Negara Demo-crazy: Orang Karam di Laut, Kita Karam di Darat

Mahasiswa Terujung
Negara Demo-crazy: Orang Karam di Laut, Kita Karam di Darat 22/04/2020 1154 view Politik Pixabay.com

Pada masa pergerakan, idealisme manusia Indonesia yang terdidik sedang berapi-api; zaman di mana, setiap ideologi tumbuh dan subur di Indonesia, bahkan ideologi utopis yang sedang mekar di Eropa, dikonsumsi dengan “loba” oleh pemuda-pemudi Indonesia. Semua itu dilakukan untuk mengangkat kepala bangsa Indonesia, yang selama ini dipijak-pijak oleh bangsa Eropa.

Sejak negara ini dimerdekakan dari segala bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Dai Nippon dan Belanda pada 17 Agustus 1945, sejak itu pula negeri ini menganut asas-asas demokrasi, walaupun salah kaprah, namun keberanian pendiri bangsa ini patut diacungi jempol. Karena mereka berani memanggil alam pikiran Eropa, untuk dikonsumsi oleh masyarakat umum saat itu, yang bisa jadi tidak pernah mendengar istilah ini.

Lalu, apakah Indonesia benar-benar negeri yang demokrasi, setelah founding father Indonesia memanggil alam pikir Eropa? Bahkan hingga hari ini, menjawab pertanyaan yang sangat abstrak ini, rasanya sungguh amat sulit. Sesulit meluruskan benang yang basah.

Karena di Indonesia, demokrasi seringkali diucapkan di media dan lewat mulut manis elite publik, namun nyatanya ibarat serigala berbulu domba. Demokrasi yang diucapkan pejabat tidak seindah yang dirasakan oleh masyarakat umum, yang seharusnya mendapatkan keuntungan besar dari sistem demokrasi.

Karena sejatinya, demokrasi dari rakyat, untuk rakyat, dan akan kembali pada rakyat. Ungkapan ini telah kita kenal sejak duduk di bangku SMP dalam pelajaran dasar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Akan tetapi dalam praktiknya, rakyat malah disuguhi sistem otoriter oleh elite yang berkuasa. Hukum-hukum yang tidak berpihak pada rakyat kecil, lusinan jumlahnya di Indonesia, salah satunya mungkin adalah Omnibus Law dan sebangsanya. Sekali lagi, demokrasi di negeri ini seperti serigala berbulu domba.

Kita menduga, bisa saja pola ini memang telah berurat-berakar sejak masa pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Dalam novel Max Havellar yang sampai saat ini sulit sekali dibantah kebenarannya-bahkan oleh golongan yang disindir secara langsung oleh Havellar-, terlihat dengan jelas bagaimana kejamnya para liberalis yang mengaku memegang teguh ajaran moral dan sudah khatam buku-buku humanisme.

Namun dalam praktiknya mereka kerap sekali menggunakan kekuatan feodalis untuk menghisap kekayaan pribumi dan menjajah mereka tanpa belas kasihan. Multatuli menggambarkan bagaimana kejamnya bangsawan pribumi -yang digerakan oleh pejabat-pejabat kolonial- terhadap masyarakatnya, di mana kerbau diambil paksa setiap bupati dan para keluarganya untuk mengadakan pesta keluarga.

Dalam novel itu terlihat juga bagaimana hasil panen harus diberikan pada bupati dan keluarganya dengan cara yang tidak wajar. Bahkan, jika ingin lebih mendalam lagi, hidup mereka (masyarakat biasa) pun, bangsawan yang punya.

Pendeknya, warisan ini seakan-akan sengaja dimekarkan, walaupun negeri ini digembar-gemborkan menganut asas demokrasi, namun tetap saja kekuasaan adalah hal yang menggiurkan dan mampu merubah setiap orang.

Lihat saja elite publik kita hari-hari ini, mereka juga sering kali menggunakan tenaga terdekat dari masyarakat untuk memperbudak masyarakat akar rumput, bisa saja lewat kuasa preman, atau tokoh masyarakat yang dibayar untuk menggonggongi masyarakatnya sendiri, sebagaimana demang dan tuanku laras yang dipekerjakan langsung oleh kolonial Belanda untuk menggonggongi rakyatnya sendiri.

Orang Karam di Laut, Kita Karam di Darat

Di Indonesia, rakyat yang dikhianati oleh elite publik yang awal mulanya mengemis-ngemis suara rakyat, ketika terpilih malah membenamkan suara rakyat hingga ke liang lahat. Ada banyak. Jika dikaji secara lebih terperinci, rakyat kita seakan-akan dibiarkan mati di negerinya sendiri, bahkan jika diizinkan menggunakan diksi yang lebih kejam, mereka disiksa oleh saudara mereka sebangsa dan setanah-air.

Ibarat: “Orang karam di laut, kita karam di darat”. Artinya, biasanya sekelompok orang akan kesusahan hidupnya apabila merasa tidak nyaman, bangsa kita malah sengsara hidup di tempat yang nyaman, dan menyediakan segala hal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sengsara dan ketidak-amanan masyarakat akar rumput di Indonesia, karena ulah elitenya sendiri. Argumen ini sewajarnya dapat diterima oleh semua pihak, tanpa data penelitian ilmiah sekalipun, sebab kesengsaraan itu telah kita lihat setiap harinya, bahkan bisa jadi pernah pula menghampiri diri kita sendiri.

Maka sudah sepantasnya, haturan rasa benci dan maki dihajatkan pada negeri yang mengaku sudah demokrasi sejak “zigot” ini. Bisa saja, bibit yang disemai oleh founding father, berasal dari kualitas unggul, namun cara menanamnya barangkali asal-asalan saja. Hal itu terlihat jelas setelah Hatta turun dari jabatan wakil presiden, dan pada masa Soeharto berkuasa. Kita berharap, untuk kedepannya, negeri ini semakin membaik, jika tidak juga, maka: Tabik! Pupuslah Indonesia di bawah sistem demo-crazy.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya