Menyiasati Mudik di Tengah Pandemi

Guru SDN Sidorejo, Kab. Sidoarjo, Jatim
Menyiasati Mudik di Tengah Pandemi 09/05/2021 257 view Opini Mingguan www.cnnindonesia.com

Lebaran tanpa mudik, bagaikan sayur tanpa garam. Itulah kenapa pemudik nekat pulang ke kampung halaman menjelang Lebaran tahun ini. Meski telah disadarinya perayaan Idul Fitri masih dalam suasana pandemi Covid-19 yang belum mereda.

Bahkan aturan larangan mudik dalam Surat Edaran (SE) Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah dan Upaya Pengendalian Penyebaran Covid-19 Selama Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah juga tak dipatuhi pemudik yang nekat ini. Mereka tetap saja berangkat mudik melalui “jalan tikus” untuk menghindari pos penyekatan.

Sebegitu keras kepalanya pemudik. Tak lain karena mudik sudah menjadi tradisi selama berabad-abad. Mudik juga punya dimensi sosial, kultural dan spiritual tidak sekedar memelihara tradisi atau mengobati rasa rindu kepada sanak saudara di kampung halaman. Selain itu, masing-masing pemudik punya alasan subyektif mengapa ia harus mudik.

Seperti saya ini yang dulunya mudik tiap tahun. Alasan mendasarnya adalah orangtua. Bagi saya, saat paling indah di Lebaran adalah sungkem pada orangtua. Mungkin bagi orang lain, alasannya ingin merasakan jajanan Lebaran khas desa untuk mengenang waktu kecil, atau ingin menularkan kesuksesan pada sanak famili atau tetangga selama merantau di kota. Intinya bermacam-macam alasan pribadi mengiringi mudik Lebaran.

Karena itu, bagi pemudik, tradisi mudik itu hak warga negara. Kenapa harus dilarang-larang. Pasalnya, larangan mudik dinilai selain kotraproduktif juga kurang memenuhi rasa keadilan masyarakat. Sudah dua kali Lebaran dilalui tanpak mudik.

Ya, tentu tidak mengada-ada ketika pemerintah melarang mudik tahun ini. Semua sudah melalui pertimbangan matang untuk memutuskan hal itu. Tujuannya agar mobilitas warga berkurang. Mengingat angka kematian Covid-19 di Indonesia masih tergolong tinggi dibanding angka global. Selain itu, aturan larangan mudik tahun ini juga bertujuan untuk mengoptimalkan program vaksinasi yang sedang gencar dilaksanakan.

Mudik tahun ini masih berisiko untuk tertular atau menularkan Covid-19. Data per 8 Mei 2021 terdapat 1.709.762 kasus dengan kasus sembuh mencapai 1.563.917 orang dan meninggal 46.842 orang. Hal ini menunjukkan Covid-19 belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Jika mudik tidak dilarang, diperkirakan terdapat puluhan juta orang melakukan migrasi dari kota besar ke desa tempat tujuan para pemudik.

Dan perpindahan penduduk dalam sekejap ini dipastikan memicu kerumunan baik dalam angkutan perjalanan maupun di kampung halaman. Dari sekian orang yang mudik, ada orang yang tanpa gejala sehingga berisiko terjadi transmisi penularan kepada sanak saudara dan tetangga di desa. Berdasarkan pengalaman 2020, pada libur Idul Fitri tercatat terjadi kenaikan angka kasus hingga 93% dan peningkatan fatality rate hingga 66%.

Kita harus menyadari pandemi ini masih jauh dari terkendali. Munculnya varian baru virus seperti B1117, D164F dan N439K menjadi hal yang perlu terus diwaspadai. Nekat mudik sama halnya mengabaikan keselamatan sanak saudara di kampung halaman.

Kini, kebutuhan mudik pun bisa disiasati. Pemerintah merekomendasikan mudik tahun ini dilakukan secara virtual atau melalui platform media sosial. Kendati pertemuan secara virtual tidak bisa menggantikan pertemuan fisik, namun setidaknya kerinduan terhadap keluarga dan kampung halaman dapat sedikit terobati.

Selain secara infrastruktur teknologi sudah mulai menjamur, pandemi Covid-19 membuat publik saat ini juga mulai terbiasa melakukan banyak hal secara virtual. Sebab, hampir setiap orang, apalagi yang merantau dan yang ditinggal merantau, umumnya memiliki gadget memadai untuk melakukan komunikasi tatap muka jarak jauh, baik video call, maupun menggunakan aplikasi pertemuan yang lain. Dengan begitu mereka bisa saling berdialog secara langsung setiap waktu dengan melihat wajah atau fisik masing-masing melalui layar gadget.

Hanya masalahnya, apakah pihak operator layanan jaringan seluler sudah siap mendukung kelancaran komunikasi. Sebab, berdasarkan pengalaman masa-masa sebelumnya, saat lebaran sering jaringan telekomunikasi lelet karena banyaknya konsumen yang menggunakannya pada waktu bersamaan.

Hal semacam itu sudah berlangsung setiap tahun, sejak sarana komunikasi hanya untuk telepon dan SMS, sampai untuk telepon dan WA. Padahal kini gadget selain untuk telepon juga untuk komunikasi menggunakan gambar visual video. Meski pihak provider selalu menyatakan siap menghadapi lonjakan traffic saat lebaran, namun kenyataan yang terjadi sering tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Terkait hal ini, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate sudah memastikan jaringan telekomunikasi berkualitas dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di berbagai wilayah. Dengan menggandeng sejumlah operator layanan telekomunikasi seluler, Kementerian Kominfo akan menyediakan traffic paket data (bandwith) yang sangat besar. Semua itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tengah melakukan Lebaran virtual melalui aplikasi-aplikasi daring yang ada.

Pihak-pihak terkait (khususnya operator jaringan seluler) pasti juga sudah mempunyai peta berapa jumlah pengguna jaringan mereka di setiap wilayah, dan kemungkinan adanya penambahan pengguna yang datang. Dengan berbagai upaya antisipatif, saat masyarakat melakukan silaturahmi lebaran digital nanti tidak terjadi gangguan jaringan.

Kendati demikian, mudik secara virtual yang dianggap solusi atas kegaulauan publik terhadap larangan mudik tetap saja menyisakan kekeringan spiritualitas dan kekhidmatan peristiwa mudik tersebut. Barangkali jika pemerintah berani dengan kebijakan yang tidak melarang-larang melulu, mengapa tidak mencoba mengeluarkan kebijakan mudik dengan penerapan protokol kesehatan? Kebijakan tersebut mungkin akan menjadi win-win solution, ketimbang pelarangan yang kerap diikuti dengan sikap pembangkangan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya