Menunduk, Menjauhkan dari keluarga?

Mahasiswi S1 UIN Sunan Ampel Surabaya
Menunduk, Menjauhkan dari keluarga? 30/12/2022 43 view Budaya images.app.goo.gl

Pola hidup hingga budaya yang diterapkan di Indonesia kerap menjadi perbincangan, baik oleh masyarakatnya maupun dunia luar. Berbagai kondisi kehidupan yang selalu mengandalkan gadget di dalamnya menjadikan citra masyarakatnya yang harmonis mulai menurun. Beberapa pengaruh yang ditimbulkan akibat adanya globalisasi menyebabkan kedekatan antar anggota keluarga merenggang. Salah satunya disebabkan oleh canggihnya perkembangan teknologi saat ini. Istilah 'menunduk' kini dapat kita lihat di berbagai kesempatan.

Di sekeliling kita saja contohnya mulai dari anak di bawah usia, dengan dalih tidak ingin anaknya cranky si ibu justru menjejali si anak dengan gadget sehingga hal semacam ini menjadi kebiasaan yang nantinya dapat menjadikan tumbuh kembang si anak tidak dapat terlepas dari gadget.

Jika ditelaah lebih jauh, tidak sedikit masyarakat di dunia khususnya di Indonesia menggunakan gadget sebagai kebutuhan sehari-hari mereka. Mulai dari mencari bahan seminar, resep masakan, hingga mencari sumber pengetahuan. Mereka mendapatkan informasi melalui berbagai media online dalam gadget. Beberapa urusan yang bernilai sepele bahkan sepatutnya tak perlu dicari kerap kali menjadi alasan mengapa mereka menggunakan gadget.

Maka tidak heran jika kebanyakan orang merasa diri mereka sendiri di keramaian. Mengapa? Banyak peristiwa di sekitar kita yang dapat kita ambil sebagai contoh nyata dalam kehidupan kita, sebagai contoh sederhana saja dalam keluarga. Dalam kesehariannya, seorang ayah yang bekerja di kantor tentu tidak akan terlepas dari gadget ketika tiba di rumah, namun justru berbanding terbalik. Urusan yang ada di luar justru dibawa masuk ke dalam rumah dan hal ini menjadikan si ayah tidak sepenuhnya memperhatikan bagaimana kondisi di dalam rumahnya. Kemudian hal yang serupa terjadi pada ibu dan anak, ketika ibu tidak mendapatkan respon komunikasi yang baik dengan ayah, maka ia juga melakukan hal serupa dengan mencari kesibukan melalui gadget. Hingga pada akhirnya, anak yang menjadi korban keegoisan para orang tua yang hanya sibuk dengan urusan sosial mereka di luaran sana.

Rasa sepi yang dirasakan oleh anak tersebut serta adanya contoh nyata yang dilakukan oleh orang tuanya, menjadikan ia melakukan hal sebagaimana yang dilakukan oleh ayah dan juga ibunya. Sebagai seorang anak terutama bagi yang masih di bawah umur, ia mudah merekam apa yang ia lihat dan dari apa yang ia lihat itulah akan menjadi suatu peristiwa yang tidak asing bagi dirinya sendiri. Hingga pada akhirnya dengan kondisi anggota keluarga di dalam rumah yang serba gadget ini, terasa asing dan dingin antar sesama anggota keluarga.

Apapun kegiatan yang dilakukan di dalam rumah tidak terlepas dari adanya gadget, bahkan katika makan bersama pun mereka tetap menunduk dengan gadget yang ada pada genggaman tangannya masing-masing. Hal lainnya yang terjadi ketika adanya reuni pada satu keluarga, yang mana seharusnya ketika mereka lama tidak bersua ini dijadikan sebagai ajang untuk menyambung komunikasi mereka dengan saling bertanya kabar bukan malah menunduk asik dengan gadget yang mereka miliki dan hanya mengabadikan momen pertemuan itu dengan swafoto.

Budaya semacam itu rupanya tidak terjadi dalam satu atap saja, akan tetapi sudah menjalar bahkan menjadi budaya baru bagi masyarakat Indonesia. Kerasnya pengaruh globalisasi menjadikan perubahan yang cukup signifikan bagi keluarga kecil yang semula harmonis lambat laun menjadi acuh tak acuh. Tak sedikit persoalan mengenai mental health pada anak juga disebabkan karena mereka kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari para orang tua mereka.

Membangun budaya yang baik untuk dunia luar harusnya dimulai dengan kelompok yang kecil seperti keluarga. Dengan adanya budaya yang baik dari keluarga inilah yang nantinya akan dikembangkan di dunia luar dan akan menjadi sebuah gebrakan baru bagi Indonesia dengan budaya tidak menunduk.

Penulis juga menggarisbawahi adanya pengaruh budaya dari luar dalam bentuk gadget ini seharusnya dapat kita manfaatkan dan kita kelola dengan baik. Bukan malah menjadi penghalang komunikasi yang seharusnya terjalin baik tetapi justru menjadi renggang dengan adanya gadget di antara anggota keluarga. Pengaruh budaya dari luar yang baik kita terapkan, begitupun sebaliknya adanya pengaruh budaya yang buruk dari luar alangkah baiknya kita hindari agar tidak terjadi hal di luar dugaan kita. Ciptakan keluarga harmonis tanpa menunduk dan bangun komunikasi yang baik untuk budaya luar yang baik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya