Menumbuhkan Budaya Literasi melalui Dongeng

Menumbuhkan Budaya Literasi melalui Dongeng 09/09/2020 750 view Pendidikan pijarnews.com

Literacy is more than the ability to read and write. It involves the knowledge, skills and abilities — the competencies — that enable individuals to think critically, communicate effectively, deal with change and solve problems in a variety of contexts to achieve their personal goals, develop their knowledge and potential, and participate fully in society” (Alberta, 2010).

Kutipan Government of Alberta di atas merepresentasikan pandangannya terhadap literasi. Dituliskan bahwa literasi tidak hanya menyoroti kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup beberapa aspek penting yaitu: (1) Membentuk karakter individu untuk berfikir kritis; (2) Dapat berkomunikasi dengan efisien; (3) Mampu memecahkan masalah dalam berbagai konteks. Berdasarkan pandangan tersebut, literasi menjadi penting yang perlu dimiliki individu. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan budaya literasi sejak dini, khususnya bagi generasi milenial.

Generasi milenial adalah generasi yang lahir antara tahun 1980-2000 dan memiliki beberapa sebutan, yaitu Gen-Y, Net Generation, Generation WE, dan lain-lain. Lebih lanjut, Net Generation atau yang biasa disebut digital native merupakan generasi yang lahir di era pertumbuhan dan perkembangan budaya digital, salah satu karakteristiknya ditandai dengan kemudahan individu menikmati informasi berbasis online secara cepat. Dengan demikian, generasi milenial dapat memperoleh informasi dengan cepat sesuai dengan karakteristik digital native.

Kemudahan dalam era digital native dapat menimbulkan berbagai efek negatif bagi generasi milenial. Hal ini saya alami sebagai salah satu generasi milenial. Era digital native membuat saya menjadi ‘budak media sosial’. Salah satu buktinya adalah setiap detik saya mengakses platform digital dan memperhatikan informasi tersebut. Efek negatif yang saya rasakan adalah tidak cermat dalam menelaah isu sehingga mudah terprovokasi oleh informasi yang disampaikan.

Penelitian yang dilakukan Center for The Study of Religion and Culture Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (CSRC UIN) tahun 2018 menyebutkan bahwa sebagian besar generasi milenial terjebak dalam pemahaman radikal dan intoleransi. Kesalahpahaman generasi milenial dalam menginterpretasikan ajaran tertentu harus diatasi agar menumbuhkan generasi milenial yang peka literasi dan berkarakter sesuai nilai luhur bangsa Indonesia.

Budaya literasi merupakan unsur terpenting dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Adapun tiga pilar pembangunan SDM Indonesia yaitu layanan dasar dan perlindungan sosial, produktivitas dan pembangunan karakter. Aspek pembangunan karakter meliputi: (1) Revolusi mental dan pembinaan ideologi Pancasila; (2) Pemajuan dan pelestarian kebudayaan Indonesia; (3) Memperkuat moderasi beragama; dan (4) Budaya literasi, inovasi dan kreativitas. Lebih lanjut, budaya literasi perlu ditanamkan kepada anak (red:generasi milenial) sejak dini agar anak dapat memiliki karakter yang baik sehingga cita-cita bangsa ini tercapai. Dengan demikian, budaya literasi merupakan unsur terpenting dalam pembangunan SDM Indonesia.

Menelisik paradigma antropologi, antropolog James P Spradley mengatakan bahwa budaya terdiri dari pengetahuan yang diperoleh sekaligus digunakan untuk menafsirkan pengalaman dan menghasilkan perilaku sosial. Pemerolehan pengetahuan membutuhkan agen tertentu sebagai pihak yang mentransmisikan pengetahuannya tersebut dalam kelompok masyarakat. Berkaitan dengan pembahasan budaya literasi, salah satu agen yang berperan penting untuk menumbuhkan budaya literasi adalah keluarga.

Secara sosiologis, peran keluarga sangat penting sebagai agen sosialisasi dalam perkembangan anak. Pada tahap awal ini, orangtua berperan mengajarkan moral dan perilaku prososial kepada anak. Aspek moral meliputi kemampuan memahami orang lain, menghargai perbedaan orang lain, bersikap empati dan menolong sesama. Sedangkan, perilaku prososial meliputi pengajaran sikap kepeduliaan kepada anak agar mampu berperan dalam kelompok masyarakat saat memasuki usia dewasa. Pembentukan budaya literasi dapat dibentuk melalui penerapan peran prososial oleh orang tua. Salah satu media untuk menerapkan peran tersebut adalah dongeng (Widayanti, 2016).

Dongeng memiliki manfaat bagi anak khususnya dalam mengembangkan budaya literasi. Pertama, dapat menimbulkan rasa ingin tahu. Cerita yang digambarkan dalam dongeng seringkali menggambarkan isi cerita atau tokoh yang tidak biasa. Hal ini dapat mendorong rasa ingin tahu anak untuk mencari tahu lebih lanjut. Gambar dan perumpamaan yang unik juga dapat mendorong anak untuk mengeksplorasi lebih lanjut cerita tersebut atau menggugah anak untuk mengetahui cerita lain yang serupa. Rasa ingin tahu serta minat untuk mengeksplorasi lebih jauh pada akhirnya dapat menumbuhkan kebiasaan membaca.

Kedua, dapat mengembangkan sisi imajinatif dalam anak. Isi cerita dan tokoh yang tidak biasa dapat melatih kemampuan imajinasi anak sehingga membantu mengembangkan rasa ingin tahu dan minat untuk eksplorasi cerita dongeng lainnya.

Ketiga, dapat mengajarkan budi pekerti bagi anak. Dongeng memiliki pesan moral yang berbeda-beda dan disampaikan melalui alur cerita atau perumpamaan tokoh fiksi dalam dongeng tersebut. Pesan moral ini berfungsi sebagai budi pekerti yang harus dimiliki oleh anak.

Jika menggabungkan antara isi cerita yang menarik, visualisasi cerita yang imajinatif serta sarat akan nilai moral, dongeng dapat menjadi media yang baik untuk mengembangkan budaya literasi pada anak. Ketiga manfaat dongeng ini diharapkan dapat menimbulkan rasa ingin tahu dan minat eksplorasi. Hal ini akan mendorong anak untuk membaca cerita atau pengetahuan lain terkait dengan cerita yang ingin diketahui.

Lama-kelamaan, seiring proses pencariannya, akan tumbuh minat membaca dan kemampuan membaca serta memproses informasi akan terlatih sehingga membentuk budaya literasi. Dengan demikian, mendongeng yang dilakukan oleh orang tua memberikan efek positif bagi anak untuk menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Selain itu, kebiasaan mendongeng juga dapat melatih anak untuk menjadi pendengar yang baik dan mencegah anak melakukan penyimpangan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada era digital native, kegiatan mendongeng tetap bisa dilakukan. Hal ini dapat dilakukan melalui pembiasaan budaya membaca dan membentuk perpustakaan di rumah. Selain itu, di tengah arus perkembangan teknologi, orang tua dan anak dapat mengisi waktu luang dengan mendongeng melalui platform digital dan mengajak anak ke toko buku.

Budaya literasi dapat ditumbuhkan melalui keluarga sebagai agen sosialisasi primer. Tidak ada kata terlambat untuk menumbuhkan budaya literasi apabila orang tua dan anak saling bersinergi. Budaya literasi dapat tercipta melalui cara sederhana misalnya melalukan pembiasaan mendongeng. Diharapkan melalui pembiasaan mendongeng, sang anak tumbuh menjadi pribadi yang sesuai dengan karakter bangsa ini.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya