NTT dalam Sketsa Transformatif Pasca Pandemi Covid-19

Penikmat Kopi Kapal Api
NTT dalam Sketsa Transformatif Pasca Pandemi Covid-19 17/06/2020 1142 view Ekonomi dream.co.id

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu dari 34 provinsi di Indonesia yang terkenal akan Sumber Daya Alam yang melimpah. Tak hanya sektor pariwisata dan pertambangan yang merangsang nafsu para pelancong dan investor untuk dipinang, sektor pertanian dan peternakan juga turut serta menggairahkan mata. Dan akhlak bagi mereka yang mengintip bahkan mengenal baik keindahan tubuh Flobamora.

Sektor pertanian-peternakan hingga kini masih diminati oleh kalangan non-NTT. Sebab, ada beberapa komoditas unggulan yang acap kali disinggung dan disanjung. Seperti kopi arabika, vanili, kakao, padi, jagung, cengkeh, mente, kemiri, kopra, sapi lokal (sapi Timor dan sapi Ongol).

Namun semenjak NTT dinahkodai oleh Gubernur Viktor Laiskodat, komoditas-komoditas tersebut tampak dikesampingkan, dan program kelornisasi maupun pariwisata dijadikan isu strategis. Padahal jika ditinjau secara detail, komoditas-komoditas tersebutlah yang mampu menetrasi pasar nasional bahkan internasional.

Tentu penulis menghargai program kerja atau branding yang dicanangkan oleh Pak VBL, berdasarkan potensi yang tersemai. Akan tetapi, program tersebut tidak inheren dengan perilaku dan pola hidup para petani di daerah ini, dan juga tingkat permintaan di pasaran.

Begitupun dengan proses tata niaga dan pengolahan. Apakah program tersebut memiliki peluang untuk memutus mata rantai kemiskinan atau membawa energi positif bagi para petani? Meski segala rencana memerlukan proses, tapi apakah tidak bertabrakan dengan adagium “sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui”?

Para petani kini telah teredukasi dengan kelornisasi, hal itu berkat kampanye yang dilakukan secara masif oleh pihak pemerintah. Namun belum ada keseriusan dari petani untuk dijadikan investasi demi menghidupi rumah tangga mereka.

Ketidakseriusan itu muncul karena dilema oleh beberapa faktor, antara lain, rantai tata niaga belum menjamin, teknologi pengolahan modern belum tersedia (khusus bagi petani yang menjadikan kelornisasi sebagai usaha bersama). Dan tingkat kebutuhan konsumen baik di dalam maupun di luar daerah relatif minim.

Merujuk pada faktor-faktor di atas, apakah penghasilan yang didapat dari seorang petani kelor bisa menjamin kebutuhan pokok hidup mereka? Jelas program kelornisasi tampak abnormal jika dijadikan acuan guna memutus mata rantai kemiskinan dan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) di NTT.

Covid-19 Menjadi Cerminan

Selama tiga bulan terakhir, pandemi Covid-19 masih menjadikan Indonesia sebagai sarang. Berdasarkan informasi di laman www.covid19.go.id, hingga 13 Juni 2020, kasus terkonfirmasi bertambah 37,420 (+1,014). Sedangkan yang dirawat sebanyak 21,553 orang, meninggal 2,091 orang dan sembuh 13,776 orang.

Tak terkecuali Provinsi NTT, momok virus Corona juga turut merenggut nyawa seorang pasien berstatus positif. Hingga 13 Juni 2020 terdapat 105 kasus yang terkonfirmasi, meninggal 1 orang dan sembuh 37 orang.

Pandemi Covid-19 tak sekedar mengobrak-abrik bidang kesehatan namun juga turut berdampak pada sektor pendidikan, ekonomi, perdagangan, tak luput sektor pertanian dan peternakan turut merasakan kerugian akibat momok berbahaya tersebut.

Sektor perekonomian di NTT turut merasakan kelesuan. Di samping itu juga terdapat beberapa wilayah mengalami gagal panen akibat curah hujan yang datang terlambat pada musim tanam akhir 2019.

Melihat fenomena tersebut, tentunya terjadi penurunan hasil panen dan pendapatan. Sektor peternakan pun demikian, para peternak hingga pedagang juga merasakan kerugian akibat pandemi. Meskipun stok daging saat ini melimpah, tapi tak diiringi dengan permintaan pasar yang sesuai. Jika musibah saat ini berkepanjangan, tak dapat dipungkiri akan terjadi bencana kelaparan dan kemerosotan pada sektor ekonomi dan PAD.

Meski situasi sedang diselimuti duka, namun masyarakat justru kembali dapat menghirup udara segar dengan diterbitkannya kebijakan “New Normal” yang mulai berlaku pada 15 Juni. Walaupun kebijakan tersebut menuai kritikan dari berbagai kalangan, namun hingga kapan kita harus terkurung dengan keadaan abnormal? Jika berkaca pada pola hidup masyarakat NTT tentu tak bisa terus-menerus kita mengurung diri. Jika masyarakat telah berkamuflase dengan keadaan, maka NTT akan dilanda bencana kelaparan hingga vaksin Covid-19 ditemukan.

Mengacu pada konteks “New Normal” yang digaungkan oleh pemerintah, kita dihimbau untuk beradaptasi dengan keadaan meski telah diprediksi bahwa kasus akan semakin meningkat jika masyarakat bertolak dari aturan protokol. Akan tetapi, ada bentuk seruan moral yang terkandung dalam new normal. 

Yakni menyatukam spirit kebangsaan, merefleksikan masa lalu, gotong royong menata dan mengawal kehidupan negeri dan daerah pasca pandemi. Quo vadis Indonesia, quo vadis NTT pasca pandemi? Ini menjadi pertanyaan refleksi bagi pemerintah hari ini, apakah kita akan tetap menjadi negara dan daerah importir pangan dengan mengabaikan SDA yang melimpah di tanah sendiri?

Sketsa Transformatif

Sektor pertanian di NTT terkenal dengan potensi lahan kering. Luas lahan kering yaitu sekitar 1.528.308 Ha dan berdasarkan kelas kesesuaian lahan terdiri dari daerah dengan kecocokan tinggi (S1) seluas 202.810 Ha, kecocokan sedang (S2) 4.78.930 Ha dan kecocokan terbatas (S3) 846.568 Ha. Potensi perkebunan sesuai Rencana Dasar pengembangan Wilayah perkebunan ( RDPWP) menacapai luas 888.931 Ha, sedangkan lahan untuk padang pengembalaan ternak mencapai 900.000 Ha lebih.

Berdasarkan data BPS mayoritas penduduk bermata pencaharian tanaman pangan merupakan salah satu andalan utama bagi peningkatan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani. Bagi sebagian besar keluarga petani, hasil pertanian selain dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, juga menjadi sumber pendapatan untuk pemenuhan hidup ekonomi rumah tangga.

Melihat potensi yang bersemayam di Flobamora saat ini, yang mana para petani lebih dominan menjadikan lahan pertanian untuk kawasan perkebunan kelapa, kopi, cengkeh, mente, kemiri, vanili, sorgum, jagung, dan perkebunan sirih, apakah Pak Gubernur masih tetap mengandalkan program kelornisasi dan pariwisata unggulan sebagai lokomotif untuk meningkatkan PAD dan mengeluarkan daerah ini dari zona kemiskinan?

Kawasan pariwisata saat ini memang menarik minat para wisatawan nasional bahkan  mancanegara. Namun ironisnya masyarakat di kawasan setempat tidak turut serta mengambil peran di rumah mereka sendiri. Misalkan dilatih untuk memproduksi makanan khas atau pernak-pernik daerah tersebut, lalu diperjual belikan, malah yang terjadi masyarakat menjual lahan untuk para investor melalui “kaki-tangannya”. 

Kemudian warga pribumi berimigrasi ke pelosok desa, lantas bagaimana dengan jangka waktu yang akan datang? apakah kaum pribumi akan menjadi raja di rumah sendiri atau menjadi budak? Hal ini yang mesti ditinjau kembali oleh pemerintah provinsi dibawah kendali Pak VBL.

Sektor pariwisata tak bisa jadikan sebagai program unggulan saat ini, tak berarti harus di kesampingkan. Namun harus direhabilitasi kendala yang ada, misalkan akses transportasi, sarana destinasi dan keamanan, sembari fokus pada produktifitas pertanian-perternakan.

NTT perlu ditransformasi melalui sektor pertanian-peternakan. Pemerintah provinsi dan kabupaten mesti bersinergi meningkatkan produksi tanaman pangan. Ini sangat penting dilaksanakan melalui ekstensivikasi, intensivikasi, diversivikasi, dan pengembangan perbenihan/pembibitan serta didukung dengan teknologi pertanian yang modern dan memadai. Ini mesti diutamakan karena 1,1 juta orang atau 54,73% angkatan kerja di NTT terserap dalam sektor pertanian sehingga ketergantungan akan sektor ini menjadi penting.

Kemudian, populasi serta produktivitas pada komoditas sapi di Timor dan di Sumba juga mesti di tingkatkan. Perlu diketahui bahwa NTT pernah menjadi gudang ternak atau lumbung ternaknya Indonesia di era 90-an. Pada masa itu Indonesia tidak pernah menjadi negara importir daging, justru Australia sendiri yang menyuplai daging dari Indonesia dan gudangnya dimana lagi kalau bukan di NTT.

Oleh karena itu, sarana prasarana dan pengembangan komoditas menjadi prioritas, tapi harus sesuai dengan agroklimat dan ekosistem agar bisa berkembang. Semua peluang upaya harus dilakukan termasuk kerja sama dengan perguruan tinggi. Insemenasi buatan untuk sapi juga perlu digenjot. Dan pemerintah provinsi mesti fokus mengembangkan industri pakan ternak ruminansia dan pengembangan sentra-sentra pembibitan sapi pada kawasan peternakan.

Ulasan ini merupakan bahan refleksi bagi pemerintah provinsi NTT dan bagi semua kalangan masyarakat yang merasa memiliki kepentingan. Sebab, dalam perencanaan pembangunaan wilayah maka perlu diperhatikan adalah sektor yang menjadi keunggulan wilayah, seperti daya dukung sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Menurut Mawardi (2007), menjelaskan bahwa setiap daerah perlu adanya prioritas pembangunan dengan memperhatikan keterbatasan wilayah yang ada dengan memaksimalkan keunggulan wilayah yang mendukung pembangunan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya