Mohammad Natsir dan Jejak Remaja Ideal

Akademisi Psikologi
Mohammad Natsir dan Jejak Remaja Ideal 11/12/2019 313 view Lainnya wikimedia.org

Izinkan saya mengajak anda kembali ke masa lampau, sekira tahun 1920-an, zaman ketika Belanda masih menghisap Indonesia.

Anggaplah anda sebagai salah satu orang yang beruntung mampu bersekolah hingga tingkat Algemene Middlebare School (AMS – setara SMA masa kini). Diajar oleh meneer berbahasa Belanda, bertemankan sinyo dan noni serta putra mahkota para pejabat. Sedangkan anda hanyalah anak pegawai rendah yang sekolah dengan bantuan beasiswa. Datang jauh dari pelosok pula!

Kalau ada rasa rendah diri dan terasing dengan lingkungan yang demikian saya bisa memaklumi. Yang demikian itu stresornya memang terlalu besar untuk tubuh kita yang kecil. Tetapi ternyata tidak demikian bagi Mohammad Natsir. Sosok yang kemudian dikenal sebagai Bapak NKRI ini memiliki kebesaran jiwa dan semangat yang jauh melampaui apapun. Sehingga rupa-rupa stresor tak menjadikannya ciut dan kecut.

Pernah suatu ketika, oleh gurunya yang orang Belanda itu, Natsir ditantang menulis makalah tentang pengaruh penanaman tebu dan pabrik gula bagi rakyat di Pulau Jawa. Si Meneer memang bukan main sinisnya pada pergerakan politik kaum nasionalis. Dan sinisme itu dia tunjukkan tanpa tedeng aling-aling dengan memberikan tugas maha sulit kepada anak setara kelas 2 SMA.

Ingat, peristiwa itu terjadi tahun 1920-an. Jangan konyol membayangkan komputer dan Google dengan mesin pencariannya yang canggih seperti sekarang. Di zaman itu, bisa memiliki mesin ketik saja sudah sangat istimewa. Jadi sebenarnya penugasan dari Si Meneer tidak lain adalah upaya membungkam bising para nasionalis. Karena mustahil dituntaskan.

Tetapi kesulitan itu tak memadamkan gelora perjuangan Natsir muda. Dua minggu dia benamkan diri di perpustakaan Gedung Sate. Mencari jurnal dan literatur tentang pabrik gula dan kaum pergerakan. Dikumpulkannya pula notula perdebatan dalam Volksraad (semacam DPR masa kini). Sebuah ketekunan minim padanan.

Ketekunan Natsir lunas dibayar pada hari presentasinya. Berdiri dia di muka kelas membacakan analisisnya dengan bahasa Belanda yang rapi. Natsir berhasil beri bukti bahwa Jawa tak peroleh laba dari pabrik gula, kecuali kaum kapital dan pejabat bupati. Selama 40 menit paparannya, kelas hening, Si Meneer pening. Tak disangka bocah yang dulu belepotan bicara Belanda kini fasih beretorika dengan argumentasi yang bernas.

Perangkap Konsep “Remaja”
Mengimajinasikan kejadian di atas membuat kita merinding takjub. Tak dinyana aksi heroisme begitu fasih diejawantahkan oleh sosok, yang jika menggunakan standar kekinian, usianya dianggap masih remaja.

Dengan usia yang sepadan, kita begitu payah mencari sosok serupa di zaman sekarang. Hari ini kita begitu dilenakan dengan predikat remaja, yang oleh Stanley Hall dicirikan limbung dihajar badai dan stres (storm and stress). Maka menjadi lumrah katanya jika hidup remaja penuh konflik dengan orangtua, suasana hati yang mudah berubah serta senang terlibat perilaku berisiko.

Padahal gagasan Hall telah lama dimentahkan oleh banyak akademisi. Margaret Mead bisa kita ajukan sebagai contohnya. Dia pernah melakukan penelitian terhadap suku pedalaman Samoa di Samudra Pasifik bagian selatan untuk mencari tau, apakah masa remaja yang digambarkan penuh tekanan itu memang disebabkan faktor biologis. Atau ada faktor lain yang lebih berperan.

Sembilan bulan dia habiskan waktu untuk mengamati dan mewawancarai orang-orang Samoa, dengan tak lupa pula melakukan serangkaian tes psikologis. Dari situ Mead menyimpulkan bahwa masa remaja bukanlah masa yang penuh tekanan bagi orang Samoa karena pola budaya mereka sangat berbeda dengan yang ada di Amerika Serikat.

Peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa (masa remaja) di Samoa, tambah Mead, terjadi dengan mulus tanpa ditandai oleh keresahan, baik emosional maupun psikologis. Tidak pula diliputi rasa cemas atau kebingungan seperti yang tampak di Amerika. Mead seolah ingin berkata bahwa konsep remaja yang diajukan Hall tidak lain hanyalah produk budaya Amerika.

Puluhan tahun setelah Mead, Robert Epstein yang menulis buku provokatif berjudul The Case Against Adolescence juga berpendapat bahwa remaja tidak lain hanyalah sebuah tahapan yang artifisial. Budaya telah berkolaborasi dalam memperpanjang masa kanak-kanak, terutama melalui sistem sekolah dan pembatasan tenaga kerja.

Faktanya dalam sebagian besar masyarakat non-industri, lanjut Epstein, kaum muda diintegrasikan ke dalam masyarakat dewasa segera setelah mereka mampu, dan tidak ada tanda-tanda gejolak remaja seperti yang disangkakan Hall.

Dalam konteks negara Indonesia, kita menyaksikan betapa signifikannya peran pemuda dalam pembentukan negara ini. Mohammad Natsir hanya satu contoh dari melimpahnya panutan yang bisa disesap hikmahnya.

Kalau saja jiwa mereka tertawan oleh konsep badai dan stres seperti yang dikemukakan Hall, entah kapan sumpah pemuda yang menyimpul tanah air, bangsa, dan bahasa dalam satu kesatuan itu dapat terlaksana.

Hari ini, di tengah carut marutnya kondisi bangsa, kita begitu merindu sosok pemuda seperti itu. Dan kita berdoa sebagaimana doa yang pernah dilantunkan Taufiq Ismail di 100 tahun peringatan Mohammad Natsir tahun 2008 lalu: Rabbana, jangan biarkan kami menunggu seratus tahun lagi, untuk tibanya pemimpin-pemimpin bangsa, yang mencerahkan dan bercahaya kilau-kemilau, serupa beliau.

Rujukan:
Tim Buku Tempo. (2011). Natsir: Politik Santun di Antara Dua Rezim (Seri Buku TEMPO: Tokoh Islam di Awal Kemerdekaan). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

The Columnist memiliki obsesi menghargai artikel para intermediate writer yang belum mendapat tempat di media mainstream. Karena kami punya keyakinan, artikel yang ditolak terbit media mainstream tersebut bukan berarti tidak kritis dan menarik. Silahkan kirim artikel tersebut di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami akan bantu menerbitkan untuk menemui pembacanya.
Artikel Lainnya