Menyelamatkan Aset Bangsa dari Tindakan Kekerasan

Ibu Pekerja
Menyelamatkan Aset Bangsa dari Tindakan Kekerasan 27/07/2021 96 view Opini Mingguan suaramerdekasolo.com

“Anak-anak adalah masa depan bangsa, terus kreatif dan berprestasi” seperti itulah sepenggal pesan Sri Mulyani, Menteri Keuangan RI di akun instagram pribadinya dalam menyambut Hari Anak Nasional. Benar adanya bahwa anak sehat, cerdas dan berpendidikan adalah aset bagi suatu negara. Dan oleh karena itu, segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menciptakan anak-anak seperti yang dipesankan beliau harus dijamin keberadaannya oleh negara.

Namun sayangnya, dibalik keinginan untuk menjadikannya masa depan suatu negara kekerasan terhadap anak masih sering terjadi. Berbagai macam kekerasan baik verbal, fisik, perundungan dan penelantaran masih sering dialami oleh anak Indonesia. Kekerasan tersebut dapat dialami oleh seorang anak di mana saja seperti sekolah, lingkungan bahkan di rumah yang menjadi tempat yang paling aman dan nyaman bagi seorang anak. pelakunya bisa saja orang tak dikenal, guru, teman, saudara atau pun orang tua. Dan berdasarkan hasil Survei yang dilakukan oleh KPAI di tahun 2020, sebesar 79 persen dari 25.164 responden anak pernah mengalami kekerasan verbal yang dilakukan oleh ibunya sendiri.

Banyak hal yang menjadi alasan mengapa orang tua melakukan kekerasan kepada anaknya sendiri. Salah satunya adalah terlalu tingginya harapan dan cita-cita masa kecil orang tua yang tidak dapat dicapai yang dibebankan kepada anak. Merasa bahwa sebagai orang tua memiliki kewenangan penuh terhadap anak, terkadang mengabaikan hak yang harus didapat oleh anak. Belum lagi sifat iri akan keberhasilan anak lain, membandingkan anak dan obsesi orang tua untuk menciptakan anak menjadi “manusia unggul” membuat orang tua lupa bahwa setiap anak memiliki kemampuan dan kelebihan yang berbeda. Karena setiap anak adalah unik.

Mengambil jalan pintas dengan cara memasukkan anak ke berbagai kursus sepulang sekolah tanpa memperhatikan kebutuhan anak untuk bermain dan bergaul dengan teman sebayanya. Secara tidak langsung, orang tua telah merampas hak anak untuk mendapatkan kebebasan. Dan ketika apa yang telah dilakukan tidak mendapatkan hasil yang diinginkan oleh orang tua tentu saja timbul rasa kesal. Kata-kata bernada negatif pun terlontar dari mulut orang tua. Kekerasan verbal akhirnya terjadi sehingga lahirlah anak-anak yang tidak percaya diri dan kemarahan yang terpendam di dalam dirinya. Dan tak bisa dipungkiri hal tersebut akan menimbulkan efek domino bagi kehidupannya di masa yang akan datang dan kekerasan terhadap anak akan terus terjadi berulang-ulang.

Cerita di atas hanyalah salah satu contoh dari banyak kekerasan yang dilakukan oleh orang tua. Dan jika kita melihat lagi hasil survei yang telah dilakukan KPAI, jelaslah siapa sasaran pemerintah atau instansi terkait khususnya dalam mengatasi kekerasan terhadap anak. Edukasi mengenai kekerasan terhadap ibu atau orang tua sangatlah penting. Bisa jadi sebagian orang tua menganggap bahwa omelan atau bentakan akan membuat anak menjadi lebih baik. Namun ia tidak sadar bahwa ketika hal tersebut dilakukan berulang-ulang akan menimbulkan dampak buruk yang luar biasa terhadap anak.

Jaman sekarang dengan berbagai fasilitas yang ada, seminar ataupun konsultasi mengenai masalah parenting dan pengelolaan emosi lebih mudah ditemukan. Nasehat dari psikolog terkenal dapat kita dengar tanpa harus mengeluarkan uang. Namun saran di atas tidak berlaku untuk ibu atau orang tua yang masih bingung akan masak apa besok. Kesulitan ekonomi lebih membuat emosi orang tua tidak stabil sehingga mereka lebih rentan melakukan kekerasan terhadap anak.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah agar kekerasan terhadap anak dapat dicegah? Menitipkan pesan melalui sekolah di sela-sela pertemuan orang tua dan murid dapat dilakukan serta pemberdayaan aparat desa ataupun lingkungan terkecil seperti RT/RW agar lebih peka dengan keadaan masyarakat sekitar. Edukasi mereka secara langsung dan tentu saja dengan berbekal data yang ada, pemerintah dapat menentukan daerah mana yang lebih diprioritaskan. Selain itu juga dinas terkait dapat melakukan kampanye yang lebih intens baik di televisi atau papan reklame di pinggir jalan. Jangan kalah dengan iklan rokok yang terpampang hampir di setiap simpang lampu merah sambil berharap dapat merayu konsumen yang berhenti sebentar menunggu lampu berubah warna.

Kesulitan dalam memenuhi kehidupan sehari-hari juga menjadi salah satu pemicu timbulnya kekerasan pada anak. Sesuai dengan UUD 45 pasal 34 yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, maka pemenuhan kebutuhan hidup bagi masyarakat tidak mampu juga masih menjadi tanggung jawab pemerintah. Terlebih di masa pandemi yang belum juga usai, di mana terjadi PHK di mana-mana membuat masyarakat yang biasanya rentan miskin dan berada di atas sekitar garis kemiskinan menjadi masyarakat miskin yang berada di bawah garis kemiskinan. Masalah kemiskinan juga masih merupakan Pekerjaan Rumah besar pemerintah yang tak kunjung usai.

Dan satu lagi yang dapat dilakukan oleh keluarga dan masyarakat adalah jangan ragu untuk melaporkan kekerasan yang terjadi di sekitar. Serta pemulihan trauma pada anak korban kekerasan juga menjadi perhatian penting karena menjadi korban dari sebuah kekerasan bukan tidak mungkin akan menimbulkan dendam yang harus dilampiaskan kepada orang lain.

Semoga anak Indonesia merdeka dari kekerasan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya