Parenting dan Tantangan Orang Tua Masa Kini

Mahasiswa Jurnalistik
Parenting dan Tantangan Orang Tua Masa Kini 12/10/2023 289 view Lainnya parapuan.co

Parenting orang tua zaman dulu seburuk apa sih? Pada awalnya, saya tidak peduli dengan didikan yang diberikan orang tua zaman dahulu, hingga akhirnya seiring berkembangnya zaman dan teknologi serta media sosial, banyak konten kreator yang speak up dan mengulik serta membenahi parenting orang tua zaman dulu menurut pengalaman bahkan studi yang mereka pelajari.

Saya yakin banyak dari kita yang pernah mendengar atau bahkan mengalami sendiri bagaimana orang tua zaman dulu mendidik anak-anak mereka dengan cara yang keras dan tanpa toleransi. Mungkin kita berpikir bahwa itu adalah hal yang wajar dan normal, karena orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak- anak mereka. Namun, apakah kita pernah berpikir tentang dampak jangka panjang dari parenting seperti itu terhadap kesehatan mental anak-anak? Apakah kita pernah mencoba untuk memahami apa yang mereka rasakan dan butuhkan? Ataukah kita hanya menutup telinga dan mata kita dari kritik dan saran yang mungkin bisa membantu kita menjadi orang tua yang lebih baik?

Saya sering merasa kesal ketika mendengar orang tua mengatakan hal-hal seperti "Buat apa parenting, anak saya 10 sehat-sehat aja tuh", "Nanti juga tidak kepakai ilmunya", "Kamu tuh belum ngerasain ngurus anak, gak usah sok pinter deh!". Dan ya, pada akhirnya saya mendengar kalimat itu di lingkungan rumah saya sendiri. Saya cukup kaget mendengarnya. Saya beranggapan bahwa mereka seolah-olah meremehkan pentingnya parenting dan menganggap bahwa anak-anak mereka sudah baik-baik saja tanpa perlu mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan mereka. Mereka tidak mau mendengarkan apa yang orang lain katakan tentang parenting, bahkan mengejek dan menyalahkan orang yang memberikan informasi, hanya karena sang nara sumber masih muda dan belum punya anak. Padahal, sang nara sumber hanya ingin berbagi ilmu yang ia dapatkan dari pengalaman sebagai seorang anak dengan didikan yang keras tanpa toleransi dan juga informasi dari ibu dan ayah yang sudah berhasil menjadi orang tua yang hebat.

Saya yakin bahwa parenting adalah salah satu kunci untuk membentuk anak-anak yang sehat, bahagia, dan sukses di masa depan. Pada faktanya sebuah riset yang berjudul Indonesia-National Adolescent Mental Healt Survey (I-NAMHS) menemukan bahwa 2,45 juta anak Indonesia mengalami permasalahan mental seperti gangguan kecemasan, sulit mengendalikan emosi, sulit bersosialisasi, stres, hingga depresi.

Permasalahan mental tersebut memang dapat dipicu oleh banyak faktor. Namun, salah satu di antaranya adalah sikap dari orang tua serta lingkungan dalam rumah mereka. 83,9% mengalami gangguan pada ranah keluarga, 62,1% disebabkan oleh teman sebaya, 58,1% oleh sekolah atau pekerjaan, dan 46% karena personal.

Parenting adalah pola pengasuhan anak yang berhubungan dengan nilai-nilai dan ajaran yang ingin diterapkan oleh orang tua. Parenting bisa berbeda-beda tergantung pada latar belakang, budaya, agama, dan preferensi orang tua. Anak-anak yang mengalami permasalahan mental bisa mengalami kesulitan dalam belajar, berprestasi, bersosialisasi, bahkan hidup. Oleh karena itu, orang tua perlu belajar parenting yang baik dan memberikan dukungan psikologis yang kuat bagi anak-anak mereka.

Tidak Sesederhana Itu

Siapa sih yang tidak mau punya anak yang pintar, mandiri, dan berprestasi? Pasti semua orang tua menginginkan hal itu. Tapi, apakah kita sudah melakukan hal yang benar untuk mencapai tujuan itu? Apakah kita sudah memberikan parenting yang tepat untuk anak-anak kita? Atau malah sebaliknya, kita malah membuat anak-anak kita stres, takut, dan trauma dengan cara mendidik kita yang salah?

Ternyata, parenting itu tidak cuma sekedar kasih makan, kasih uang, atau kasih mainan aja lho. Parenting itu juga harus memperhatikan aspek psikologis, emosional, dan sosial anak-anak kita. Kita harus bisa menjadi orang tua yang sabar, bijak, dan penuh kasih sayang. Kita harus bisa mendengarkan, mengerti, dan mendukung anak-anak kita. Kita harus bisa menjadi teman, guru, dan panutan bagi mereka. Karena parenting itu adalah salah satu faktor yang menentukan masa depan anak-anak kita.

Parenting terdengar seperti hal- hal yang mudah dan biasa untuk dilakukan. Namun, pada kenyataannya untuk melakukan hal tersebut diperlukan banyak dukungan, informasi serta bisa dikatakan memerlukan latihan agar bisa dan terbiasa dalam melakukan parenting yang baik.

Dari banyaknya sumber dan motivator parenting, saya ingin menyarankan 3 motivator andalan saya. yaitu Ustadzah Dr Aisyah Dahlan. Beliau adalah seorang motivator yang sering membahas parenting dari segi ilmiah dan kedokteran. Yang kedua, yaitu akun tiktok yang bernama @dailyjour beliau merupakan seorang konten kreator yang sering mengupload konten tentang parenting dari sudut pandang apa yang anak rasakan dan bagaimana cara mengatasinya. Selanjutnya yaitu lagi-lagi dari media sosial tiktok. yaitu akun @haloakulili beliau merupakan seorang terapist anak yang sering membagikan kegiatan apa saja, serta bagaimana sikap orang tua yang baik untuk mendukung tumbuh kembang anak. Di sini dapat kita lihat, begitu banyak informasi yang bisa kita dapat dari media sosial. Media sosial tidaklah begitu buruk bagi kehidupan kita.

Dampak Media Sosial

Kecanduan gadget dan media sosial pada anak-anak adalah salah satu tantangan parenting yang dihadapi oleh banyak orang tua di era digital ini. Gadget dan media sosial memang memiliki banyak manfaat, seperti memudahkan komunikasi, mencari informasi, dan menghibur diri. Namun, jika tidak digunakan dengan bijak dan terkontrol, gadget dan media sosial juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan anak-anak. Beberapa dampak negatif yang mungkin terjadi antara lain; Pertama, gangguan perkembangan sosial dan emosional. Anak-anak yang kecanduan gadget dan media sosial mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain secara langsung. Mereka mungkin kehilangan keterampilan komunikasi sosial, karena lebih memilih berinteraksi dengan perangkat elektronik dari pada bermain dan berbicara dengan teman sebaya atau anggota keluarga. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk membentuk hubungan sosial yang sehat.

Kedua, gangguan kesehatan fisik. Terlalu banyak waktu yang dihabiskan di depan layar dapat menyebabkan gaya hidup yang tidak aktif, kurangnya olah raga, dan kekurangan tidur. Anak-anak yang kecanduan gadget dan media sosial juga mungkin lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan isolasi sosial.

Ketiga, gangguan kesehatan mental. Anak-anak yang kecanduan gadget dan media sosial mungkin terpapar oleh konten-konten yang tidak sesuai dengan usia mereka, seperti kekerasan, pornografi, atau cyberbullying. Hal ini dapat menyebabkan trauma, stres, atau rasa takut pada anak-anak.

Keempat, gangguan belajar. Penggunaan gadget dan media sosial yang berlebihan menjadikan anak malas dan kehilangan minat untuk belajar. Mereka lebih memilih untuk bermain gadget dari pada belajar. Anak-anak lebih suka mengandalkan gadget dan internet, bukan dari buku maupun apa yang diajarkan oleh guru. Gadget juga membuat mereka kehilangan konsentrasi karena kurang tidur dan lelah.

Untuk mengatasi tantangan parenting ini, orang tua perlu menerapkan digital parenting yang baik dan efektif. Digital parenting adalah cara mendidik anak-anak dalam penggunaan teknologi digital secara sehat, aman, dan bertanggung jawab. Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam digital parenting seperti menetapkan batasan waktu layar yang sehat, menjadi contoh yang baik. Orang tua harus menjadi teladan yang baik dengan mengurangi penggunaan gadget dan media sosial mereka sendiri dan lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak secara langsung, memberikan alternatif yang sehat. Sediakan pilihan kegiatan yang menarik di luar penggunaan gadget dan media sosial, mengawasi dan terlibat. Pantau dan ikut terlibat dalam aktivitas anak-anak di dunia digital.

Dengan demikian, orang tua dapat membantu anak-anak untuk menggunakan gadget dan media sosial secara bijak dan bermanfaat tanpa mengabaikan aspek-aspek penting lainnya dalam perkembangan mereka.

Kita perlu mengubah mindset kita bahwa parenting itu tidak ribet, tapi justru menyenangkan dan bermakna. Karena parenting itu adalah investasi terbaik untuk masa depan anak-anak kita. Semoga bermanfaat!

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya