New Normal dan Pertobatan Ketidakdisiplinan Sosial

New Normal dan Pertobatan Ketidakdisiplinan Sosial 31/05/2020 895 view Opini Mingguan Tribunnews.com

Dua warga Depok, Jawa Barat dinyatakan positif corona pada awal Maret adalah kisah awal covid-19 masuk dan menyerang Indonesia. Untuk menyikapi kehadiran tamu yang tak diundang itu, pemerintah mulai membuat beragam kebijakan. Mulai bekerja dari rumah, pakai masker jika keluar rumah, cuci tangan, batasan interaksi sosial hingga pembatasan sosial berskla besar.

Dalam perjalanan waktu, kita harus mengakui bahwa beragam aturan di atas, rupanya tak cukup tangguh untuk mengalahkan covid-19. Realitas ini pun semakin menguat, dikala Presiden Jokowi mengajak masyarakat untuk hidup berdamai dan hidup berdampingan dengan corona. Ajakan ini dilatar belakangi oleh pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa virus corona tidak akan hilang meski angka positif mengalami penurunan.

Pernyataan senada juga pernah ditegaskan oleh Ketua Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo. Menurutnya, besar kemungkinan kita akan hidup selamanya dengan corona. Sebab hingga saat ini belum ditemukan vaksinnya. Itu berarti kita takkan pernah tahu kapan corona hilang dari hidup kita. Oleh karena itulah, masyarakat dihimbau untuk hidup dengan keadaan yang serba baru.

Sadar atau tidak, sudah 3 bulan kita hidup bersama corona. Pastinya, pikiran dan proses hidup kita pun tetap dalam genggaman keganasan corona. Dalam situasi kegalauan yang tetap memanas itu, lagi-lagi kita diharuskan untuk mengawali proses hidup diawal bulan Juni dengan istilah baru yakni New Normal.

Padahal, jika saja kedisiplinan diri terhadap aturan yang sudah dibuat oleh pemerintah selalu dipahami dan dihayati sebagai habbit oleh semua warga, maka angka positif corona tak mesti melonjak terus setiap saatnya. Dan istilah New Normal tak perlu ada. Sebab beragam aturan terdahulu sudah jelas mencerminkan gaya hidup baru itu sendiri. Tapi apa mau dikata, ternyata penghayatan kedisiplinan hidup masyarakat sangat jauh panggang dari api. Bisa saja, ajakan Jokowi untuk hidup berdamai dengan corona adalah sebuah bentuk kekecewaan pemerintah sekaligus sentilan keras bagi warga yang tak mau tau dengan aturan itu sendiri.

Sementara, dipihak lain kita diperhadapkan pada situasi untuk mempertahankan hidup. Itu berarti kita juga tak mungkin bisa hidup dengan tetap mengandalkan kerja dari rumah. Jika tetap dipaksakan, maka tak perlu heran jika angka kematian karena kelaparan melonjak. Angka kriminalitas ikut melonjak drastis. Perekonomian kita lumpuh total. Begitupula krisis yang siap ditanggung oleh negara akan semakin besar. Sebab dana yang dikeluarkan tak seimbang dengan pemasukan.

Dalam situasi yang serba dilematis inilah penerapan aturan New Normal adalah urgen. Untuk menyukseskannya pun tidak gampang. Sebab kita semua tanpa pengecualian dituntut untuk segera bertobat terhadap perilaku-perilaku ketidakdisiplinan kita. Mengapa? Ya, saya sendiri amat yakin, jika kita berani menanggalkan ego dan berbalik arah untuk menghidupi cara hidup baru yang dinapasi oleh semangat kedisiplinan, maka kita akan memanen hal-hal baru yang sangat edukatif.

Setidaknya ada dua hal. Pertama, kita akan terbiasa hidup ‘berdamai’ dengan corona. Berdamai dalam artian bahwa kita tetap jaga jarak hingga terus berperang sampai mati dengan gaya hidup yang serba baru. Sikap serba baru itu, tidak saja indah pada tataran teori tapi lebih kepada tataran praksis yakni mengikuti berbagai aturan pemerintah dan juga protokol kesehatan yang ketat pula. Sebab hidup disiplin untuk menjaga kesehatan diri, sesama dan lingkungan sosial dan alam adalah kebutuhan mendasar manusia itu sendiri. Itu berarti tidak harus ada aturan yang berlapis-lapis, bukan.

Toh, pada dasarnya, tak ada hidup yang tertib tanpa aturan. Itu berarti hidup yang tertata dengan baik, harus diikuti oleh aturan humanis untuk ditaati. Bukan untuk dilawan. Apalagi sudah menyangkut dengan nyawa manusia universal.

Kedua, antara aspek hidup tidak saling dikorbankan. Maksudnya, ikhtiar untuk melawan corona tak bisa lagi dengan bekerja dari rumah, menutup berbagai perusahaan, perkantoran, dan berbagai lembaga lainya. Sebab realitas telah membuktikan bahwa tren angka kasus positif corona justru terus mengalami peningkatan.

Sebaliknya, kita harus berani keluar dan bekerja dengan tetap berpijak pada aturan itu sendiri. Dengan begitu, berperang melawan corona tetap digaungkan dalam kata mapun sikap-lalu bekerja untuk mempertahankan hidup pun tetap dijalankan. Ini adalah realitas hidup yang harus kita lakoni. Karenannya, pilihan kita tetap maju sembari segera mungkin mengambil sikap untuk bertobat terhadap sikap ketidakdisiplinan itu sendiri adalah urgen saat ini. Bukan nanti.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya