Oscar Lewis Menyigi Makna Manusia

Penulis Lepas
Oscar Lewis Menyigi Makna Manusia 30/03/2023 427 view Budaya Wikipedia.com

Kisah lima keluarga Meksiko gubahan Oscar Lewis memberi gambaran, bagaimana hidup setiap keluarga yang bertempur untuk kemapanan terbilang begitu pelik. Kemiskinan merupakan musuh utama. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan di kota kecil Mexico, Lewis menggambarkan kondisi lima keluarga, melalui turun kelapangan merasakan secara seksama kehidupan mereka bertarung dengan kemiskinan.

Kebahagian itu karunia umat manusia. Kita bisa mengusahakan untuk menjadi bahagia, namun untuk mendapatkan kebahagian sering kali kita dikerdilkan oleh kata kemapanan. Tolak ukur kemapanannya pun terbilang begitu sempit. Adalah mengais harta sebanyak mungkin. Bukan berarti penulis menafikan kemapanan agar hidup di relung kemiskinan. Hasil riset Institute for Advanced Studies in Economic and Bussiness oleh Turro S Wongkaren, menarik untuk kita refleksikan bersama.

Turro berujar bahwa tebalnya dompet sampai hingar-bingar bergelimang perhiasan, belum tentu menjamin kebahagiaan. Hasil risetnya hampir mirip dengan Paradoks Easterlin (1974). Easterlin berujar bahwa pada beberapa saat jumlah gelimang harta itu dapat membuat kita nambah bahagia, namun sesaat. Seterusnya tidak ada pertambahan yang signifikan atas kebahagiaan.

Misi merebut kebahagian, hari demi hari jadi perbincangan yang begitu menarik. Menyeruak kasus bunuh diri, hingga kasus membunuh kawan sendiri karena terlilit hutang, membawa personal baru mengenai kebahagian. Kemiskinan membuat mereka terlilit. Alhasil kebahagiaan tak muncul di relung hidup mereka.

Paradoks Easterlin memberi tahu kita, bahwa hidup sewajarnya saja ialah kunci kebahagiaan. Walakin untuk hidup sewajarnya saja terkadang membuat kita tertekan oleh pelbagai telaah orang atas diri kita. Lalu, bagaimana menyikapi hal demikian? Beberapa aspek memberi jawaban untuk mengurai keruwetan untuk menyelaraskan pembangunan dan kebahagiaan.

Kembali menyoal Oscar Lewis pada buku gubahannya berjudul "Kisah Lima Keluarga". Parsudi Suparlan notabene dikenal sebagai antropolog Indonesia, memberian kata pengantar dalam cerita lima keluarga milik Oscar Lewis. Parsudi mengapresiasi langkah Oscar Lewis, melalui penelitian yang ia buat dapat memberikan gambaran gamblang melalui sebuah cerita hasil dari riset terjun ke lapangannya.

Hasil penelitian yang rentan pada medio 1950 itu menjabarkan kondisi sosial di desa Meksiko di tengah aras besar modernitas. Banyak iklan muncul di pelosok-pelosok desa. Iklannya pun diimpor langsung dari negeri tetangga yaitu Amerika Serikat. Sontak, masuknya kumpulan tanda melalui iklan itu, dipahami oleh beberapa masyarakat sebagai gaya hidup yang harus ditiru di kehidupan nyata.

Termasuk menyoal makan dan minum. Tortila digantikan dengan ham dan segelas bir, hingga kafetaria yang menawarkan kebahagiaan untuk merubah kebiasaan hidup masyarakat Meksiko. Persis seperti masyarakat Amerika Serikat dalam bertingkah laku. Syahdan gaya hidup masyarakat Meksiko alhasil berubah. Hidup mereka menuju berubah ke arah hidup laiknya seorang modernis dari Amerika.

Menjadi seorang modernis terbilang begitu pelik. Modernitas menghendaki mengganti kebudayaan lama yang dianggap kuno. Walakin, rasa luhur atas kebudayaan lama apabila digeser jauh-jauh digantikan dengan kebudayaan baru itu, memberikan keterasingan beberapa kelompok.

Martin Heiddeger menjabarkan kondisi demikian sebagai Angst (baca; keterasingan). Keterasingan atas perubahan memantik shock culture, tak pelak beberapa beranggapan asing tak sesuai dengan kebudayaan mereka. Kondisi di Meksiko di mana kekeluargaan hingga pengelolaan sumber daya alam sebagai kunci dalam hidup telah tergantikan oleh khrematokrasi (berdaulatnya uang).

Ekonomi dialihkan keseluruhan sebagai pertukaran uang untuk kepentingan laba dan rugi. Prinsip persekawanan ditendang jauh-jauh. Individualisme lahir sebagai eksistensi baru masyarakat Meksiko, kolektivitas betul-betul tertimbun oleh reruntuhan individualistik.

Lalu apa yang salah dengan perubahan? Nampaknya tidak ada yang salah mengenai perubahan. Keterasingan itu yang membuat kita meneroka sebab musabab budaya luhur itu tergantikan. Tergantikan memantik pelbagai macam pertanyaan yang membuat kita semakin dibuat pilu oleh perilaku kita, setapak demi setapak.

Martinez satu dari lima keluarga itu, harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Perubahan sosial membawa entitas baru. Gaya hidup, sistem perdagangan, bahkan gaya bicara masuk merupakan bagian dari perubahan sosial. Martines yang hidup di desa, harus bisa menghidupi keluarganya dua kali lebih pelik dibanding sebelumnya.

Uang sebagai kedaulatan paling vital, terjadi dalam diri Pedro Martinez (baca; Martinez) dan istrinya. Ayahnya tak pernah mengajarkan agar bisa menempa pendidikan sebagai kunci utama menghadapi hidup. Malahan, Martinez disuruh ayahnya agar keluar dari sekolah untuk mencari 18 peso setiap harinya.

Temaram kegelapan alhasil menyelimuti diri Martinez dan istrinya. Ia termangu menggerutu bagaimana harus bisa mengatasi kondisi itu. Uang telah didewakan dari usia masih belia, sampai-sampai menggadaikan waktu belajar. Memang hal tersebut, memberikan pembelajaran bagi kita semua, bahwasannya keterasingan akan materialism itu terjadi dalam diri umat manusia.

Carl Gustav Jung menyigi bahwasannya musuh terbesar umat manusia bukanlah ancaman bom, hingga pandemi sekalipun. Bagi Gustav ancaman terbesar umat manusia ialah keterasingan manusia memahami apa substansi dari manusia itu sendiri. Syahdan, manusia sebagai Homo Economicus terpilin satu demi satu untuk menjadi manusia ekonomi berbasis individualistik.

Kebahagiaan sering tergadaikan ketika manusia mengejar apa yang disepakati zaman. Bekerja lebih dari delapan jam dianggap normal sebagai anak modern, hingga saling sikut senggol membunuh satu sama lain untuk bertahan dari lilitan hutang, citra modernitas terus akan dibaca dan dikritik ketika manusia mulai muak sehingga lepas dari cangkang humanistik mereka.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya