Menumbuhkan Gerakan Filantropi untuk Indonesia Bersih Sampah 2025

Pemerhati Demokrasi dan Konstitusi RI
Menumbuhkan Gerakan Filantropi untuk Indonesia Bersih Sampah 2025 13/07/2020 1423 view Opini Mingguan pixabay.com

Menggunungnya sampah menjadi momok bagi kita dan generasi yang akan datang. Pasalnya, menumpuknya sampah itu membuat bumi kita menjadi sakit. Alhasil, perubahan iklim sulit ditebak, tak terkecuali longsor dan banjir tak dapat dihindari. Oleh karena itu, tantangan kita adalah memerangi tumpukan sampah tersebut.

Secara peringkat, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara penghasil sampah terbanyak di dunia, setelah China. Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2019), Indonesia ditafsirkan akan menghasilkan sampah sekitar 66-67 juta ton atau meningkat tiga juta ton dari tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 64 juta ton.

Untuk meminimalkan penumpukan sampah atau meningkatkan daur ulang sampah, pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, mengeluarkan Kebijakan dan Strategi Nasional (JAKSTRANAS) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Melalui kebijakan yang diterbitkan pada tanggal 23 Oktober 2017 itu pemerintah menargetkan bisa mengurangi sampah sebesar 30% di tahun 2025 dan dapat menangani tumpukan sampah sebelum ada kebijakan ini sebesar 70% pada 2025. Pendeknya, pemerintah menargetkan "Indonesia Bersih Sampah 2025".

Agar mimpi besar itu dapat terwujud maka, pemerintah pusat menggandeng pemerintah daerah mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota untuk dapat membuat kebijakan dan strategi daerah untuk menangani sampah terutama sampah plastik.

Sampah plastik sebenarnya punya potensi besar untuk didaur ulang. Pemanfaatannya bisa sebagai campuran aspal, energi listrik, atau pun diolah kembali menjadi bahan baku plastik. Merujuk data dari Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), dari 2,7 juta ton sampah plastik, baru sekitar 61,5 persen yang didaur ulang. Ini artinya, masih ada sekitar 1 juta ton sampah plastik yang dapat didaur ulang.

Sejauh ini, Indonesia masih berkutat pada permasalahan edukasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan plastik. Atau dengan kata lain, pemerintah hanya berputar pada hal menghimbau dan regulasi.

Kendati himbauan dan aturan berkaitan tentang pengurangan penggunaan plastik yang dilakukan pemerintah namun hasilnya masih belum terlihat hingga sekarang. Bukankah ini memprihatikan?

Bagi penulis, ini sungguh memprihatikan. Indikatornya dapat kita lihat bersama, tiap tahunnya Indonesia dapat membuat gunung-gunung baru dari sampah. Di samping, akhir-akhir ini banyak hewan laut mati karena terlalu banyak memakan sampah plastik. Pun sama, udara mulai tak sedap dan bahkan panas.

Atas peristiwa ini maka, mengurangi penggunaan plastik atau mengatasi persoalan sampah itu bukan menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tak terkecuali menjadi tanggung jawab kita bersama. Dengan kata lain, apabila terjadi lingkungan kurang bersih, banjir dan penyakit di mana-mana itu bukan kesalahan satu individu atau bahkan pemerintah. Tapi kita semua yang lalai dalam menjaganya. Oleh karena itu, mari kita belajar mencintai lingkungan dan hindari aktivitas-aktivitas yang bisa merusak lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan dan mengurangi penggunaan produk dengan bahan plastik.

Atas dasar itulah kita tahu bahwa, menjaga lingkungan agar tetap sehat dan bersih dari tumpukan sampah itu merupakan tugas kita bersama. Ibaratnya, jika bumi ini sakit karena tumpukan sampah yang berserakan maka imbasnya bukan ke siapa, tapi kita. Jika memang demikian, apakah hati kecil kita ini tidak mau tergerak untuk menjaga dan merawat bumi dari menggunungnya sampah?

Sungguh ironis apabila dari kita tak perduli atas kondisi bumi yang kian menua. Tak ayal apabila seringkali terjadi longsor dan banjir di bumi Pertiwi ini. Oleh karena itu, sebagai makhluk yang turut mengambil keuntungan atas bumi seperti air, udara, hasil bumi maupun hasil perut bumi maka menjaga bumi tetap sehat itu merupakan suatu hal yang harus dilakukan.

Hal ini seharusnya menjadi kesadaran bersama bahwa bumi yang kita tumpangi ini berhak meminta kepada kita untuk dirawat. Perawatannya tidaklah sulit, dalam konteks ini, cukup tidak membuang sampah sembarang dan mengurangi penggunaan produk dengan bahan plastik.

Dengan menjaga lingkungan bebas dari sampah itu sama halnya kita telah membantu pemerintah untuk mewujudkan "Indonesia bersih sampah 2025" atau lebih tepatnya, membantu generasi yang akan datang untuk mendapatkan kesempatan yang sama yakni lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya