualitas sarana dan infrastruktur pariwisata milik masyarakat, baik itu yang berasal dari modal pribadi dan modal yang dibantu pemerintah lewat UMKM.

Sudah bisakah kualitasnya sarana wisata milik masyarakat lokal bersaing dan disejajarkan dengan pengusaha dari luar atau tidak. Sebab, kondisi ini akan berdampak bagi serapan pendapatan dari wisatawan yang datang untuk menikmati wisata olahraga maupun alam yang ada di Mandalika. Selain masyarakat, pemerintah pun mesti memperhatikan kondisi ini secara serius.

Ketiga, perlu dibangun paradigma berpikir bahwa proses nation branding dari sebuah negara, tidak boleh dibangun di atas fondasi kesengsaraan masyarakat lokal. Itu berarti upaya pembangunan pariwisata untuk mengangkat citra sebuah negara, tidak akan dibenarkan, jika proyek atau programnya itu, ternyata mengorbankan rakyat.

Sebuah negara akan diakui kemajuannya jika rakyatnya sudah sejahtera lebih dahulu. Bukan logika terbalik yang diterapkan. Negara tampil mentereng dan berprestasi di mata internasional, sementara mayoritas rakyatnya masih berjibaku dengan persoalan kemiskinan atau masalah kesejahteraan lain, akibat proyek pembangunan pemerintah yang berkolaborasi dengan investor yang tidak prorakyat.

Setiap perhelatan yang diselenggarakan di dalam sebuah negera tentu mesti mendatangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi bangsa itu. Di sini, kehadiran pemerintah sebagai penanggung jawab dari perhetalan-perhelatan internasional seperti itu, harus bisa mengakomodasi dan membantu banyak kepentingan, tertutama kepentingan masyarakatnya.

Bercermin dari pengalaman Tour de Flores, di mana masyarakat disinyalir tidak mendapat banyak dampak dari perhelatan pariwisata yang juga berkaitan dengan olahraga itu (Tolo, 2016), maka pengakomodasian terhadap usaha masyarakat lokal di perhelatan wisata olahraga Mandalika sangat penting.

Dengan begitu, akan ada banyak keuntungan bagi masyarakat. Di samping keuntungan ekonomi, masyarakat lokal bisa benar-benar terlibat dan merasakan dampak program atau perhelatan pariwisata yang dibuat pemerintah itu.

Hal ini penting untuk menghindari pariwisata yang tidak berpihak pada masyarakat. Pariwisata yang baik ialah pariwisata yang bisa menumbuhkan perekonomian bangsa, mulai dari pengusaha kecil pada skala masyarakat lokal sampai pengusaha besar di level internasional.

Dengan begitu, pengembangan sektor pariwisata benar bisa mendatangkan kebaikan bagi masyarakat. Di sini pun, upaya untuk menaikan nation brand tidak mencecerkan warga masyarakat lokal sebagai korbannya.

Dengan begitu, rezeki dari wisata olahraga, baik itu di Mandalika atau yang akan dibuat nanti, entah itu di NTB, NTT, atau di daerah mana pun di Indonesia, sebagai daerah yang cukup berpotensi ke depan, dapat dirasakan oleh masyarakat. Tujuannya ialah alam yang indah, kultur, dan potensi wisata lainnya bisa benar-benar menjadi berkat dan bukan kutuk bagi masyarakat lokal, karena mereka bisa mendapatkan manfaat ataupun keuntungan dari sana.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya