Pandemi Covid-19 dan Efektivitas Pembelajaran via Daring

Pencinta Produk Lokal
Pandemi Covid-19 dan Efektivitas Pembelajaran via Daring 08/05/2020 2240 view Pendidikan pixabay.com

Merebaknya pandemi Covid-19 benar-benar telah melumpuhkan sejumlah aspek kehidupan masyarakat. Dalam konteks Indonesia, pandemi Covid-19 hadir ketika seluruh aspek kehidupan negara mulai ditata kembali, Kabinet Indonesia Maju dapat dikatakan “sedang panas-panasnya” membuat kebijakan tetapi pandemi melanda dunia sehingga mengakibatkan krisis multidimensional yang tidak dapat diatasi secara komperehensif.

Di tengah situasi ini,negara Indonesia seperti diperhadapkan dengan dua pilihan yang mau tidak mau harus digulirkan ke permukaan dan konsekuensinya adalah memilih salah satu dari keduanya yakni menyelesaikan pandemi Covid-19 ini atau tetap mempertahankan tatanan kehidupan sebagai mana mestinya. Walaupun pada akhirnya ada pula yang berhasil menjalankan tatanan seperti biasa, dengan keinginan yang sama tetapi dengan cara tempuh yang berbeda.

Salah satu hal penting yang dilakukan pemerintah belakangan ini adalah mencari rumusan solusi paling ampuh dan tepat sasaran dalam menyelesaikan masalah yang sedang terjadi tanpa menumbuhkan masalah baru. Berkaitan dengan ini, pemerintah mesti jeli untuk melihat situasi sehingga keputusan yang diambil pun tidak saling tumpang tindih.

Pembelajaran Beralih ke Via Daring

Dilansir dari detik.com (15/3/2020), salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah dalam usaha memutus mata rantai penyebaran Covid-19 adalah kebijakan untuk bekerja dari rumah (Work From Home). WFH ini diberlakukan hampir pada semua tatanan termasuk di dalamnya lembaga pendidikan. Bagi lembaga pendidikan, kebijakan WFH ini berarti proses kegiatan pembelajaran yang biasanya dilakukan di ruangan kelas secara langsung dihentikan untuk sementara waktu dan digantikan dengan proses pembelajaran menggunakan sistem online/daring.

Penerapan pembelajaran daring memang tidak bisa lagi dihindarkan dalam praktik pembelajaran, bahkan sebelum Covid-19 terjadi. Tetapi, di tengah masalah global ini, semua kampus dan sekolah-sekolah digiring untuk melakukan pembelajaran secara daring. Terkait hal ini, hemat saya ada dua peta kondisi sekolah atau kampus saat menjalankan pembelajaran via daring saat pandemic Covid-19.

Pertama, sekolah atau kampus yang sudah terbiasa menggunakan pembelajaran daring. Sekolah atau kampus demikian hemat saya dapat dengan cepat beradaptasi dalam proses pembelajaran saat pandemic Covid-19. Adaptasi yang dilakukan adalah dengan mengganti posisi pertemuan tatap muka menjadi daring.

Kedua, sekolah atau kampus yang tidak terbiasa menjalankan pembelajaran daring, karena di masa sebelum pandemic Covid-19 semua pertemuan dilakukan dengan tatap muka. Sekolah atau kampus pada peta yang kedua ini hemat saya cukup sulit beradaptasi dengan pembelajaran daring.

Bencana yang mendadak ini memang tidak ada yang menyangka terjadi secara masif. Dalam hitungan hari, bahkan hanya hitungan jam hampir para pemangku kepentingan di negeri ini membuat kebijakan yang bertujuan untuk meminimalisir penyebaran pandemic Covid-19 dan salah satu kebijakan yang dikeluarkan adalah pembelajaran via daring (online).

Psikolog Universitas Indonesia Dr Rose Mini Agoes Salim mengatakan peserta didik harus membiasakan pembelajaran dalam jaringan (daring) selama berlangsungnya wabah virus Covid-19 di Tanah Air. Guru bisa menggunakan platform-platform pembelajaran daring tertentu dan bisa membantu anak sehingga anak tidak merasa tidak tatap muka dengan gurunya. Bisa dengan menggunakan video dan lainnya (dilansir dari Republika.co.id)

Perlu Adanya Evaluasi

Kebijakan untuk pembelajaran via daring hingga saat ini, hemat saya belum dilakukan evaluasi terkait efektivitas pelaksanaannya. Saat ini semua pihak hanya menjalankan saja apa yang mungkin bisa dilakukan. Dalam situasi darurat hal itu memang wajar dilakukan.. Semua orang sedang berupaya untuk menyelamatkan para peserta didik sehingga evaluasi dapat dilakukan kemudian.

Pembelajaran secara daring sejatinya bertujuan agar proses akademik tetap berjalan, aman dan protokol pencegahan Covid-19 tetap terlaksana. Namun, tujuan itu belum diimbangi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas untuk acuan masing-masing pendidik. Dampaknya, para guru lebih banyak membuat keputusan secara subyektif terkait proses pembelajaran.

Evaluasi sangat penting dilakukan untuk mengetahui kendala-kendala ataupun hal lain yang dialami baik oleh peserta didik, para pendidik maupun para orang tua. Bagi sekolah atau kampus yang belum terbiasa menggunakan perangkat online untuk pembelajaran akan menjadi beban bagi peserta didik maupun pendidik. Dari sisi pendidik, mereka bingung harus berbuat apa, karena strategi yang dirancang sebelumnya berubah total diganti dengan yang online.

Untuk peserta didik, pembelajaran via daring juga merupakan hal yang problematis. Hal ini disebabkan karena kurang meratanya peserta didik yang memiliki smartphone, terutama mereka yang dengan keadaan ekonomi lemah. Hal ini juga mendorong para pendidik untuk berkeliling dari rumah ke rumah secara bergantian untuk memberikan pembelajaran.

Selain itu, dari pihak orang tua, di antara mereka pasti ada yang mengeluh karena mereka disibukkan dengan mendampingi anak-anak mengerjakan tugas sampai siang hari, belum lagi mereka juga memiliki home work yang juga harus dikumpulkan kepada instansi tempat merek bekerja, serta sinyal internet yang kurang baik dan situs aplikasi yang juga mengalami ganguan servernya.

Solusi yang Ditawarkan

Kegagapan pembelajaran via daring memang nampak terlihat di hadapan kita, tidak hanya satu dua sekolah saja melainkan menyeluruh di beberapa daerah di Indonesia. Oleh karena itu ada beberapa solusi yang dapat membantu meningkatkan efektivitas pembelajaran via daring.

Pertama, penggunaan layanan internet memang perlu ditingkatkan. Dilansir dari kumparan.com (23/4/2020) empat orang mahasiswa di Sulawesi Selatan dirazia aparat desa dan personel TNI gara-gara cari sinyal di perbukitan. Mahasiswa khususnya acap kali mengeluh dengan jaringan internet, aplikasi yang rumit, server daring yang kurang stabil dan segala bentuk ketidaksiapan lainnya, menjadi bahan perbaikan untuk pemerintah sebagai penyedia layanan internet dan instansi pendidikan sebagai penyedia platform aplikasi daring.

Kedua, kepada seluruh elemen pendidikan, baik pendidik maupun peserta didik harus menerima sosialisasi yang berkaitan dengan pembelajaran online ini. Sosialisasi ini bertujuan agar meminimalisir kesalahan-kesalahan teknis saat berlangsungnya pembelajaran online.

Ketiga, pemerintah harus memutar balik arah kebijakan subsidi bos dengan sedikit memangkasnya untuk keperluan penyedia layanan internet, tentunya kita tidak berharap wabah ini berlarut-larut lama, namun sebagai bentuk tindakan preventif, kita perlu untuk memasang kuda-kuda yang kuat, untuk mensiasati pembelajaran dengan menggunakan media internet. Pemerintah bisa memberi kebijakan dengan membuka gratis layanan aplikasi daring bekerjasama dengan provider internet dan aplikasi, untuk membantu proses pembelajaran jarak jauh ini.

Keempat, bagi sekolah dan perguruan tinggi perlu untuk melakukan bimbingan teknis dalam proses pelaksanaan daring, dan melakukan sosialisasi kepada orangtua dan siswa serta mahasiswa melalui media cetak dan media sosial tentang tata cara pelaksanaan pembelajaran daring, kaitannya dengan peran dan tugasnya. Sosialisasi ini bertujuan agar proses pembelajaran daring dapat berjalan efisien, efektif, kontinyu dan integratif.

Pada akhirnya, penulis menyadari bahwa pandemi Covid-19 memberikan pelajaran untuk kita bahwa belajar di ruang kelas dengan guru secara langsung tidak dapat tergantikan oleh apapun. Karena hemat saya setidak efektif apapun pembelajaran di ruang kelas tetap itu adalah yang terbaik; materi pelajaran dapat disampaikan dengan langsung, jika ada siswa yang tidak paham mereka bisa secara langsung bertanya kepada guru yang bersangkutan. Semoga pandemi Covid-19 cepat berakhir agar proses pembelajaran bisa kembali normal.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya