Mudik, Bumbu Semangat bagi Perantau

Mudik, Bumbu Semangat bagi Perantau 29/03/2021 49 view Opini Mingguan live.staticflickr.com

Larangan mudik atau pulang kampung pada tahun 2021 telah diumumkan oleh pemerintah. Larangan mudik ini merupakan tahun kedua sejak pandemi covid mewabah di seluruh negara. Pada awal Februari 2021, pemerintah juga telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang memangkas cuti bersama termasuk cuti Hari Raya Idul Fitri 1442 H menjadi 1 hari saja.

Dari SKB tersebut, sebenarnya pemerintah telah memberi lampu kuning perihal mudik di tahun ini, sehingga larangan pemerintah untuk mudik hanya merupakan penegasan terhadap SKB yang telah dikeluarkan tersebut.

Mudik bagi masyarakat Indonesia telah menjadi tradisi sejak lama. Jika istilah mudik baru terdengar dalam beberapa dasawarsa ini, tentunya disebabkan pemerintah telah mengambil alih untuk menertibkan proses mudik dan membuat kebijakan sehingga dampak-dampak negatif dari mudik dapat dihindarkan.

Rakyat Indonesia dengan segala tradisi dan budayanya mempunyai latar belakang yang hampir sama, di mana pergi dari kampung halamannya untuk melakukan tugas, belajar menuntut ilmu atau mencari penghidupan yang lebih baik, namun kembali ke kampung halaman adalah sumber inspirasinya.

Sebagian wilayah di Indoensia, seperti Sumatera dan Sulawesi, pergi merantau adalah sebuah kebutuhan. Merantau bagi budaya ini adalah mencari penghidupan yang lebih baik dari kehidupan di kampungnya, termasuk juga menuntut ilmu ke negeri asing.

Bagi sebagian orang, jika telah berketetapan hati untuk merantau, maka pulang kampung adalah pilihan jika keberhasilan telah dapat diraih di negeri jauh tersebut. Keberhasilan ini tentunya tidak dapat diraih hanya dalam waktu yang singkat. Bisa jadi butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai target yang diinginkan sebelum merantau.

Tetapi bagi sebagian orang lain, mudik atau pulang kampung adalah salah satu bagian dari semangat yang bisa dimimpikan. Di mana dengan harapan kesuksesan telah dapat diraih, sehingga dapat menularkan kesuksesannya bagi orang-orang di kampungnya. Jadwal pulang kampung adala fase rest area di mana selama berada dalam masa dan tempat rest area tersebut akan menambah semangat juang dan saat kembali telah mempunyai inovasi dan kreatifitas yang baru.

Mudik bukan hanya bagi orang yang bekerja di kota-kota dan dilakukan saat hari-hari istimewa seperti hari raya. Mudik juga dibutuhkan bagi anak-anak muda yang menuntut ilmu jauh dari kampung halamannya.

Proses mudik itu sendiri merupakan sebuah pengalaman tersendiri. Perjalanan panjang menuju kampung halaman adalah bentuk lain dari liburan dan “jalan-jalan”. Apalagi jika perjalanan dilakukan dengan moda transportasi darat. Kita akan menyeberangi wilayah dan budaya yang tidak kita ketahui.

Belum lagi dengan adanya pilihan moda transportasi mudik, darat berupa bus dan kereta api, laut dengan kapal laut dan ferry dan pesawat. Tahap-tahap menggunakan moda transportasi yang beragam merupakan pengalaman yang bisa menambah wawasan dan insight kita tentang manusia lainnya.

Pada dasarnya manusia Indonesia adalah orang-orang yang suka berkumpul, terutama di hari-hari yang terpenting dalam kehidupan mereka. Dengan mudik, kita telah memenuhi salah satu kebutuhan jiwa yaitu berkumpul dengan keluarga. Manusia yang menjalankan kehidupan sesuai dengan fitrahnya akan menjadi manusia yang sehat secara mental dan fisik.

Orang Indonesia juga suka melakukan perayaan-perayaan. Bukan hanya perayaan besar agama saja, namun perayaan budaya juga bisa menjadikan seseorang melakukan mudik ke kampung halamannya. Seperti acara perkawinan, sebagai masyarakat yang masih menganut sistem keluarga besar, acara budaya perkawinan merupakan salah satu waktu berkumpul dengan keluarga besar. Sehingga banyak acara perkawinan dilaksanakan berdekatan dengan waktu lebaran, karena pada saat tersebut saudara yang berada di perantauan semestinya telah pulang kampung.

Hanya saja, mudik pada momen Hari Raya Idul Fitri atau Natal, menunjukkan bahwa keinginan melaksanakan pengamalan agama bersama keluarga adalah hal yang sangat membahagiakan. Berkumpul bersama keluarga, melaksanakan aktifitas bersama-sama selain rutinitas yang memberatkan adalah salah satu charging untuk fisik dan pikiran kita. Saat seseorang telah kembali ke aktifitas rutinnya setelah dari mudik, semangat yang dirasakan saat di kampung dapat dijadikan sebagai obor kehidupan.

Namun demikian, pada Tahun 2021 ini, larangan mudik yang diberlakukan oleh pemerintah bisa jadi tetap diabaikan oleh masyarakat. Masyarakat menganggap bahwa dengan kondisi sekarang di mana pasar dan jalanan masih ramai orang bersiliweran, maka derajat penyebaran wabah Covid-19 artinya telah menurun. Sehingga mudik telah dapat dilakukan.

Masyarakat juga menganggap bahwa dengan telah dilaksanakannya vaksinasi di seluruh Indonesia, artinya herd immunity telah terbentuk sehingga penyebaran Covid-19 telah dapat dikurangi.

Oleh karena itu, bagi masyarakat larangan mudik semestinya tidak dilarang dengan segala kondisi yang ada di negeri ini. Karena mudik adalah kebutuhan jiwa dari setiap perantau.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya