Narkoba, Perusak Masa Depan Generasi Muda

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang, Alumni UWD Pontianak
Narkoba, Perusak Masa Depan Generasi Muda 10/12/2021 209 view Lainnya piqsels.com

Narkoba dewasa ini bukanlah hal yang asing didengar oleh banyak orang. Dari kaum muda hingga kaum dewasa mengenal barang ini sebagai barang yang haram. Dari segala kalangan mencoba untuk memerangi benda perusak generasi ini. Berbagai LSM hingga organisasi kemanusiaan memandang narkoba dengan potensi yang membahayakan dan perlu diperangi oleh masyarakat. Bahkan gereja sendiri merasakan dampak penyalahgunaan narkotika, zat adiktif dan obat-obatan terlarang yang semakin menggerogoti berbagai macam pergaulan secara luas.

Para orang tua merasa khawatir akan keselamatan anak-anak mereka apabila menginjak masa kuliah dan jauh dari orang tua. Mengingat dari kalangan siswa sekolah dasar hingga ke perguruan tinggi, semuanya disikat habis oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Mereka adalah orang-orang yang mencari untung sembari menguras jutaan nyawa setiap hari. Tanpa rasa belas kasihan, para pemasok dan pengedar narkoba menjadikan orang lain sebagai pundi-pundi yang bernyawa.

Hal ini berdampak pula semakin cepatnya gerakan jaringan mafia narkotika di seluruh dunia tanpa pandang bulu. Alhasil, semakin tahun jumlah korban yang berjatuhan bukan semakin sedikit, malahan semakin bertambah. Tidak bisa disalahkan kepada satu oknum aparat yang telah berusaha keras memerangi narkoba dari waktu ke waktu. Diperlukan adanya kerja sama antara masyarakat dan kepolisian demi mengusut sedikit demi sedikit kasus narkoba ini.

Iklan-iklan yang terpampang untuk memerangi narkoba belum cukup mengetuk hati masyarakat. Contoh hal kecil adalah merokok. Beberapa orang tidak menyadari bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang berbahaya bagi tubuh kita. Selain itu dapat juga merusak sistem kerja organ tubuh, peredaran darah, ginjal dan lain-lain. Sekalipun pengetahuan ini sudah terekspos, tetap saja banyak orang yang enggan berhenti menghisap rokok.

Tak hanya itu, dampak negatif juga dapat dirasakan oleh orang lain. Perokok pasif sebutannya, mau tak mau terkena imbas dari penggunaan zat adiktif yang dinamakan nikotin dan karbonmonoksida serta zat berbahaya lainnya yang dapat merusak kesehatan orang lain. Bahkan lebih parah daripada perokok aktif. Bungkusan rokok yang terlihat begitu menyeramkan, belum cukup membuat perokok sadar akan kesehatannya.

Kesadaran setiap orang untuk memerangi narkoba masih belum maksimal. Ajakan-ajakan dan seruan memerangi narkoba di televisi, radio, koran, media sosial masih belum cukup ampuh. Usaha tersebut tidak seimbang apabila tidak dibarengi dengan kesadaran akan cinta kepada tubuh dan jiwanya. Satu per satu anak bangsa gugur begitu saja. Sementara produsen dan pengedarnya masih berkeliaran dengan bebas menghantui ketakutan setiap orang yang tak menginginkannya.

Hidup penerus bangsa ini tidak bisa ditakut-takuti oleh bungkusan-bungkusan seram dan iklan-iklan mengerikan saja. Dukungan setiap pihak untuk mau terjun langsung bersama mengarahkan anak-anak kita. Ini berkenaan dengan cara mencegah, bukan lagi berharap mengobati yang telah menjadi luka. Menciptakan pengertian baru mengenai bahaya narkoba yang serius sejak dini mungkin sangat urgen untuk dilakukan. Bukan sekedar menanamkan dogma di dalam benak tetapi juga kesadaran untuk memerangi barang haram ini.

Kronologis terjadinya penyalahgunaan narkoba pada awalnya dimulai dengan rasa ingin tahu. Anak-anak muda khususnya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dapat pula dikatakan masih digelitiki rasa ingin mencoba hal-hal yang baru. Umumnya, pengedar narkoba akan mengamati anak-anak muda yang rentan dan mudah terpengaruh oleh ajakan. Mulai dari berkenalan, akrab kemudian masuk dan menyerang secara halus.

Berawal dari barang gratis yang diberikan cuma-cuma seperti sebuah permen dengan embel-embel ‘teman’. Hal itu dilakukan demi meyakinkan si korban bahwa barang yang ia berikan adalah barang yang baik. Biasanya keputusan dari si korban juga tergantung pada situasi. Misalkan dalam keadaan tertekan, stress, rumah tangga kurang harmonis antara orang tua, depresi akibat sekolah ataupun kuliah, tertekan pada perkerjaan dan lain-lain. Tak sedikit yang mengambil barang itu pada awalnya dengan alasan coba-coba.

Ketika si pemakai merasa nyaman, beban hilang, terbang atau kita kenal dengan istilah ‘fly’, di saat itulah si korban merasa perlu untuk menggunakan barang itu kembali di saat situasi yang sama. Selanjutnya pada situasi berbeda, si pengedar yang selama ini menjadi ‘teman’ berubah rupa menjadi penjual eceran. Semula menjajakan barang haram itu secara gratis. Kali ini tidak gratis, melainkan dengan harga yang masih ringan di saku. Demikian si pengedar meyakinkan kembali pertemananya itu dan berlanjut hingga barang haram ini semakin dinaikkan harganya sementara si korban merasa ketergantungan.

Pemikiran si korban sudah tidak karuan lagi. Segala cara akan dilakukan demi mendapatkan racun itu. Ketika si korban telah kehabisan uang untuk membelinya. Maka ia dapat melakukan tindakan kriminal sebagai cara terakhir untuk mendapatkan dana demi membeli narkoba. Bahkan ada yang lebih tragis, korban sampai harus melukai dirinya sendiri dan meminum darahnya yang telah penuh dengan zat adiktif sebagai ganti narkoba.

Tak jarang cara-cara melukai diri tersebut dapat menghilangkan nyawa. Penggunaan narkoba secara berlebihan juga dapat menyebabkan overdosis yang berujung pada kematian. Awal yang indah dengan embel-embel pertemanan dengan akhir tragis dari strategi marketing pengedar narkoba yang menjamur di belahan penjuru dunia. Awal yang terlihat baik-baik saja untuk akhir yang tragis. Seringkali, narkoba menjadi jalan keluar untuk menghilangkan segala masalah. Padahal kenyataannya, akhir dari para korban mengalami nasib yang tragis.

Pendidikan sejak dini dan informasi lengkap mengenai bahaya narkoba untuk anak-anak sangat diperlukan. Mulai dari instansi pendidikan harus memperkenalkan kepada anak-anak apa saja jenis narkoba dan bahaya yang ditimbulkan oleh narkoba. Dari jenjang usia dini, sekolah dasar, menengah hingga perguruan tinggi harus kompak menggalakkan seruan perang terhadap narkoba.

Ini benar merupakan ancaman serius bagi generasi penerus bangsa kita. Kita tidak semata berharap kepada oknum aparatur penegak hukum, kepolisian dan segala penjaga keamanan hidup kita, melainkan pada tindakan tegas kita pula. Produsen dan pengedar sungguh bekerja selangkah lebih maju, maka kita akan membuat langkah dua kali lebih maju untuk mencegah lebih jauh pengedaran narkoba di kalangan kaum muda masa kini.

Ada beberapa cara atau informasi yang bermanfaat agar kita terhindar dari bahaya narkoba. Langkah awal dengan tidak pernah mencobanya sekalipun dengan dalih iseng ataupun alasan lain. Kuatkanlah iman, memantapkan kepribadian, kuatkan pemikiran, pertimbangan lebih banyak dibandingkan dengan emosi. Jangan menghindari masalah, tetapi hadapi atau atasi permasalahan sampai tuntas ataupun berkonsultasi dengan para ahli untuk membantu memecahkan masalah kita. Pilihlah pergaulan yang aman dan jangan pernah masuk dalam lingkungan berbahaya seperti geng motor atau premanisme.

Pilihlah kegiatan yang sehat, tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Ikutilah kegiatan olahraga, organisasi sosial, hobi bersama teman ataupun keluarga. Gunakan waktu dan tempat yang aman, jangan mencoba keluyuran larut malam, bersantai bersama keluarga sangat dianjurkan untuk menjalin keakraban bersama anggota keluarga. Selalu berusaha menanamkan diri untuk berlaku baik, bertindak positif, bertanggung jawab, figur teladan.

Berusaha pula untuk saling mendengar, saling mengingatkan dan saling memaafkan agar semakin mendewasakan satu dengan yang lain. Buatlah keluarga, rumah tangga mejadi tempat yang paling nyaman dan aman sehingga betah tinggal sebagai sahabat di tengah keluarga. Selalu ingatkan bahwa ancaman dan hukuman penyalahgunaan narkoba mulai dari hukuman penjara hingga hukuman mati. Ingatkan pula bahwa narkoba akan merusak kerja otak, susunan syaraf pusat, merusak ginjal, liver dan sebagainya.

Sebagai kekuatan jiwa, berdoalah dan tetap berusaha menjadi pribadi yang baik, sebagai garam dan terang dunia bagi sesama dan menjadikan Tuhan sebagai kekuatan di atas segalanya. Dengan demikian, tubuh dan jiwa kita akan terus hidup damai tanpa rasa takut pada narkoba, sang pembunuh jiwa raga dan masa depan kita. Mari kita jaga tubuh kita yang kudus sebagai bait Allah dari penyalahgunaan narkoba. Tidak lagi hanya mengatakan ‘Say no to drug’, katakan dalam hati ‘We are peace without drugs’.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya