New Normal dan Kita Yang Belum Siap

New Normal dan Kita Yang Belum Siap 31/05/2020 858 view Opini Mingguan medium.com

Merebaknya penularan pandemi virus corona di Indonesia dan beberapa negara, seperti China, Amerika, Brazil dan beberapa negara lain telah melahirkan banyak ketimpangan. Ada banyak aspek ketimpangan terlebih khusus di Indonesia yang bisa kita kaji, seperti ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan dan beragam parameter aspek lain yang mengalami kondisi yang kurang lebih memprihatinkan. Di tambah lagi dengan beragam silang pendapat dari pemerintah di tengah masa pandemi dan kebijakan-kebijakan yang banyak dinilai beberapa pihak tidak konsisten dan tidak efektif diterapkan.

Seolah kita berada dalam ketidakpastian yang menyebabkan banyak kondisi sosial dan ekonomi masyarakat mengalami kocar-kacir di tengah wabah corona. Semua persoalan ini telah menghantam ruang hidup kita bersama dan kita tidak mampu mengambil sikap yang paling kurang mampu menerobos batas dari pandemi virus corona dan pada keadaan tertentu melampaui ketidaknormalan yang sekarang kita hadapi. Itulah satu-satunya pilihan rasional yang perlu bagi kita bersikap lebih rasional terhadap setiap perkembangan sosial masyarakat di tengah pandemi.

Di tengah situasi ekonomi yang terus mengancam ditambah dengan tanda krisis pangan yang hampir kita rasakan, pemerintah melakukan pelonggaran terhadap kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi kebijakan new normal (normal baru). Kalimat ini merujuk pada kondisi ekonomi yang semakin merosot dan demi menjaga stabilitas dan memulihkan ekonomi, langkah new normal perlu diambil.

Namun pertanyaannya, apakah penerapan kebijakan new normal sangat tepat di tengah penularan virus yang makin massif dan sulit terkendali? Apakah kita siap mengambil resiko yang lebih besar, jika sewaktu-waktu kebijakan ini melahirkan lebih banyak ketimpangan serta menambah banyak korban akibat pandemi virus corona?

Tentunya kita musti melihat lebih jauh lagi dan bergeser bukan semata hanya pada kondisi penerapan new normal, namun bagi saya sangat perlu kita mengkritisi urgensi penerapan kebijakan new normal di tengah kondisi penularan virus yang terus menambah banyak korban. Langkah penerapan kebijakan new normal menurut hemat saya belum tepat kita lakukan. Kondisi sekarang belum memungkinkan bagi kita untuk masuk dalam kebijakan new normal.

Bagi saya (bukan untuk menolak penerapan new normal), kondisi sekarang ini terutama persebaran virus masih belum memberikan signal positif bagi kita bahwa virus corona mulai mengalami tanda-tanda berakhir. Di samping belum tersedianya obat yang mampu mengatasi virus corona, di samping persebaran virus yang terus meningkat, memaksa kita untuk tetap bersabar dengan tetap tunduk pada kebijakan terdahulu seperti PSBB dan work from home. Dua kebijakan ini saya rasa sangat tepat meskipun banyak sekali persoalan ruwet yang muncul dari kebijakan ini.

Memaksa diri untuk menerapkan kebijakan new normal hanya akan membuat kita lebih banyak mengalami kondisi ketidakpastian. Saya memahami bahwa kondisi ekonomi negara saat ini tengah dalam keadaan yang merosot. Namun dengan tetap memaksa keadaan pemulihan ekonomi, hanya mengakibatkan lebih banyak persoalan yang segera melilit kita di tengah penerapan new normal nantinya. Saya tidak hendak menolak secara membabi-buta, namun bagi saya kita perlu melihat impact terhadap kondisi sosial-kemanusiaan yang justru mendapatkan tamparan yang sangat keras jika penerapan new normal tidak efektif.

Persoalan sekarang jika dikritisi secara lebih jernih, sebetulnya penerapan new normal hanya melahirkan setidaknya banyak ketimpangan yang meluas di ranah masyarakat kelas bawah. Imajinasi ini terlampau mengkhawatirkan, namun langkah yang sangat tepat yakni bersikap lebih matang dan bersabar terhadap kondisi hari ini. Mengutip kalimat dari Presiden Ghana, Nana Akufo Addo “Kami tahu cara menghidupkan kembali perekonomian. Yang kami tidak tahu adalah cara menghidupkan kembali manusia”.

Kalimat ini merupakan bentuk pengejewantahan terhadap sikap kita yang mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Bagi saya, di tengah situasi hari ini mesti konstruksi berpikir yang dibangun yakni mengedepankan rasa kemanusiaan serta menempatkan aspek kemanusiaan sebagai celah untuk kita mempertimbangkan keputusan agar tidak melahirkan suatu dinamika baru yang menjerat kemanusiaan itu sendiri. Dengan hanya memaksa penerapan new normal sebagai cara pemulihan ekonomi, bagi saya kita telah menetapkan suatu keputusan yang gegabah.

Sementara kita masih berkutat dan berperang dengan wabah corona, alih-alih malah pemerintah mengambil kebijakan yang justru bagi saya menghadirkan lebih banyak masalah nantinya. Kondisi ini jika tidak disikapi secara serius hanya akan membawa implikasi yang lebih besar dampaknya. Konsekuensi terhadap aspek kemanusiaan sangat nampak jika kita terus memaksa kebijakan ini.

Pada akhirnya, memaksa suatu kebijakan tanpa ada persiapan dari masyarakat sendiri terhadap kondisi hari ini di samping terus menambah banyak korban hanya akan melahirkan lebih banyak masalah. Yang ada kita akan menambang lebih banyak masalah jika tidak kita kritisi penerapan new normal ini nantinya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya