Modelling dan Marketing Social: Strategi Mengubah Perilaku Menyampah

Widyaiswara BKKBN NTT
Modelling dan Marketing Social:  Strategi Mengubah Perilaku Menyampah 13/07/2020 1658 view Opini Mingguan images.app.goo.gl

Salah satu niat mulia Indonesia adalah tercapainya bangsa yang maju dan mandiri, sejahtera lahir dan batin. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah mempunyai derajat kesehatan yang tinggi, karena derajat kesehatan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Hanya dengan sumber daya yang sehat, maka akan lebih produktif dan meningkatkan daya saing bangsa.

Kebijakan nasional promosi kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI.No.2269/MENKES/PER/XI/2011 yaitu mengenai “Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)”. Perilaku hidup bersih dan sehat sangat dipengaruhi oleh proses yang terjadi di tatanan sosial lain, yaitu tatanan institusi pendidikan, tatanan tempat kerja, tatanan tempat umum dan tatanan fasilitas kesehatan.

Salah satu Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang bagi saya masih kurang disadari oleh kita semua adalah perilaku membuang sampah pada tempatnya. Saya kira berbicara soal perilaku membuang sampah dan sampah itu sendiri adalah hal urgen yang masih kurang diperhatikan secara serius oleh kita semua.

Secara umum, problematika sampah masih belum tuntas terselesaikan. Sampah merupakan salah satu material sisa yang banyak ditemukan di tengah masyarakat dan memiliki dampak yang cukup signifikan dalam mempengaruhi kualitas kesehatan dan lingkungan. Dampak dari sampah tersebut dapat ditimbulkan karena kebiasaan membuang sampah secara sembarangan oleh masyarakat.

Pemerintah Indonesia cukup serius dalam menangani kebiasaan membuang sampah sembarangan dengan diterapkannya berbagai Peraturan Daerah di masing-masing kota. Karena itu, per 1 Juli 2020, sejumlah Pemda mulai memberlakukan peraturan mengenai pelarangan penggunaan kantong plastik. Memang benar bahwa limbah plastik adalah salah satu sampah yang tidak mudah terurai. Walau demikian, tidak bisa ditampik bahwa perilaku kita sendiri masih jauh dari kesempurnaan.

Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya penumpukan dan pembuangan sampah secara sembarangan. Saya tidak mau berbicara data jumlah sampah di Indonesia, karena saya yakin, kita semua pasti tahu. Bahkan kita sendiri adalah aktor dibalik tumpukan sampah yang menggunung.

Bagi saya, masalah sampah yang banyak itu tidak saja berasal dari faktor perilaku individunya, tetapi juga faktor demografi dan kepadatan penduduk. Kota besar dengan penduduk yang padat tentu akan lebih banyak menghasilkan sampah ketimbang kota kecil yang jarang penduduknya. Karena itu, kita perlu melihat masalah sampah ini dari konteks yang lebih luas.

Walau begitu, satu hal yang pasti ialah bahwa permasalahan sampah sejatinya berasal dari kegiatan kita sendiri yang membuang sesuatu yang tidak digunakan. Kegiatan ini merupakan perilaku sehari-hari yang dilakukan kita.

Perilaku kita, menurut Skinner adalah perilaku yang ditimbulkan sebagai respon kita terhadap stimulus yang dikenali (rangsangan dari luar). Nah, simulus dalam permasalahan ini berupa ‘sampah’. Dalam perspektif behaviorisme, respon atau perilaku membuang sampah (menyampah) yang kita lakukan dalam kasus yang sering terjadi di sekitar kita merupakan perilaku yang dihasilkan dari pembiasaan yang dibentuk oleh lingkungan.

Kemungkinan besar pengalaman menyampah kita selama ini, tidak mendapatkan hukuman (misal ditegur petugas atau kena denda). Sehingga, ketika kita menyampah, yang didapatkan justru konsekuensi menyenangkan yakni terbebas dari sampah yang mengganggu. Sehingga banyak dari kita yang berperilaku menyampah dengan tidak disadari/secara sembarangan dan sesuka hati.

Selain itu, perilaku membuang sampah (menyampah) sembarangan juga terjadi jika kita berada di lingkungan yang kotor dan kecil kemungkinannya terjadi di lingkungan yang bersih. Misalnya, ketika kita menonton film di bioskop atau menonton pertandingan sepak bola, akan ada banyak sampah yang terbuang, dan kita juga menjadi penyumbang salah satu sampah tersebut. Perilaku ini dirasa tidak salah oleh kita karena sudah kita tahu bahwa akan ada seseorang yang telah dibayar untuk membersihkannya. Ini membuktikan bahwa masih kurangnya kepedulian dan kesadaran kita terhadap kebersihan lingkungan, khususnya dalam hal membuang sampah.

Lantas, bagaimana cara yang bisa kita gunakan untuk menurunkan perilaku membuang sampah sembarangan? Salah satu cara adalah dengan meningkatkan pembelajaran perilaku modeling (peniruan). Teknik modeling (meniru) dapat digunakan untuk memunculkan kepedulian dan kesadaran kita terhadap lingkungan agar terjadi perilaku kebiasaan membuang sampah pada tempatnya.

Modeling atau perilaku meniru adalah melakukan perilaku sesuai dengan perilaku orang lain yang melibatkan proses kognitif. Modeling adalah bagaimana cara mencocokkan perilaku dengan tindakan lain, dengan melibatkan simbol-simbol yang mewakili informasi dan menyimpannya untuk digunakan pada waktu mendatang.

Pencetus teori Modelling, Albert Bandura, dengan tegas mengungkapkan bahwa proses observasi atau pun perhatian sangat penting dalam pembelajaran (modeling) tingkah laku, karena tingkah laku yang baru (kompetensi) tidak akan diperoleh tanpa adanya proses observasi maupun perhatian dari seseorang.

Saya yakin bahwa jika ada seorang yang membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan, lalu dilihat oleh kita, maka secara kognitif, kita akan melakukan hal yang sama karena kita sedang berusaha meniru apa yang diperbuat orang tersebut atas atensi yang diamati lewat indra kita. kalau toh, meniru ini belum mempan, maka perlu adanya himbauan yang diberikan lewat simbol tertentu seperti, tulisan yang mengajak, poster yang bisa mempersuasi seseorang agar membuang sampah pada tempatnya.

Perilaku kita yang peduli terhadap lingkungan juga termasuk salah satu perilaku prososial sehingga sangat penting ditanamkan sejak dini. Guru, orang tua, dan masyarakat pada umumnya, dapat membantu proses belajar dengan pemodelan, khususnya perilaku membuang sampah, sehingga secara perlahan, perilaku kita akan tertiru dan terekam dalam alam bawah sadar.

Saya kira, perlu dibuat norma kepada masyarakat agar tahu mana perbuatan yang susila dan asusila, mana perbuatan yang bermoral dan amoral. Semua norma itu bertujuan untuk meningkatkan perilaku patuh masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Ketika kepatuhan sudah mulai meningkat, sudah tentu kesadaran kita terkonstruksi, dan lambat laun secara refleks, kita akan membuang sampah pada tempat yang disediakan.

Selain perilaku modeling, cara yang juga penting untuk menyadarkan masyarakat adalah melalui strategi marketing social pada sampah yang terbuang. Dalam arti sederhana, marketing social adalah sebuah strategi yang bertujuan untuk mengatasi masalah sosial dengan melakukan kegiatan atau transaksi jual beli produk sosial yang tidak beriorientasi pada profit tetapi lebih bertujuan untuk mengubah sikap dan perilaku. Ini berarti, masalah sampah bisa diatasi dengan memberi edukasi terkait pengolahan sampah secara kreatif dan efektif sehingga menghasilkan produk bernilai jual tinggi.

Konsep yang digunakan, dirumuskan sebagai penggunaan prinsip-prinsip komunikasi dan teknik pemasaran untuk menyampaikan berbagai produk sosial. Produk sosial adalah apa saja yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, digunakan atau dikonsumsi guna memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan masyarakat dalam mengatasi masalah sosialnya.

Harapannya adalah bahwa kualitas kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih peduli pada lingkungannya, dan sebagainya. Ketiga tipe produk sosial dapat berupa, 1). Ide, yang terdiri dari belief dan attitude value; 2). Praktik Sosial, terdiri dari Act dan Behaviour; 3). Tangible Product. Jelaslah dalam kasus ini, sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai. Ide mengolah sampah harus terajarkan secara kreatif oleh orang-orang yang berkompeten, sehingga praktek mengelola sampah untuk bisa bernilai dapat dieksekusi oleh masyarakat luas.

Saya kira, ini bukan tugas siapa-siapa, atau bukan saja tugas Pemerintah, tetapi inilah tugas kita semua yang tidak boleh dikesampingkan. Kita harus peka terhadap lingkungan yang kotor dan dengan kesadaran penuh kita harus berjuang agar perilaku menyampah tidak lagi dibiasakan tetapi diubah menjadi sesuatu yang bernilai.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya