Merenungkan Kembali Arti Pemanasan Global

Merenungkan Kembali Arti Pemanasan Global 07/05/2021 1001 view Politik pixabay.com

Awal 2021, seperti yang telah kita ketahui, Indonesia banyak dilanda bencana alam. Mulai banjir, tanah longsor, gempa bumi, rob dan sebagainya. Tidak hanya terjadi di Indonesia, di belahan bumi lain seperti gelombang panas yang menyerang Eropa pada pertengahan tahun 2019 dan kebakaran hutan di Australia pada awal tahun 2020 menambah daftar panjang bencana alam yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Meningkatnya frekuensi terjadinya bencana alam ini tentu berkaitan erat dengan perubahan iklim atau pemanasan global.

Persoalan perubahan iklim atau climate change memang tidak bisa hanya terbatas dilihat sebagai persolan lokal atau trans lokal, melainkan juga regional, nasional, transnasional, dan bahkan global. Sir David King, seorang ilmuwan terkemuka asal Inggris sampai mengatakan bahwa isu perubahan iklim lebih mengkhawatirkan dari pada isu terorisme. Dampak perubahan iklim sejatinya telah mulai dirasakan setidaknya sejak lima puluh tahun terakhir. Berubahnya pola iklim yang semakin tidak teratur menjadikan cuaca ekstrim, musim penghujan menjadi lebih panjang dengan curah hujan yang tinggi, sama pula dengan kemarau berkepanjangan, banjir, longsor, gelombang panas, penurunan produksi pangan di berbagai belahan dunia dan sebagainya.

Sementara itu, fenomena pemanasan global sendiri bukanlah proses instan yang terjadi dalam sekedipan mata, hari, bulan, bahkan tahun. Melainkan merupakan proses akumulasi sedikit demi sedikit dalam peningkatan konsentrasi kandungan gas rumah kaca (GRK: Karbon Dioksida (CO 2), Metana (CH 4), Nitrous Oksida (N2O), Sulfur Heksaflu (SF), HFC, dan PFC) di atmosfer bumi. Dan dampak yang ditimbulkan pemanasan global ini berpengaruh bagi negara-negara di dunia, termasuk negara berkembang macam Indonesia juga turut merasakan akibatnya, sayangnya kita tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk melakukan adaptasi maupun perubahan terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh efek rumah kaca tersebut.

Saya tak akan membahas perubahan iklim ini dari kaca mata scientific, tulisan ini hanya akan sedikit mengajak Anda sekalian untuk merenungkan apa arti perubahan iklim dan pemanasan global bagi cara hidup kita di muka bumi. Anda barangkali sempat berpikiran bahwa semua penyebab kepunahan yang pernah terjadi di bumi adalah tabrakan benda angkasa. Anggapan ini kurang tepat, sebenarnya kepunahan massal kecuali yang menghabisi dinosaurus melibatkan perubahan iklim akibat gas rumah kaca.

Dalam buku yang ditulis David Wallace-Wells dengan judul Bumi yang Tak Dapat Dihuni dikatakan bahwa kepunahan massal paling parah akibat pemanasan global terjadi 252 juta tahu lalu. Awalnya karbon dioksida menaikkan suhu planet ini sampai lima derajat Celcius yang dipercepat dengan lepasnya metana dan GRK yang lain, dan kenaikan suhu planet ini baru berakhir ketika kehidupan di muka bumi telah tewas saat itu (David Wallace-Wells, 2020: 4).

Sedangkan sekarang, kita menambah karbon ke atmosfer jauh lebih tinggi, sebagian besar ilmuwan memperkirakan; sepuluh kali lebih cepat. Lajunya seratus kali lebih cepat dari pada kapanpun dalam sejarah umat manusia sebelum awal industrialisasi. Kini, ada sepertiga lebih banyak karbon di atmosfer dibanding yang ada kapanpun dalam 800.000 tahun terakhir—barang kali 15 juta tahun terakhir. Boleh jadi pemanasan global hanya dianggap sebagai dongeng mengenai kesalahan lama agar generasi saat ini bisa cuci tangan karena pembakaran karbon di Inggris abad ke 18 lah—awal mula industrialisasi—yang menyalakan sumbu untuk segala yang terjadi sesudahnya.

Protokol Kyoto yang ditandatangani pada 1997 mencatat kenaikan suhu global dua derajat Celcius dianggap ambang batas bencana: kota-kota kebanjiran, kekeringan parah, gelombang panas dan seterusnya. Apa yang dulu kita anggap sebagai “bencana alam” sekarang dan di masa depan hanya akan kita anggap “cuaca buruk”. Skenario itu sulit dihindari, kata banyak penelitian. Namun, pasca dua puluh tahun lebih, Protokol Kyoto tak mencapai apa-apa. Meski sudah ada segala advokasi iklim dan legislasi hukum serta kemajuan energi hijau, nyatanya kita telah memproduksi emisi lebih banyak dibanding dua puluh tahun sebelumnya.

Pada 2016, perjanjian Paris menetapkan kembali dua derajat sebagai tujuan global. Tingkat pemanasan seperti itu merupakan skenario terseram, tapi lagi-lagi beberapa tahun sesudahnya, tak ada satu pun negara industri yang berada di jalur untuk menunaikan komitmen Paris (David Wallace-Wells, 2020: 9-10). Sementara Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) di bawah PBB, memperediksi peningkatan temperatur rata-rata global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 derajat Celcius (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 sampai 2100.

Jika memang benar tidak ada negara yang menerapkan komitmen Paris, kita mungkin akan mengalami pemanasan global sekitar 4,5 derajat—atau malah lebih—pada 2100, atau sekitar tiga kali lipat pemanasan yang telah dialami planet ini sejak awal industrialisasi.

Dengan demikian kehancuran lapisan es di planet ini bukan hanya akan menjadi nyata, melainkan sudah terjadi sekarang. Kendati permodelan iklim saat ini hanya berhenti pada 2100, bukan berarti serangan iklim akan segera berakhir pada tahun itu. Beberapa orang yang mempelajari pemanasan global menyebut tahun sesudah 2100 adalah “abad neraka”.

Bagaimana tidak, di kenaikan dua derajat, lapisan es akan mulai hancur, 400 juta orang bakal kekurangan air, kota-kota besar di sekitar garis khatulistiwa akan tenggelam, dan di daerah utara gelombang panas akan menewaskan ribuan orang pada musim panas. Dengan kenaikan tiga derajat, Eropa selatan bakal mengalami kekeringan permanen, kekeringan rata-rata di Amerika Tengah akan berlangsung sembilan belas bulan lebih lama sementara di Karibia dua puluh satu bulan lebih lama, di Afrika Utara bakal terjadi kekeringan enam puluh bulan—lima tahun. Dengan kenaikan empat derajat, akan terjadi tambahan delapan juta kasus demam berdarah di Amerika Latin saja, dan krisis pangan global (David Wallace-Wells, 2020: 13-14).

Pada 2018, PBB memprediksi bahwa dengan laju emisi sekarang, dunia bakal lebih panas 1,5 derajat pada 2040, atau lebih awal (David Wallace-Wells, 2020: 47). Kita tahu bahwa salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Sayangnya, sesudah tiga perempat abad pertama kali pemanasan global dianggap sebagai masalah, kita belum juga segera membuat penyesuaian berarti terhadap berbagai mode produksi industri atau konsumsi energi fosil (David Wallace-Wells, 2020: 46).

Pemanasan global merupakan sesuatu yang makin lama makin buruk selama kita terus memproduksi gas rumah kaca. Sedangkan cara termudah untuk mengurangi karbon dioksida di udara pun, yaitu dengan memelihara pohon dan menanamnya lebih banyak lagi, tampaknya juga sulit kita lakukan karena laju deforestasi baik yang didalangi oleh korporasi swasta maupun pemerintah, telah mencapai level yang mengerikan. Dalam konteks Indonesia, yang merupakan negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia, kondisi hutannya sudah makin parah dari tahun ke tahun. Pada 2010-2020 saja Indonesia telah kehilangan 4,9 juta ha hutan alam akibat deforestasi.

Perubahan iklim dan pemanasan global ini mungkin dianggap lebih mirip hutang yang telah jatuh tempo, yang menumpuk sejak awal Revolusi Industri. Para ilmuwan sebetulnya sudah mafhum akan efek rumah kaca, sudah mafhum cara karbon yang dihasilkan pembakaran kayu dan batu bara serta minyak dapat memanaskan planet ini dan membuat apapun yang ada di atasnya tidak seimbang, selama tiga perempat abad. Namun mereka belum merasakan dampaknya secara nyata, sehingga pemanasan global tampak bukan sebagai fakta hasil pengamatan, melainkan ramalan kelam, yang baru akan terwujud pada masa depan nun jauh—atau barangkali dianggap tak akan terwujud.

Selain itu, kata David Wallace-Wells dalam bukunya “Bumi yang Tak Dapat Dihuni”, kekuatan pasar telah menghadirkan energi hijau yang lebih murah dan tersedia secara luas, tapi dengan kekuatan pasar yang sama pula—yang menyerap untung itu—kita sambil terus menerus memproduksi emisi. Diperparah lagi dengan lanskap politik yang hanya menghasilkan pameran solidaritas dan kerja sama global, tapi membuang janji-janji itu dengan segera.

“Jika planet ini dibawa ke ambang bencana iklim dalam satu generasi, tanggung jawab untuk mencegah bencana itu ada di satu generasi juga. Kita semua juga tahu generasi mana itu. Generasi kita” (David Wallace-Wells). 
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya