Mobil Listrik dan Energi Baru Terbarukan di Indonesia

Penulis
Mobil Listrik dan Energi Baru Terbarukan di Indonesia 30/11/2019 1970 view Lainnya wired.com

Baru–baru ini, kabar tentang Cybertruck Tesla sering lalu lalang di feature Instagram saya. Cybertruck sebuah truk dengan performa mobil balap yang berbahan bakar listrik. Sungguh futuristik.

Kemudian timbul pertanyaan, kapan Indonesia punya mobil listrik sendiri? Bukankah kita punya mobil listrik Selo rancangan putra petir Ricky Elson? Bukankah sudah banyak kompetisi mobil listrik internasional yang dijuarai perguruan tinggi Indonesia? Bukankah di Indonesia sendiri telah banyak diadakan kontes mobil listrik skala nasional? 

Sebenarnya, Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang percepatan program kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (battery electric vehicle) untuk transportasi jalan telah disahkan 12 Agustus 2019 lalu.

Di pasal 3 Perpres tersebut telah dijelaskan bahwa percepatan program mobil listrik sebagai transportasi jalan diselenggarakan melalui pengembangan industri mobil listrik berbasis dalam negeri, pemberian insentif, penyediaan infrastruktur pengisian listrik dan pengaturan tarif tenaga listrik untuk mobil listrik berbasis baterai, pemenuhan terhadap ketentuan teknis mobil listrik dan perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Berarti, iklim pengembangan mobil listrik sebagai mode transportasi sudah mendapat dukungan dari Pemerintah. Namun bagaimana dengan ketergantungan dengan bahan bakar fosil dalam pembangkitan daya listrik? Kemudian teringat pertanyaan teman saya, “Kenapa sih Indonesia pada hype banget sama mobil listrik? Kan selama power plant nya masih menggunakan bahan bakar fosil, ya sama aja. Berarti meningkatkan konsumsi listrik rumahan yang ujung-ujungnya bahan bakar fosil juga.” Cerdas dan tajam. Padahal dia dokter bukan anak listrik.

Mobil listrik bila dilihat dari sisi PLN merupakan sebuah prosumer, yaitu dapat berfungsi sebagai beban (konsumen) saat mobil tersebut di-charge, dan dapat berfungsi sebagai produsen daya ketika mobil listrik dalam keadaan full-charge tersebut di hubungkan dengan jaring PLN.

Pengguna mobil listrik tentunya memiliki aktivitas rutin, misalnya: berangkat kerja, ke mall atau pergi ke rumah ibadah. Dari rumah, mobil listrik tersebut akan full charge, kemudian digunakan berkendara, dan parkir.

Lazimnya, parkiran mobil listrik akan memiliki stasiun pengisian daya. Saat parkir inilah, ketika mobil listrik terhubung dengan jarring PLN, mobil listrik yang kehabisan daya akan di-charge atau untuk mobil listrik yang masih penuh baterainya, daya tersebut dapat dijual ke PLN ketika beban puncak. Karena karakteristik inilah, mobil listrik di mata PLN merupakan distributed energy resources atau sekumpulan pembangkit listrik kecil yang tersebar, yang dapat digunakan sebagai cadangan/penyimpan daya ketika ada tambahan/pengurangan permintaan beban listrik.

Walapun ujungnya tetap akan menggunakan bahan bakar fosil, kuantitas penggunaannya berkurang. Mengapa? Bila sebelumnya ketika beban puncak digunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) atau pembangkit listrik tenaga gas (PLTG), dengan adanya mobil listrik, kebutuhan energi listrik dapat dipasok oleh energi yang telah disimpan di baterai mobil listrik.

Asumsinya bahwa pengisian daya (charging) mobil listrik kebanyakan adalah ketika pulang kerja hingga pagi hari sebelum berangkat kantor, dimana waktu waktu ini adalah kondisi beban dasar dengan suplai energi berasal dari pembangkit tenaga listrik yang selalu standby seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dengan adanya mobil listrik, kita tidak perlu lagi menggunakan bahan bakar diesel atau gas. Lebih ramah lingkungan bukan?

Untuk masalahnya ujung-ujungnya tetap pakai bahan bakar fosil,kuncinya ada di pemerintah. Bagaimana regulasi yang dibangun agar energi baru terbarukan lebih bisa bersaing dengan pembangkit tenaga listrik berbahan bakar fosil.

Di luar negeri seperti Uni Eropa, harga listrik bahan bakar fosil sudah lebih mahal daripada harga listrik EBT, oleh karenanya konsumen banyak beralih ke listrik EBT. Sedangkan di Indonesia, harga listrik PLN masih murah, belum ada alasan konkrit yang dapat membuat konsumen berpindah menjadi pengguna listrik berbahan bakar energi ramah lingkungan.

Bila dilihat dari potensi energi baru terbarukan, potensi energi surya, angin dan biomassa di Indonesia tentu besar. Namun, realita berkata lain, feed in tariff yang kurang bersaing, regulasi yang rumit serta faktor cuaca memperlambat implementasi EBT secara luas.

Sebagai contoh, faktor cuaca Indonesia yang cenderung panas di kisaran 21-32 derajat Celcius sepanjang tahun menyebabkan efisiensi produksi energi listrik dari panel surya menurun. Bila dilihat margin keuntungan yang bisa diambil dibanding biaya maintenance tentu tipis bagi para investor.

Padahal, bila kita jeli melihat peluang, kita dapat menggunakan skema carbon development mechanism untuk menarik negara-negara maju untuk berinvestasi di Indonesia dengan tujuan mengurangi jejak emisi karbon melalui program-program yang mendukung pemanfaatan EBTKE energi baru terbarukan dan konservasi energi di Indonesia.

Bisa saja investasi diarahkan untuk mulai membangun sendiri perusahaan manufaktur komponen EBT seperti panel surya, turbin angin atau boiler biomassa yang rendah emisi. Atau dengan mulai mengubah industri rumahan yang mayoritas berupa pengolahan makanan, menjadi industri untuk menggulung transformer, turbin angin skala kecil ataupun motor listrik. Skala besar tentu baik, namun tidak ada salahnya dimulai walau dengan skala kecil.

Pemanfaatannya pun bisa jadi dimulai dengan menerapkan konsep rumah pintar mandiri energi skala desa, lalu diperluas ke konsep kota pintar ramah lingkungan dan mandiri energi. Bila penerapan konsep ini tersebar, tidak menutup kemungkinan Indonesia mencapai target baluran pemanfaatan EBT 30% di tahun 2025.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya