Merawat Nasionalisme Kaum Muda dalam Konteks Perkembangan Zaman

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana
Merawat Nasionalisme Kaum Muda dalam Konteks Perkembangan Zaman 20/12/2022 507 view Lainnya kompasiana.com

Jiwa nasionalis kaum muda masa kini perlu menjadi perhatian bersama. Pasalnya, ukuran seseorang untuk dikatakan nasionalis memiliki perbedaan antara zaman dahulu dengan saat ini. Dahulu, kaum muda dinilai sebagai sosok yang nasionalis ketika mereka ikut berpartisipasi melawan para penjajah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Saat ini ukuran tersebut tidak lagi berlaku, bukan karena tidak ada penjajahan, namun karena bentuk penjajahan masa kini tidaklah sama seperti penjajahan pada masa sebelum kemerdekaan. Oleh karena itu, kaum muda masa kini perlu mendapat arahan dan pembinaan untuk mewujudkan nasionalisme yang sesuai dengan konteks masa kini.

Arus globalisasi bisa dikatakan menjadi penjajah sekaligus teman hidup setiap orang di masa kini. Mau tidak mau, setiap orang akan selalu hidup berdampingan dengan bentuk-bentuk globalisasi tersebut. Dalam hal ini, kaum muda perlu sadar akan pentingnya semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme diperlukan untuk membangun bangsa menuju bangsa yang beradab, bermartabat dan bersaing di dunia internasional tanpa meninggalkan identitas kebangsaannya. Sebagai generasi penerus bangsa, kaum muda perlu menumbuhkan dan memelihara semangat nasionalisme tersebut agar dapat menjadi dasar yang kuat bagi keberlangsungan hidup bangsa Indonesia di tengah gempuran arus globalisasi yang dapat melunturkan nasionalisme kaum muda. Jangan sampai bangsa Indonesia menjadi mati hanya karena semangat nasionalisme yang ada di dalam diri kaum muda sebagai penerus bangsa semakin luntur.

Nilai-nilai Pancasila sejatinya dapat menjadi dasar bagi tumbuh dan terpeliharanya semangat nasionalisme dalam diri kaum muda. Soekarno, dalam Pidato Kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945, mengatakan bahwa Pancasila merupakan Philosophische Grondslag (landasan/pondasi filsafat) bagi bangsa Indonesia. Di atas Pancasila itulah dapat didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Hal ini mengandaikan bahwa Indonesia Merdeka hanya akan lestari apabila Pancasila menjadi dasar dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara. Itulah mengapa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila juga merupakan landasan bagi semangat nasionalisme itu sendiri.

Bentuk-bentuk perwujudan semangat nasionalisme itu sendiri sangat beragam. Salah satunya adalah semangat belajar. Kaum muda perlu memiliki semangat belajar agar mampu bersaing di zaman yang serba modern seperti ini. Jika dulu kaum muda berjuang untuk dapat bersaing melawan dan mengusir para penjajah, maka kini kaum muda perlu memperoleh pendidikan yang baik agar mampu bersaing dalam mengarungi perkembangan zaman ini dan mengusir dampak-dampak negatif yang muncul sebagai akibat dari berkembangnya zaman. Sekali lagi, arus globalisasi dapat menjadi penjajah bagi bangsa Indonesia bila kaum muda sebagai penerus bangsa tidak dapat menyikapinya dengan bijak. Maka, pendidikan yang baik bagi kaum muda dapat menjadi modal yang baik pula untuk keberlangsungan hidup bangsa Indonesia di tengah perubahan zaman yang ditandai dengan berkembangnya arus globalisasi.

Permasalahan pendidikan bagi kaum muda masa kini perlu menjadi sorotan bersama. Kemajuan teknologi di satu sisi dapat membantu kaum muda dalam mengembangkan pendidikan yang didapatkannya. Namun di sisi lain, kemajuan teknologi juga dapat menghambat pendidikan kaum muda. Teknologi masa kini menawarkan hal-hal yang menggiurkan bagi kaum muda sehingga jika hal tersebut tidak disikapi dengan bijak akan berdampak negatif bagi perkembangan pendidikan kaum muda masa kini.

Untuk menangkal dampak-dampak negatif dari perkembangan zaman, kaum muda memerlukan pendidikan karakter yang baik dan memadai. Pendidikan karakter mengandaikan suatu cara pembentukan semangat nasionalisme kaum muda. Permasalahannya, pendidikan karakter di lembaga pendidikan selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini ingin mengatakan bahwa pendidikan karakter yang didapatkan oleh kebanyakan kaum muda hanyalah sebatas teori. Kaum muda hanya mengetahui konsep-konsep karakter yang baik secara teoretis saja. Implementasi dari konsep-konsep tersebut, terutama dalam kehidupan sehari-hari, belum dapat diaplikasikan. Oleh karena itu, para pendidik perlu membantu kaum muda dalam menginternalisasikan karakter-karakter yang baik. Kaum muda sendiri perlu aktif, eksploratif, dan kreatif dalam mewujudkan karakter-karakter itu di kehidupan sehari-harinya terutama dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara sebagai warga negara Indonesia yang baik.

Sesungguhnya kaum muda merupakan generasi yang dipundaknya ada tanggung jawab melestarikan nilai identitas bangsa yang merupakan identitas nasionalisme. Tanggung jawab itu bisa dikatakan sebagai tanggung jawab moral kaum muda masa kini. Identitas ke-Indonesia-an semakin luntur tergerus oleh arus perkembangan zaman yang sudah disinggung sebelumnya. Kaum muda, yang dinilai antusias dalam mengikuti arus perkembangan zaman, perlu mengembalikan identitas ke-Indonesi-an tanpa harus menjauhi atau merasa anti terhadap berbagai bentuk perkembangan zaman. Justru perkembangan zaman perlu dimanfaatkan oleh kaum muda sebagai sarana dalam menumbuhkan dan melestarikan kembali identitas bangsa yang sudah mulai luntur itu. Hal itu mengandaikan bahwa kaum muda harus hidup bersama dengan perkembangan zaman dan bersinergi untuk menggelorakan kembali semangat nasionalisme.

Pada dasarnya, perkembangan zaman tidak perlu dipandang sebagai penyebab lunturnya semangat nasionalisme dalam diri kaum muda Indonesia. Justru kaum muda perlu cermat dalam melihat dampak positifnya untuk dijadikan peluang melestarikan identitas bangsa, dan dampak negatifnya untuk dihindari atau bahkan ditangkal. Nasionalisme, dalam hal ini, mengandaikan sebuah upaya yang kontekstual. Di zaman ini, semangat nasionalisme itu tidak bisa diterapkan dengan cara seperti pada masa penjajahan. Semangat nasionalisme hanya bisa ditumbuhkan bila kaum muda mampu menyesuaikan diri dengan zamannya dan berorientasi pada lestarinya keberlangsungan hidup bangsa Indonesia sehingga kaum muda tetap bisa mengikuti perkembangan zaman tanpa takut dicap ketinggalan zaman.

Semua upaya itu dapat diwujudkan bila kaum muda memiliki semangat belajar yang baik, seperti yang sudah diungkapkan di atas. Selain itu, kaum muda juga perlu menginternalisasikan pendidikan karakter yang didapatkannya dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Upaya-upaya tersebut bukanlah sesuatu yang mudah, maka diperlukan kehendak untuk mau belajar dan mengembangkan diri sebagaimana kaum muda terdahulu memiliki kehendak dan tekad yang kuat untuk melawan dan mengusir penjajah. Setiap kaum muda memiliki potensinya masing-masing dalam upaya menumbuhkan semangat nasionalisme. Potensi-potensi itulah yang perlu dijadikan alat untuk menggelorakan kembali semangat nasionalisme di tengah zaman yang berkembang ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya