Mungkinkah Pekerja Seni Bertahan di Masa Pandemi?

Admin The Columnist
Mungkinkah Pekerja Seni Bertahan di Masa Pandemi? 15/11/2020 246 view Lomba Esai Tutsplus.design

Artikel berikut merupakan artikel terpilih Terbaik Pertama karya Rosani Fikriina dalam lomba esai dan opini kerjasama PPI Tainan dan The Columnist.id dengan tema "Optimalisasi Generasi Emas Indonesia Pasca Pandemi". 

Lomba diselenggarakan sejak Juli 2020-November 2020 dan telah melewati dua tahap penilaian yaitu penjurian tahap pertama oleh The Columnist dan tim ahli, dan penjurian tahap kedua yaitu penilaian publik melalui voting pada instagram PPI Tainan. 

Kepada pemenang, kami ucapkan selamat! Dan kepada pembaca, kami sampaikan 'Selamat Membaca!'

Dampak pandemi saat ini sudah dirasakan semua pihak dari berbagai macam sektor, salah satu yang paling terdampak adalah sektor ekonomi. Dilansir Kompas 11/8/2020, berdasarkan laporan badan pusat statistik (BPS) pada bulan Agustus menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal ll 2020 minus 5,32 persen. Dampak nyata yang langsung dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah angka pengangguran yang meningkat.

Berdasarkan data Kemnaker per 7 April 2020, total jumlah perusahaan yang merumahkan pekerjaan dan PHK sebanyak 74.430 pekerja dengan jumlah pekerja/buruh/tenaga kerja sebanyak 1.200.031 orang. Hal ini juga berdampak pada pekerja seni. Larangan tatap muka serta kewajiban untuk physical distancing tentu menghambat  pekerja seni seperti penyanyi untuk mengadakan konser ataupun festival. Tetapi yang luput dari perhatian adalah pekerja di belakang layar seperti crew panggung, sound engineer, pemilik serta pekerja venue yang juga merasakan dampak pandemi ini.

Berbagai pilihan konser virtual bisa dilakukan pekerja seni, tetapi tidak untuk pekerja di belakang layar. Mungkin sebagian kecil dari mereka terlibat di dalamnya, tetapi banyak juga pekerja belakang layar yang terpaksa beralih pekerjaan untuk menyambung hidup di tengah pandemi ini.

Dampak pandemi juga dirasakan crew orkes dangdut dari kota Kendal, dikutip dari halosemarang.id, Mimma Milky yang berprofesi sebagai anggota kelompok musik dangdut New Puspita Kendal harus beralih profesi sebagai penjual lontong opor untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut tentunya juga dialami crew belakang layar yang biasa tampil di berbagai event seperti nikahan, sunatan, hari kemerdekaan dan ulang tahun. Karena selama pandemi ini berbagai macam event terpaksa ditunda dan beralih menjadi virtual maka bisa dibilang pendapatan mereka berkurang bahkan tidak ada pemasukan dengan cara menghelat berbagai pertunjukan atau konser musik secara virtual, contohnya yang diadakan Rans Entertainment milik Raffi Ahmad.

Selama pandemi ini tercatat Rans Entertainment mengadakan lebih dari 2 kali konser virtual dan ditonton lebih dari 500 ribu orang. Terlebih lagi konser terakhir yang berjudul Argentium ditayangkan ulang oleh salah satu televisi swasta. Langkah ini bisa menjadi salah satu pilihan promotor atau crew event untuk bertahan di tengah pandemi serta menjadi variasi tayangan televisi swasta untuk menampilkan konser-konser yang tentunya sangat dibutuhkan oleh penikmat musik nusantara.

Konser drive-in yang diadakan di Semarang salah satunya, juga bisa menjadi salah satu cara kreatif promotor untuk tetap mendapatkan pemasukan, hal ini tentunya juga menjadi imbas positif bagi crew panggung serta teknisi sound system. Tata cara yang diterapkan pada konser drive-in ini pun sesuai protokol dan anjuran pemerintah. Konser ini juga bertujuan untuk menggalang donasi yang ditujukan untuk crew panggung dan pegiat seni. Sebenarnya, beberapa musisi selama pandemi ini berperan aktif untuk membantu crew belakang layar, beberapa di antaranya Marcello Tahitoe yang pada bulan Mei lalu juga menggalang dana untuk crew panggung.

Selain itu, band Noah juga melelang lempengan musik dimana uang hasil lelangan tersebut disalurkan untuk crew-crew belakang layar. Berbagai pihak, khususnya musisi itu sendiri sangat memperhatikan kelangsungan hidup crew belakang layar mereka. Karena musisi mempunyai pilihan lebih banyak untuk berkreasi di masa pandemi, sedangkan anggota panggung hanya bergantung pada konser-konser pada umumnya.

Beberapa pilihan gelaran musik tersebut dilakukan secara mandiri oleh beberapa musisi maupun swasta. Sedangkan pemerintah belum turut andil dalam membantu musisi untuk terus berkreasi, yang secara tidak langsung juga membantu menstabilkan perekonomian anggota belakang layar. Pemerintah seharusnya juga bisa berperan aktif untuk membantu crew event untuk bertahan di tengah pandemi. Jogja sebagai kota yang kental akan kesenian dan kebudayaannya bekerja sama dengan musisi daerah untuk mengadakan konser virtual. Acara ini bertajuk Musik Malam TBY yang diselenggarakan oleh dinas kebudayaan Yogyakarta. Konser yang biasanya diadakan secara tatap muka sekarang berganti menjadi konser virtual.

Kerja sama antara pemerintah dengan musisi bisa saja membantu pemerintah untuk mendapatkan pemasukan melalui platform digital. Cara ini bisa diikuti oleh beberapa daerah lain untuk mengangkat potensi musisi daerah masing-masing yang secara tidak langsung juga turut membantu crew panggung untuk tetap mendapatkan pemasukan. Tentunya juga sangat menghibur masyarakat yang mulai jenuh akan rutinitas “dirumah aja” serta rindu menikmati hiburan musik secara langsung.

Bertahannya crew belakang layar di tengah pandemi tentunya harus melibatkan berbagai macam pihak. Integrasi antara musisi dan pemerintah menjadi langkah baik untuk membantu orang-orang belakang layar untuk tetap mendapatkan pemasukan. Di era yang memaksa berbagai kegiatan dilakukan secara virtual ini bisa menjadi wadah pemerintah untuk bekerja sama dengan pekerja seni guna menyalurkan kreativitas mereka. Langkah ini juga bisa memperkenalkan musisi serta kebudayaan daerah untuk lebih dikenal masyarakat luas melalui platform digital.

 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya