Nilai Sosialitas dalam Motif Tenun Masyarakat Mollo Utara

Alumni IFTK Ledalero
Nilai Sosialitas dalam Motif Tenun Masyarakat Mollo Utara 12/11/2022 56 view Budaya Dokumentasi Pribadi Penulis

Kecamatan Mollo Utara terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan, wilayah Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan data dari ttskab.go.id Mollo Utara memiliki luas wilayah 208,22 dengan presentase luas wilayah 5,26 persen. Sebagian besar masyarakat Mollo Utara memiliki mata pencaharian sebagai petani dan peternak, sedangkan sebagian kecilnya sebagai penenun. Masyarakat Mollo Utara melihat tenun sebagai karya seni dan juga sebagai bentuk pelestarian budaya setempat.

Berdasarkan historisitas mayarakat Timor, Dawan, perempuan Meto memiliki peran penting dalam aktivitas menenun. Kepandaian menenun ini telah diwariskan dari generasi sebelumnya. Namun, kebiasaan menenun ini hanya diwariskan kepada kaum perempuan. Hal ini disebabkan oleh konsep budaya yang secara langsung membentuk peran sosial masyarakat Dawan. Konsep tersebut tampak dalam produk budaya yang disebut sebagai ike ma suti nok suni ma auni (the columnist. id).

Kepandaian menenun ini juga dianggap sebagai simbol penghormatan terhadap kaum perempuan Meto tradisional di Mollo Utara. Artinya, setiap perempuan yang pandai menenun akan dihormati oleh masyarakat dibandingkan dengan perempuan yang kurang pandai menenun.

Salah satu tenun yang paling popular dalam Masyarakat Mollo Utara ialah tenun lungsi atau tenun ikat. Tenun lungsi merupakan kain tenun yang dihasilkan dengan cara mengikat benang lungsi dan dikreasikan sesuai dengan motif tertentu.

Kain tenun dalam masyarakat Mollo Utara tidak hanya bermakna dalam hubungannya dengan budaya tetapi dilihat juga dengan Ilmu Pengetahuan Sosial. Hubungan tersebut terwujud dalam perlengkapan tenun dan motif kain tenun mayarakat Mollo Utara. Menurut penulis hubungan tersebut dapat mewujudkan nilai-nilai sosialitas kemanusiaan masyarakat Mollo Utara.

Nilai Sosialitas

Manusia merupakan makhluk sosial yang mengada bersama dengan yang lain. Dalam keberadaannya dengan yang lain, manusia membentuk dirinya. Ia terbuka bagi yang lain dan untuk yang lain. Heidegger dalam Kasdin Sihotang membedakan relasi antara manusia dengan manusia dan relasi antara manusia dengan benda-benda. Menurutnya, relasi manusia dengan benda-benda hanya bersifat fungsional, aksidental (pada waktu tertentu), dan terjadi tanpa dialog, sedangkan relasi manusia dengan manusia lebih bersifat terbuka, saling menerima, dan menyerahkan diri (Sihotang, 2018).

Heidegger dalam Sihotang menulis hubungan manusia dengan manusia lain ditandai dengan keterbukaan dan penyerahan diri. Heidegger mengistilahkan ini dengan autentisitas atau yang otentik, khas dalam diri manusia. Dengan demikian, Walter Tubbs menulis jika aku hanya mengurus kepentinganku dan engkau mengurus kepentinganmu, kita akan kehilangan satu sama lain bahkan kehilangan diri kita sendiri (ibid). Hubungan antara manusia dengan sesamannya bersandar pada nilai-nilai luhur sosialitas dan kemanusiaan. Nilai-nilai inilah yang menjadi syarat mutlak bagi perkembangan manusia sesuai dengan hakikat dan keberasamaannya.

Makna Sosialitas dalam Tenun Masyarakat Mollo Utara

Makna sosialitas dalam tenun masyarakat Mollo Utara tampak jelas dalam motif tenunnya. Terdapat dua motif popular yang dikaji penulis, yakni motif pauf dan lotis. Motif pauf memiliki warna dasar merah dan putih yang bermakna bendera Merah Putih atau ke-Indonesiaan sebagaimana dijelaskan oleh Obet I. Kasse Kepala Desa Ajobaki Mollo Utara, sedangkan warna putih juga bermakna wilayah Mollo Utara.

Warna kuning melambangkan masyarakat Mollo yang mengacu pada sejarahnya sebagai cahaya atau matahari. Berdasarkan penjelasan yang disampaikan oleh mafefa atau juru bicara desa Netpala, warna kuning melambangkan cahaya matahari. Mollo berasal dari kata molfa-mete yang berarti sangat kuning (La’a dan Suwartiningsih, 2013).

Warna biru melambangkan kedamaian, ungu melambangkan kebaikan, dan hijau melambangkan kesuburan di tanah Mollo. Warna biru, ungu, dan hijau ini dapat juga melambangkan harapan dari masyarakat Mollo bahwa dalam kehidupan bersama prinsip yang utama harus ditanamkan ialah kedamaian dan kebaikan.

Motif pauf yang berbentuk belah ketupat melambangkan 8 (delapan) atoin amaf yang ada di Mollo Utara, yakni Tois-Sumbanu, Seko-Baun, Toto-Tanesib, dan Nani-Lasa. Namun, dalam penyebutannya tidak dapat dipisahkan, tetapi disebut serentak. Hal ini karena adanya hubungan kekeluargaan yang rapat. Simbol belah ketupat ini memiliki dua arti penting antara lain lulat pohok yang berarti sesuatu yang menutup atau membungkus raja dan lulat kollo yang menggambarkan burung Garuda.

Motif pauf yang di dalamnya terdapat lulat kollo atau burung Garuda bermakna merangkul semua masyarakat Mollo demi keadilan dan kesetaraan. Dalam konteks ini raja Mollo sebagai penguasa menjamin keadilan bagi rakyatnya. Keadilan ini menyangkut perlakuan yang adil dan sederajat kepada rakyat. Keadilan juga berarti memberikan apa yang menjadi hak rakyat.

Di pinggir kain tenun tersebut juga terdapat ragam manusia yang ditenun berjejer. Motif manusia ini melambangkan tentara yang menjaga kerajaan atau raja. Di sini, raja menjadi penguasa yang memegang tanggung jawab besar yakni, memberikan perlindungan dan kesejahteraan terhadap rakyatnya.

Kepercayaan yang dimaknai dalam motif pauf juga bermakna pengakuan terhadap orang lain. Pengakuan ini berkaitan erat dengan potensi yang dimiliki oleh orang lain. Pengakuan ini terarah keluar baik terhadap aspek fisik maupun aspek psikologis, sehingga pengakuan terhadap kehadiran orang lain tidak hanya didasarkan pada aturan yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat tetapi juga sebagai fakta bahwa kehadiran orang lain tidak dapat dimungkiri.

Nilai sosialitas juga terdapat dalam motif lotis. Motif lotis dengan corak belah ketupat tidak hanya diberikan makna secara religius tetapi juga sosialitas. Bagi masyarakat Mollo motif lotis dengan corak belah ketupat juga bermakna solidaritas. Solidaritas ini dilihat dalam ranah individu sebagai pribadi yang perlu mendapatkan pengakuan dalam mencapai tujuannya sendiri. Solidaritas ini didasarkan pada penghargaan terhadap pribadi manusia sebagai nilai tertinggi yang mencakup keluarga, suku, dan hubungan kekerabatan

Selain solidaritas terdapat juga makna keterbukaan dalam corak belah ketupat. Keterbukaan tersebut dibedakan menjadi dua bagian yang dapat dibedakan satu dengan yang lain. Kedua sisi tersebut antara lain terbuka terhadap yang lain dan terbuka bagi yang lain. Terbuka terhadap yang lain berarti masyarakat Mollo selalu besedia membagi pengalaman hidupnya bagi orang lain. Sisi yang kedua ialah terbuka bagi yang lain. Keterbukaan ini berarti masyarakat Mollo menerima yang lain sebagai saudara, kerabat tanpa membedakan satu dengan yang lain.

Kain tenun pauf dan lotis bukan saja sebagai produk lokal yang khas bagi masyarakat Mollo Utara, melainkan juga memiliki makna sejarah, budaya, kehidupan spiritual atau religius, dan kehidupan sosial bermasyarakat. Makna-makna tersebut tampak dalam motif-motif yang ada dalam kain tenun tersebut. Salah satu makna yang khas ialah makna sosialitas dalam motif tenunan tersebut. Makna ini, kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk nilai-nilai yang disebut nilai sosialitas.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya